Beranda News Teknologi AR dan VR Merubah Pola Konsumsi Masyarakat di Masa Depan

Teknologi AR dan VR Merubah Pola Konsumsi Masyarakat di Masa Depan

-

Jakarta, Selular.ID –  Kebanyakan orang di era digital ini sudah mengenal dan menggunakan teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR). VR sendiri merupakan teknologi yang menampilkan adegan dalam dunia maya dengan tampilan 3D yang terlihat nyata.

Seolah – olah, penggunanya merasa seperti berada di dunia tersebut, padahal hanya fantasi saja, tidak nyata. Sedangkan AR berbanding terbalik dengan VR. Teknologi ini membuat seolah-olah yang ada di dunia nyata hadir di dalam dunia maya. Pengguna teknologi AR masih bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar, sedangkan VR tidak bisa.

Teknologi AR dan VR ini sudah digunakan dalam platform aplikasi dan game. Headset dan aplikasi yang mendukung AR dan VR pun kian menjamur. Penerapannya pun hampir di semua lini bisnis dan kebutuhan harian.

“Perusahaan teknologi seperti Facebook sudah mengadopsi teknologi AR dan VR dalam layanannya. Game Pokemon GO yang trend beberapa waktu terakhir, itu mengadopsi teknologi AR. Di Indonesia sendiri, sejumlah Alfamart sudah menggunakan teknologi VR dan AR dalam toko online miliknya, Alfamind,” terang Stephen Ng, CEO Digital Avatar (DAV) di tengah konferensi sesi ketiga Selular Congress 2018 bertema The future of consumption yang digelar di Le Meridien Hotel, Sudirman, Jakarta, Kamis (3/5/2018).

Menurutnya, teknologi AR dan VR membawa perubahan terhadap pola konsumsi masyarakat di masa mendatang. Teknologi VR dan AR jelas memberi kemudahan bagi kebutuhan harian maupun untuk perusahaan.

“Dalam hal transaksi jual beli misalnya, teknologi AR dan VR memudahkan masyarakat dan toko retail maupun online. Teknologi AR dan VR pembeli tidak perlu datang ke toko retail secara langsung untuk membeli barang yang diinginkan. Pembeli dapat mencoba barang yang mereka ingin beli seperti pakaian, sepatu, aksesoris, furniture dan lainnya melalui 3D visual yang diimplementasikan melalui teknologi VR atau AR. Dari visualisasi tersebut, konsumen dapat mengetahui apakah barang ingin dibeli tersebut cocok untuk mereka. Cukup melalui smartphone yang mendukung teknologi AR dan VR, semua ini dapat dilakukan,” jelas Stephen.

Stephen mengatakan bahwa hampir semua smartphone sudah mendukung teknologi VR dan AR. Di Singapura teknologi berbasis AR dan VR ini telah diterapkan oleh sejumlah toko retail dan online sebagai inovasi metode berbelanja baru.

Alfamind (Source : Play Store)

“Adopsi teknologi VR dan AR di Indonesia masih belum menyeluruh. Digital Avatar telah mengadaptasi teknologi AR dan VR melalui aplikasi toko virtual Alfamind. Cara kerjanya, aplikasi ini terintegrasi dengan ratusan kamera CCTV kami letakan di beberapa titik di Alfamart yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun, hasilnya masih belum maksimal, karena minimnya edukasi tentang VR dan AR kepada seluruh masyarakat Indonesia,” imbuh Stephen.

Sejauh ini, DAV telah melahirkan banyak platform yang menggunakan teknologi AR dan VR. Untuk menyebarluaskan penerapan VR dan AR, Stephen mengungkapkan pihaknya terus mengedukasi masyarakat Indonesia tentang teknologi tersebut dan menelurkan inovasi baru. Stephen memberi contoh lain adopsi teknologi VR dan AR yang dilakukan Nike.

Baca juga: Wow, Lebih Dari 100 Juta Android Akan Bawa Teknologi AR di 2018

“Nike mengadaptasi teknologi AR dan VR untuk penjualan sepatu Nike Jordan terbaru melalui toko retail dan offline. Hasil penjualan nya pun cukup baik kerena teknologi tersebut,” tutup Stephen.

Artikel Terbaru