Saturday, April 20, 2019
Home Chatting Tantangan Bisnis Digital, Bagaimana Telkomsel Mensiasatinya?

Tantangan Bisnis Digital, Bagaimana Telkomsel Mensiasatinya?

Wawancara Irfan Tachrir, Direktur HCM Telkomsel

-

Jakarta, Selular.ID – Industri selular saat ini tengah berada pada fase dimana layanan yang dihadirkan sudah sangat jauh berbeda dengan core business yang telah dijalani oleh operator selama puluhan tahun.

Seperti diketahui, pasca layanan telekomunikasi dasar seperti voice dan SMS terpenuhi, maka kebutuhan masyarakat selanjutnya meningkat pada layanan yang berpusat pada data. Alhasil, digital business diyakini akan menjadi primadona di masa datang.

Dengan adanya perubahan tersebut operator diharuskan untuk mampu menemukan kurva pertumbuhan kedua. Menjadi digital telecommunication company pun diyakini menjadi jalan keluar.

Namun demikian, target menjadikan digital business sebagai mesin pendapatan baru, ternyata menemukan tantangan yang tak ringan. Alih-alih konsisten mengejar kurva tersebut, sejumlah operator memutuskan untuk tidak melanjutkannya karena berbagai pertimbangan, terutama beban cost yang tinggi sehingga merusak EBITDA.

Berbeda dengan operator lain, Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel menyatakan pihaknya akan terus melanjutkan bisnis digital yang dikembangkan oleh perusahaan yang dipimpinnya.

“Kita akan teruskan, tidak ada rencana untuk menghentikan bisnis digital kami,” ungkap Ririek Adriansyah dalam satu kesempatan.

Bertepatan dengan ulang tahun ke-23 pada 26 Mei 2018, Telkomsel tetap berkomitmen untuk terus melanjutkan transformasi digital dengan mengembangkan ekosistem digital melalui penggelaran jaringan broadband yang berkualitas di seluruh wilayah Indonesia dan mendorong adopsi layanan digital oleh masyarakat Indonesia.

Bisnis digital menjadi kontributor pertumbuhan Telkomsel yang signifikan sesuai fokus perusahaan untuk tetap menjadi yang terdepan dalam membangun ekosistem digital yang produktif berbasis Device, Network, dan Application (DNA).

Pada kuartal pertama 2018, bisnis digital Telkomsel tumbuh 24,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan ini berkontribusi terhadap 48% dari total pendapatan Telkomsel atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 37,7%.

Teknologi, pasar dan perilaku konsumen akan selalu berkembang sesuai tuntutan jaman. Meski demikian, kompetisi ketat antar operator dan pemain lainnya seperti yang terjadi saat ini, esensi adalah pertarungan sumber daya manusia (SDM).

Dapat dipastikan, operator dengan SDM mumpuni dan memiliki kompetensi digital, akan mampu survive dan memenangkan pertarungan yang semakin sengit di masa datang.

Untuk melihat lebih jauh kesiapan serta strategi yang dikembangkan Telkomsel dalam mengembangkan bisnis digital, Selular berkesempatan untuk mewawancarai Direktur HCM (Human Capital Management) Telkomsel Irfan Tachrir. Berikut nukilannya.

Transformasi operator dari legacy ke bisnis digital menimbulkan uncertainty. Revenue operator tidak sebanding dengan cost yang dikeluarkan. Sebenarnya apa yang tengah terjadi?

Kita ketahui kemajuan teknologi tidak bisa dibendung. Bisnis operator sangat tergantung dengan teknologi. Jika ada teknologi baru tentu akan ada produk baru yang keluar. Sejarah mencatat, dari teknologi pertama yakni 2G, layanan yang dinikmati masyarakat cuma voice. Kemudian setelah voice ada tambahan SMS didalamnya.

Saat SMS tumbuh ada bisnis lain yang mati, yaitu bisnis pager. Begitu kita bergerak dari 2G ke EDGE yang merupakan jembatan menuju 3G, mulai ada sedikit gambar. Di sini perilaku dan gaya hidup pengguna mulai berubah. Kamera kemudian mulai menjadi pilihan. Sampai akhirnya di era LTE, kita diperkenalkan dengan teknologi mobile broadband.

Irfan Tachrir saat mewakili Telkomsel dalam Apresiasi & Penghargaan Wajib Pajak 2018 bersama Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati.

