Jakarta, Selular.ID – Pertumbuhan market Xiaomi terus melesat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Ini ditandakan dengan jumlah pengiriman barang dan daya beli masyarakat Indonesia cukup besar terhadap Xiaomi. Berkat ini, Xiaomi berhasil menduduki peringkat kedua dalam Indonesia Top 5 Smartphone Companies Q2 2018 yang dirilis International Data Corporation (IDC).

Data terbaru IDC tersebut mencatat market share Xiaomi sebesar 25% selama kuartal kedua (Q2) 2018. Angka ini cukup mengejutkan, karena di tahun sebelumnya di 2017, market share Xiaomi hanya 3%.

Kemudian melesat tajam di Q2 2018 ini. Pertumbuhan dari tahun-ke-tahun (year-on-year) sebesar 838,8%.

Xiaomi sebagai “kuda hitam” yang telah melewati berbagai tantangan pertumbuhan di masa lalu dan berhasil menduduki posisi kedua pengiriman smartphone terbesar di Indonesia.

BACA JUGA:
Awas! Smartphone Xiaomi Pancarkan Radiasi Terbanyak

Bertolak belakang dengan Oppo dan Vivo, kegiatan marketing campaign Xiaomi jauh lebih sederhana serta memberikan keuntungan yang lebih sedikit untuk mitra distribusinya dan mampu memberikan perangkat dengan rasio price-to-spec yang lebih kompetitif, sehingga memberikan konsumen value-for-money yang lebih baik.

“Dengan menerapkan strategi ini, Xiaomi berhasil memperoleh market share dan mind share yang signifikan,” jelas Risky Febrian, Market Analyst, IDC Indonesia, melalui keterangan tertulis yang diterima Selular.ID.

Namun banyak beredar kabar bahwa tingginya market share dan total pengiriman produk Xiaomi di Indonesia didominasi oleh ponsel Black Market (BM) yang secara ilegal masuk ke Indonesia. Untuk membuktikan hal tersebut, kami menanyakan kepada Risky Febrian, Market Analyst, IDC Indonesia melalui pesan singkat.

BACA JUGA:
Strategy Analytics : Kinerja Xiaomi Anjlok Sepanjang 2018

“Data IDC hanya mencakup legal market saja, jadi tidak termasuk pasar BM. Pasar ponsel BM secara umum masih cukup besar di Indonesia. Tapi kebanyakan ponsel BM ini didorong oleh produk yang memang tidak beredar resmi di Indonesia,” ujar Risky melalui pesan singkatnya kepada Selular.ID.

Sayangnya, IDC tidak memiliki data seberapa besar peredaran ponsel BM di Indonesia.

“Seperti misalnya pada Xiaomi, banyak juga beredar model Mi series di pasar BM karena memang tidak tersedia secara resmi disini. Hal ini dikarenakan banyak konsumen yang tidak bisa membedakan mana ponsel resmi dan ponsel BM, hingga akhirnya memutuskan membeli ponsel BM karena tertarik dengan harganya yang jauh lebih murah,” jelas Risky.

BACA JUGA:
Samsung: Galaxy M Series Bukan untuk Melawan Xiaomi

Disampaikan Risky, sejauh ini lini produk Xiaomi di segmen ultra low end dengan kisaran harga USD100 atau setara Rp1,5 juta masih mendominasi pasar Indonesia.

“Seri Redmi 5A paling banyak diminati masyarakat Indonesia. Secara umum memang volumenya Xiaomi masih cukup besar dibandingkan dengan brand lain seperti Samsung, Oppo atau Vivo. Karena memang pada dasarnya masih banyak juga model ponsel Xiaomi yang tidak tersedia secara resmi di Indonesia,” tutup Risky.