Jakarta, Selular.ID – Kasus pencurian data di dunia maya kian meningkat. Korbannya pun semakin bertambah.

Studi baru dari Kaspersky Lab menunjukkan bahwa walaupun identitas digital kita mungkin tidak bernilai banyak jika diuangkan. Namun, identitas digital merupakan aset penting bagi para pelaku kejahatan siber yang dapat digunakan dengan cara lain.

Pelaku kejahatan siber biasanya melakukan pencurian data dari layanan populer termasuk melalui akun media sosial dan akses jarak jauh ke situs web game. Identitas digital yang dijual termasuk data dari akun media social yang dicuri, rincian perbankan, akses jarak jauh ke server atau desktop bahkan data dari layanan populer seperti Uber, Netflix dan Spotify. Selain itu, situs web game, aplikasi kencan dan situs porno yang mungkin menyimpan informasi kartu kredit kerap kali menjadi sasaran pencurian data.

BACA JUGA:
Waspada Serangan Trojan Berkedok Software

Terkadang para pengguna tidak menyadari pentingnya data mereka dan tidak memperhatikan perlindungan data mereka. Inilah yang menjadi celah para hacker sehingga dapat dengan mudah mencuri data dan melakukan kejahatan lainnya.

Data yang dicuri karena lemahnya kesadaran pengguna dapat menyebabkan masalah besar bagi individu. Akibat yang ditimbulkan dari pencurian data ini adalah kehilangan uang dan reputasi.

Bisa juga dikejar pembayaran hutang yang timbul atas nama individu padahal dilakukan oleh orang lain. Parahnya lagi, korban yang dicurigai datanya tersebut bahkan dicurigai melakukan kejahatan yang tidak dilakukan karena identitasnya dicuri sebagai kedok.

BACA JUGA:
Kaspersky Lab : Pengguna Smartphone Khawatir Saat Tidak Ada Internet

Kaspersky Lab menyelidiki pasar Dark Web untuk mencari tahu berapa besar nilai data pribadi dan bagaimana data tersebut digunakan oleh para pelaku kejahatan siber. Peneliti menemukan bahwa pelaku dapat menjual kehidupan digital seseorang yang lengkap dengan harga kurang dari USD 50 atau setara Rp 733. Harga jual satu akun yang diretas bernilai lebih rendah dengan kisaran USD 1 atau setara Rp 14 ribu per akun.

BACA JUGA:
Kaspersky Lab : 75% Orang Menghindari Interaksi dengan Gadget

Pelaku juga menawarkan diskon untuk pembelian dengan jumlah banyak. Menariknya, beberapa pelaku penjual data memberikan garansi seumur hidup kepada pembelinya. Jika satu akun berhenti berfungsi, pembeli akan menerima akun baru secara gratis.

Cara yang paling sering digunakan untuk mencuri data semacam ini adalah melalui kampanye phising spear atau dengan mengeksploitasi kerentanan keamanan dalam perangkat lunak aplikasi. Setelah serangan berlangsung sukses, pelaku akan mendapatkan kumpulan data berisi kombinasi email dan kata sandi untuk layanan yang diretas. Dengan banyaknya orang memasang kata sandi yang sama untuk beberapa akun, pelaku juga sangat mungkin untuk menggunakan informasi tersebut dalam upaya mengakses akun di platform lainnya.

BACA JUGA:
Data Facebook Anda Diretas? Segera Lakukan Ini

“Sangat jelas bahwa peretasan data adalah ancaman besar bagi kita semua. Ini berlaku baik untuk individu dan masyarakat, karena data yang dicuri ini dapat mendanai banyak kejahatan sosial. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah pencurian data seperti dengan menggunakan perangkat lunak keamanan siber. Apalagi mengingat banyaknya data yang dibagikan secara gratis khususnya pada profil media sosial yang tersedia secara publik atau untuk organisasi,” ujar David Jacoby, Peneliti Keamanan Senior di Kaspersky Lab melalui keterangan resminya.