Direktur Utama Ririek Adriansyah

Jakarta, Selular.ID – Industri selular sepanjang 2018 berada dalam tekanan. Seluruh operator mengalami penurunan pendapatan, sehingga menyebabkan negative growth. Ini adalah kali pertama, industri selular tumbuh minus. Pada 2016 masih tumbuh 10% dan 9% di 2017.

Ririek Adriansyah, Dirut Telkomsel menyebutkan bahwa negative growth diprediksi mencapai 5% pada akhir 2018. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi sebagai dampak dari tiga persoalan utama.

BACA JUGA:
Pamerkan Layanan Masa Depan, Telkomsel Gelar IdeaFest x The NextDev

“Pertama, kebijakan registrasi prabayar yang membuat jumlah pengguna menciut drastis. Kedua, menurunnya penggunaan legacy service (SMS dan voice). Ketiga, perang tarif khususnya data yang tak kunjung usai”, papar Ririek saat menyampaikan prediksi industri dalam Markplus Conference 2018, di Jakarta (6/12/2018).

Ririek mengatakan, trend negative gowth menjadi keniscyaan bagi industri, khususnya operator. Meski demikian, pihaknya optimis pada 2019 pertumbuhan industri akan kembali meningkat, mengingat komunikasi sudah menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat, terutama layanan data yang telah menggeser basic service. Di sisi lain, revenue operator telah mengalami perbaikan karena program registrasi prabayar.

BACA JUGA:
Pemenang The NextDev Sabet Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sebelumnya, fakta bahwa industri selular sudah negative growth sudah disuarakan oleh Dirut XL Axiata Dian Siswarini.

Dalam paparan kinerja sepanjang semester 1-2018, Dian mengungkapkan pertumbuhan minus terjadi baik dari sisi pendapatan maupun Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA).

“Secara industri, negative growth terjadi di pendapatan, yakni minus 12,3% dan EBITDA minus 24,3%”, katanya.