Jakarta, Selular.ID – Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS yang hari ini sudah menembus angka Rp15 ribu/USD dikhawatirkan akan berakibat buruk terhadap penurunan kinerja industri selular.

Reza Priyambada, Pengamat Pasar Modal, menilai tantangan bagi operator kala nilai tukar rupiah melemah adalah menghadapi biaya operasional yang tinggi. 

“Apalagi kalau ada peralatan yang sistemnya sewa dan bayar dengan dollar AS. Belum lagi jika ada kewajiban Bond atau lainnya dalam bentuk dollar AS. Jika simpanan dollar AS gak cukup bisa missmatch,” analisanya.

Diharapkannya, dengan meredanya perang tarif sejak semester pertama 2018 akan membantu operator menghadapi sisa semester dua 2018. 

“Adanya penyesuaian tarif bisa membantu mengurangi dampak perang tarif. Ditambah promosi yang menarik, orang akan mau ambil paket yang ditawarkan oleh operator karena merasa mendapat lebih. Operator harus bisa menggenjot pendapatan dari data dan internet untuk menutupi penurunan pendapatan voice dan SMS,” tutupnya.

BACA JUGA:
Cara Beli Huawei Mate 20 Pro Seharga Rp1

Menghadapi situasi seperti ini, Asosiasi penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyatakan para anggotanya sudah menyiapkan sejumlah jurus untuk mengantisipasi penurunan kinerja industri seluler karena faktor makro ekonomi terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sudah menembus angka Rp15ribu/dollar AS.

“Penurunan kinerja “Telco” sudah diantisipasi. Kita harapkan bahwa penguatan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah tidak menambah buruknya angka penurunan dimana hingga semester I 2018 industri ini sudah negative growth,” ungkap Wakil Ketua Umum ATSI Merza Fachys kepada rekan media di Jakarta, Kamis (27/9).

Diakuinya, masa sekarang merupakan “tahun sulit” bagi industri selular karena ada faktor makro ekonomi dan regulasi yang membuat pelaku usaha melakukan konsolidasi dalam strategi bisnis. “Tetapi saya percaya masing-masing operator ada jurus selamatnya dan nanti akan more than survive dari kondisi sulit ini,” ucapnya.

Sebagai informasi, sepanjang semester pertama 2018 operator di Indonesia kinerjanya tertekan selain faktor makro ekonomi dan regulasi juga karena adanya perubahan perilaku pelanggan yang banyak menggunakan produk substitusi messenger shingga menggerus pendapatan suara dan SMS. 

BACA JUGA:
Dua Faktor Ini Membuat Hermawan Kartajaya Takjub Terhadap Telkomsel

Telkom membukukan keuntungan sebesar Rp8,7 triliun di semester pertama 2018 (H1-2018) atau turun 28,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp12,1 triliun.

Operator pelat merah ini membukukan pendapatan sebesar Rp64,37 triliun pada semester I 2018 naik tipis 0,5% dibanding periode sama tahun lalu sebsar Rp64,02 triliun.

Andalan Telkom di seluler, Telkomsel, sepanjang semester pertama 2018 meraih pendapatan sebesar Rp42,7 triliun turun 7,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp45,99 triliun. Laba bersih sepanjang semester pertama 2018 hanya Rp11,7 triliun anjlok 24,4% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp15,5 triliun.

Indosat paling tertekan dimana anak usaha Ooredoo ini di periode berakhir Juni 2018 hanya memiliki pendapatan sebesar Rp11 triliun anjlok 26,8% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp15,11 triliun. Dampak dari buruknya kinerja operasional terasa di bottom line dimana pada periode semester I 2018 perseroan mengalami kerugian Rp693,7 miliar berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang untung Rp784,2 miliar.
 
XL Axiata masih meraih pendapatan sebesar Rp11,06 triliun sepanjang semester I 2018 atau naik 1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp10,95 triliun. XL Axiata mencatat kerugian sebesar Rp 82 miliar di semester pertama 2018 berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang mencicipi laba Rp 143 miliar.

BACA JUGA:
Kota Mataram Jadi Modern Broadband City Telkom

Berdasarkan laporan keuangan hingga semester pertama 2018, Telkomsel malah menikmati laba kurs sebesar Rp48 miliar, sementara Indosat dan XL mengalami rugi kurs masing-masing Rp112 miliar dan Rp44 miliar.

Debt to Equity Ratio (DER) dari pemain pun masih “sehat” alias masih bisa mencari pendanaan dimana Telkomsel sebesar 58%, Indosat (142%), dan XL (62%).