Nah, dengan adanya teknologi baru itu, otomatis banyak produk baru yang bisa ter-create. Artinya bisnis baru itu mulai bermunculan. Dan itu adalah keniscayaan karena memang teknologi itu membawa ke sana. Masalah bisnis bisa berkembang atau belum, bukan itu isunya.

Isu utamanya adalah saat ini kita belum sepenuhnya bisa me-monetizing. Bukan berarti bahwa balik ke core merupakan pilihan terbaik. Pasalnya sudah ada ekosistem DNA di sana. Ada device, network dan application. Ini semua sudah terbangun. Namun di atas itu, yang terpenting adalah kebutuhan riil masyarakat.

Mengapa Telkomsel tetap konsisten menggelar layanan digital, sementara operator lain justru balik badan?

Jumlah pelanggan Telkomsel memang terbesar di Indonesia. Namun harus diakui, dari sekitar 150 juta pelanggan (red : pasca registrasi pra bayar), belum semuanya butuh layanan digital. Tapi bukan berarti servis itu tidak ada. Hal lain, kontribusi revenue yang legacy itu masih besar tapi penurunannya pasti. Semakin ke sini semakin turun.

Dan semua itu di subtitusi atau di-replace dari fitur yang ada dari teknologi baru itu. SMS diganti dengan OTT text, seperti WA dan lainnya. Bahkan setelah itu, bisa melakukan call. Jadi memang belum semua masyarakat butuh itu.

Yang kedua, kita juga lihat di struktur pricing. Memang saat memasuki bisnis data, sejak awal pricing-nya sudah di bawah. Sudah mepet. Sehingga boleh dibilang, marginnya kecil bahkan terus mengalami penurunan. Sekarang itu bisa dibilang bisnis data itu rugi. Cuma untungnya, kita masih punya pelanggan legacy yang banyak. Jadi sebenarnya legacy mensubsidi data.

Tapi dengan kondisi yang menurun terus, kan jadi mepet. Kenapa kawan kita yang dua itu balik ke core business? Karena legacy base mereka tidak sebesar Telkomsel. Mereka itu kan network-nya ditempat-tempat tertentu saja, Terutama wilayah yang kompetitif. Di mana semua operator hadir sehingga otomatis menjadi medan pertempuran yang keras.

Sedangkan Telkomsel masih memiliki basis legacy business yang kuat. Terutama pelanggan yang tinggal di kawasan rural. Meski pun itu di Jawa, tapi di rural seperti Pantai Selatan sana, layanan 2G masih kencang. Terus di daerah seperti NTT, mereka masih pakai. Daerah-daerah yang baru dibuka, mereka belum kenal yang namanya internet. Ponsel pun mereka beli bekas.

Tapi bukan berarti di daerah itu mereka tidak kenal internet. Teman-teman kita yang di Papua, kalau internetnya mati, mereka teriak juga. Sebagian besar warga Papua memang masih dominan 2G, terutama yang tinggal di pegunungan. Tapi bagi mereka yang di perkotaan atau di pantai, seperti Mimika, Sorong, Jayapura, Merauke, umumnya sudah sangat tergantung dengan layanan 3G.

Seperti apa bisnis yang dibidik Telkomsel di era digital?

Jadi balik lagi, teknologi bergerak ke sana dan bisnis juga berkembang semakin kompleks dan berbeda. Cuma bisnisnya bukan lagi voice dan teks, tapi lebih ke digital, e-commerce, atau IoT. Jadi satu bisnis yang membuat kita memperoleh revenue dari side business-nya.

Network kita itu hanya menjadi jalan atau pengantarnya saja. Tapi yang berbisnis itu sebenarnya adalah transaksinya, seperti T-cash, music streaming, video streaming atau digital advertising. Sebenarnya itu yang menjadi intinya.

Lalu bagaimana dengan kesiapan dari sisi sumber daya manusia? Apa yang saat ini menjadi kebutuhan mendesak Telkomsel?

Kita believe bahwa bisnis itu larinya ke sana dan HCM itu support the business, dengan kompetensi orang. Jadi kita juga harus mendidik orang-orang kita, supaya memiliki kompetensi tentang itu. Apa jenis kompetensinya?

Yang saat ini sangat dibutuhkan. Pertama adalah data analytics. Karena semua transaksi kita yang milyaran itu, perlu dianalisa, sehingga profiling-nya itu jelas. Nah, profilingnya itu yang berguna sehingga kita tahu kebutuhan dan keinginan masing-masing pelanggan. Hal ini bisa kita jual ke advertising agar mereka efektif campaign-nya. Sangat personal dan targeted.

