Friday, April 26, 2019
Home News Telco Axiata Group Telan Kerugian USD 37 Juta di Q1-2018

Axiata Group Telan Kerugian USD 37 Juta di Q1-2018

-

Jakarta, Selular.ID – Meskipun perbaikan terus berlanjut di seluruh anak perusahaan, Grup Axiata yang berbasis di Malaysia membukukan kerugian bersih untuk kuartal pertama di tahun ini. Sebagi akibat menguatnya Ringgit dan kinerja yang terus memburuk dari anak perusahaannya di India.

Raksasa telekomunikasi yang beroperasi di delapan negara Asia itu, melaporkan kerugian bersih sebesar MYR147 juta atau USD 37 juta di Q1-2018 dibandingkan dengan keuntungan MYR 239 juta di Q1 2017.

Kerugian tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya performa Idea Cellular. Operator terbesar ketiga di India itu mengalami kerugian hingga MYR124.3 juta di tengah “perang harga yang menghancurkan” pasar selular India. Rontoknya kinerja Idea Cellular, membuat pendapatan grup turun sebesar 2,3%tahun ke tahun menjadi MYR5,75 miliar.

Jamaludin Ibrahim, Presiden dan CEO Axiata Group, mengatakan bahwa terdapat 12% peningkatan rata-rata Ringgit terhadap mata uang di pasar operasi. Hal itu juga menjadi pemicu dalam kinerja perusahaan yang tidak menggembirakan di kuartal pertama tahun ini.

Meski demikian, dia mengatakan sejumlah anak perusahaan lain memperoleh pangsa pasar dan pendapatan yang signifikan. Terutama di Malaysia, Indonesia, Sri Lanka dan Bangladesh. Di empat negara itu, terjadi peningkatan kinerja kuartal di kuartal pada driver utama.

“Dinamika pasar dan perubahan struktural di Indonesia telah berdampak pada seluruh industri, kami percaya ini akan mengarah ke lingkungan pasar yang lebih sehat di masa depan,” tambah Jamaludin.

Perusahaan itu mengatakan program pengoptimalan biaya kelompok besar berada di jalur untuk menghasilkan sekitar MYR1.3 miliar cadangan simpanan yang ditargetkan pada 2018.

Di sisi lain, Ibrahim menambahkan penundaan dalam rencana penggabungan antara Idea Cellular dan Vodafone India akan semakin berdampak pada pencapaian Axiata Group. Meskipun CEO Vodafone Group Vittorio Colao pekan lalu mengklaim bahwa proses merger akan dapat dituntaskan pada Juni 2018.

Baca juga: Merger Vodafone-Idea Cellular, 5.000 Pekerja Akan Kehilangan Pekerjaan

Secara umum kinerja anak-anak perusahaan Axiata Group di kuartal 1-2018 adalah sebagai berikut. Pendapatan Celcom di Malaysia meningkat 2,3% tahun-ke-tahun menjadi MYR1,64 miliar, dengan pendapatan pra-bayar dan data naik signifikan. Pencapaian Celcom itu menyumbang 47% dari total pendapatan. Meningkat tipis dibandingkan 41% di Q1 2017.

XL Axiata yang berbasis di Indonesia meraih pendapatan 4,3% sebesar Rp 5,5 triliun (USD 286 juta), dengan pendapatan data tumbuh 31%, termasuk 63% dari total pendapatan (50%).

Pendapatan dari Dialog, anak perusahaan Axiata di Srilanka meningkat 28,5% menjadi LKR 26 miliar (USD 164,5 juta). Sementara Robi di Bangladesh membukukan 5,2% keuntungan pendapatan sebesar BDT 16.3 miliar (USD 193,8 juta).

Kinerja Smart di Kamboja dilaporkan stabil meskipun perusahaan menghadapi tekanan harga dan juga kendala regulasi. Tercatat penerimaan data tumbuh 34,5% dan menyumbang 22% dari total pendapatan, Begitu pun dengan Ncell di Nepal yang mampu meningkatkan pendapatan 3,7% menjadi MYR 576 juta.

Performa menurun yang tengah dialami oleh Axiata Group, sejatinya juga tengah terjadi pada kelompok bisnis lain, termasuk seteru tradisionalnya, SingTel. Sebagai pemain utama di kawasan Asia dan Australia, kinerja grup usaha yang berbasis di Singapura, tak lagi kinclong di sepanjang 2017.

Baca juga: Pasar Regional Melemah Kinerja Singtel Anjlok

SingTel melaporkan penurunan laba bersih 19% tahun-ke-tahun menjadi SGD 781 juta (USD 582 juta) karena hasil yang lebih lemah dari dua anak perusahaan terbesarnya, Airtel (India) dan Telkomsel (Indonesia), serta pergerakan mata uang yang merugikan. Penghasilan pra-pajak dari operasi regional SingTel turun 24,9% menjadi SGD 488 juta.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest