Jakarta, Selular.ID – Fenomena order fiktif (ofik) dan fake GPS (tuyul) di platform transportasi online masih saja terjadi. Dalam melancarkan aksinya, para driver nakal menggunakan aplikasi fake GPS untuk memanipulasi order.

Platform transportasi online seperti Gojek dan Grab sudah melakukan sejumlah cara untuk memerangi ofik dan tuyul tersebut. Beragam cara dilakukan Grab dan Gojek untuk menekan ofik dan tuyul seperti meluncurkan teknologi anti tuyul, memperingatkan driver agar tidak melakukan kecurangan, men-suspend driver yang melakukan ofik dan sebagainya.

Namun kenyatannya, ofik dan tuyul masih saja dilakukan oleh driver Grab dan Gojek. Bahkan beberapa waktu lalu, sejumlah driver Gojek di beberapa wilayah di Indonesia melakukan unjuk rasa terkait kebijakan tersebut.

Unjuk rasa ini sebagai bentuk protes atas kebijakan perusahaan yang men-suspend driver yang terbukti melakukan ofik dan tuyul. Suspend tersebut jelas dinilai merugikan bagi para driver sehingga mempengaruhi pendapatan mereka. Terkait demo tersebut Redaksi Selular.ID meminta tanggapan dari pihak Gojek melalui surat elektronik (surel) dan pesan singkat.

“Terkait aspirasi mitra driver mengenai penggunaan GPS palsu di kota Bandung minggu lalu, kami sampaikan bahwa Gojek senantiasa menjunjung prinsip keadilan dan kejujuran. Penggunaan aplikasi GPS palsu merugikan mitra sendiri dan juga mitra lainnya yang bekerja dengan jujur. Kami telah menjalankan kebijakan #HapusTuyul atau hapus aplikasi GPS palsu di Jakarta, Bandung, Pontianak, Tegal, Surabaya, Medan dan Balikpapan sejak Maret 2018. Ini merupakan langkah awal kami untuk memastikan ruang bekerja yang bersih, jujur dan adil bagi para mitra,” ujar Michael Say, VP Corporate Affairs Gojek kepada Selular.ID melalui keterangan tertulisnya.

BACA JUGA:
Top 5 Mobile Payment di Indonesia 2018

Dikatakan Michael, saat ini pihaknya telah berhasil menurunkan angka pengguna GPS palsu lebih dari setengahnya.

“Dalam beberapa waktu ke depan, Gojek juga akan menerapkan teknologi anti tuyul dan ofik berupa sistem pengalokasian order yang diperbaharui. Sehingga driver yang tidak berlaku curang akan mendapatkan lebih banyak order. Kami juga selalu menghimbau agar mitra driver menghentikan penggunaan GPS palsu karena dapat menganggu keamanan data dari akun mitra itu sendiri,” jelas Michael.

Sejauh ini, Gojek telah berhasil mengidentifikasi dan menangani ofik, sekitar 90% berhasil dihentikan sebelum sampai ke aplikasi mitra pengemudi Gojek seperti disampaikan Michael.

“Data kami mencatat bahwa 80% daripada sebaran order fiktif terkonsentrasi di wilayah tertentu saja. Tentunya, sistem kami akan terus diperbaharui sehingga permasalahan ini dapat diselesaikan secara menyeluruh supaya tidak menganggu aktivitas para mitra,” tandas Michael.

Redaksi Selular juga meminta tanggapan kepada Grab Indonesia terkait penanganan ofik dan tuyul.

Untuk memerangi ofik dan tuyul, Grab telah meluncurkan program Grab Lawan Opik yang diluncurkan Grab pada awal 2018 lalu. Selain itu, Grab juga meluncurkan fitur Anti Tuyul dan Selfie Authentication khusus untuk aplikasi Grab bagi mitra pengemudi.

“‘Grab Lawan Opik! merupakan program berskala nasional yang dijalankan yang memanfaatkan sistem deteksi risiko dan kecurangan Grab yang dapat mendeteksi aktivitas kecurangan. Sistem ini menggunakan teknologi machine learning yang canggih dan terus berkembang untuk mengidentifikasi dan melawan metode baru yang mungkin timbul. Melalui program ini, aktivitas ilegal yang terdeteksi oleh sistem manajemen risiko dan kecurangan yang dimiliki Grab akan dilaporkan lebih lanjut ke pihak kepolisian setempat untuk proses penyelidikan,” ucap Tri Sukma Anreianno, Head of Public Affairs Grab Indonesia melalui keterangan resminya.

BACA JUGA:
Layanan Roda Empat Gojek Mulai Beroperasi di Singapura

Diungkapkan Tri, mulai Juni 2018, gabungan program dan fitur yang telah kami luncurkan untuk memerangi order fiktif telah mengurangi tindak kecurangan dalam platform Grab sebanyak 80%.

“Riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa platform Grab dua kali lebih tangguh dalam menghadapi tindak kecurangan dibandingkan kompetitor lain di Asia Tenggara. Program dan teknologi ini ditujukan untuk melindungi mitra pengemudi Grab dari potensi berkurangnya penghasilan mereka,” ucap Tri Sukma Anreianno, Head of Public Affairs Grab Indonesia melalui keterangan resminya.

Grab mengatakan pihaknya sudah memanfaatkan teknologi machine learning (pembelajaran mesin) dan artificial intelligence (kecerdasan buatan/AI) untuk mendeteksi aplikasi fake GPS dan order fiktif.

Sebelum Gojek, Grab lebih dulu meluncurkan teknologi anti ofik dan tuyul. Disampaikan Tri, Grab merupakan platform penyedia layanan transportasi on-demand pertama yang mengambil sikap tegas terhadap ofik dengan fitur Anti Tuyul. Program ini adalah bagian dari komitmen Grab untuk menyediakan platform transportasi teraman bagi para mitra pengemudi dan penumpangnya.

“Fitur Anti Tuyul dan Selfie Authentication ini terbukti menurunkan ofik dan tuyul yang dilakukan driver curang. Sebagian besar mitra pengemudi Grab mengikuti sistem Grab yang adil dimana pemesanan perjalanan dialokasikan ke mitra pengemudi Grab terdekat di daerah tersebut. Para mitra pengemudi juga mendapatkan insentif atau penghasilan tambahan berdasarkan jumlah perjalanan yang mereka selesaikan,” imbuh Tri.

Diterangkan Tri, kehadiran fitur Anti Tuyul dan Selfie Authentication ini dalam aplikasi driver Grab versi terbaru mampu mendeteksi driver yang memiliki aplikasi fake GPS di perangkat mereka.

BACA JUGA:
SoftBank Kucurkan Dana ke Grab Senilai Rp 21,8 Triliun

“Setelah terbukti menggunakan fake GPS, atau lebih dikenal dengan sebutan Tuyul untuk melakukan tindak kecurangan dengan mengelabui GPS dengan menentukan lokasi palsu, akan diblokir dari platform Grab. Mitra pengemudi harus menghapus seluruh aplikasi fake GPS dari untuk memperoleh kembali akses terhadap akunnya sebagai mitra pengemudi Grab,” tegas Tri.

Grab juga meluncurkan fitur Driver Authentication yang ditambahkan pada aplikasi mitra pengemudi pada Agustus 2018 lalu.

“Melalui fitur ini, para mitra pengemudi diwajibkan untuk mengambil dan mengunggah foto selfie sebelum memulai atau meneruskan perjalanan. Ini untuk memastikan bahwa hanya pengemudi yang terverifikasi yang menggunakan akun tersebut,” tandas Tri.

Diutarakan Tri, pihak Grab akan memberikan hukuman berat kepada mitra pengemudi yang melanggar peraturan dan kode etik Grab, termasuk kepada mereka yang terlibat dalam praktek penipuan seperti order fiktif.

“Kami tak segan untuk men-suspend driver yang terbukti melakukan ofik dan tindak kejahatan lainnya. Berkat kehadiran fitur Anti Tuyul dalam aplikasi Grab versi terbaru, mitra pengemudi harus menghapus seluruh aplikasi fake GPS dari perangkat yang bersangkutan untuk memperoleh kembali akses terhadap akun mitra pengemudi Grab sehingga meminimalisir potensi terjadinya tindak kecurangan. Grab juga bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat untuk menggagalkan aksi kelompok pengemudi yang tidak bertanggung jawab di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Semarang dan Makassar,” tutur Tri.

Sejauh ini memang terbukti Grab lebih serius dalam memerangi ofik. Terbukti dengan fitur Anti Tuyul dan Selfie Authentication yang diluncurkan Grab dan telah mengurangi ofik. Sementara Gojek belum memiliki teknologi atau sistem khusus yang mendeteksi ofik dan tuyul.