Yang kedua, karena segala sesuatu itu sudah on time sifatnya, maka segala hal berbau security itu menjadi penting. Karenanya kita butuh orang yang punya keahlian di bidang cyber security.

Itu dua kompetensi yang sangat penting dan langka di internal sehingga kita harus hire dari luar orang-orang yang memiliki kemampuan itu.

Selain digital advertising yang kita ambil dari luar, tapi siapkan juga orang dari dalam kita, untuk mendampingi mereka. Supaya mereka itu belajar, sehingga di dalam proses hiring orang-orang itu, ada transfer of knowledge, yang kita harapkan dalam waktu 3-5 tahun, sudah terjadi perpindahan.

Secara program seperti apa yang sudah dijalankan?

Di HCM kita punya konsep bagaimana men-develop itu agar kompetensi meningkat. Pada awalnya kita punya digital mastery. Itu merupakan konsep. Sekarang kita sudah masuk ke tahap implementasi, yang disebut dengan Digital X (Execution). Jadi kita menjalankan, mengaktivasi digital itu di bidang capability dan competence, serta digital di bidang culture.

Berarti harus digital behavior. Sesuatu yang showy related to the people. Sekarang dengan perkembangan teknologi kan banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin. Robotik dan segala macamnya. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Nah, itulah yang kita sebut dengan digital behavior. Pertama, creativity. Kedua, innovation and agility. Ketiga, anticipatory. Keempat, risk taking. Kelima, networking. Keenam, experimental. Dan ketujuh, open minded.

Itu adalah semua adalah kompetensi yang tengah kita bangun untuk masa depan. Tapi secara overall orangnya juga harus open minded. Mau menerima pendapat orang, karena pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan yang bersifat horizontal, tidak bisa vertical sendiri. Itu selalu pekerjaan yang selalu across discipline karena itu orang-nya harus punya kemampuan berkolaborasi. Jika tidak bisa berkolaborasi, maka tidak akan bisa bekerja dalam satu tim.

Seperti apa model program Digital X?

Kita sudah menjalankan berbagai program. Untuk menjalankan program itu, maka harus ada talent selection dulu. Semua karyawan di Telkomsel itu adalah talent. Cuma memang talent beragam. Ada yang secara usia level 40 – 50 ke atas. Berarti umumnya ada di level pengambil keputusan.

Ada yang usia menengah 35-40. Orang-orang inilah yang disebut sebagai emerging talent. Terus ada anak-anak muda yang kita labeli dengan future talent, karena rata-rata usianya bawah 35. Nah ini pola pengembangannya beda-beda. Kalo yang di atas lebih kita kasih ke model training yang lebih mengarah ke open minded, experimental, dan agility.

Untuk yang emerging, kita bikin satu training yang lebih mengkhususkan kepada data driven, business analytics, strategic execution. Jadi hal-hal yang sifatnya strategic implementation. Jika yang di atas lebih ke strategic policy. Yang dibawah bagaimana melaksanakannya. Yang dibawahnya lagi, future leader, umumnya kelompok milenial, lebih kepada inovasi.

Adakah program unggulan yang saat ini dijalankan oleh Telkomsel?

 Salah satu program yang saat ini kita kembangkan adalah InnoXction. Program ini mirip dengan NextDev. Namun lebih ditujukan kepada karyawan, dimana karyawan yang punya ide, boleh menyampaikan ke pusat. Kita buka satu portal. Mereka submit, ideation seperti apa.

Nanti setelah kita tampung mereka akan kita bawa ke master class yang merupakan proses pendalaman. Kita hire coach yang datang dari beberapa CEO dari start up company di sana. Dan mereka akan menguji sejauh mana ide itu bisa jadi kenyataan.

Dari program ini kelihatan tingginya motivasi teman-teman. Dalam dua bulan ini ada 69 ide bisnis. Dan ketika sudah melakukan master class, validation dan dibawa ke perusahaan start up yang sekarang sudah jadi unicorn.

Pasca presentasi, tanggapannya sangat bagus. Mereka bahkan mereka tertarik untuk menjalankan ide tersebut jika Telkomsel tidak berniat untuk meng-eksekusi.

Artinya, ide dari karyawan-karyawan Telkomsel sebenarnya punya potensi untuk jadi menjadi sumber revenue baru. Tinggal sekarang bagaimana kita mengelola ide itu, menjadi suatu barang yang nyata.

 

 

 

 

 

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest