Friday, April 26, 2019
Home News Feature Siapa Datang dan Siapa Pergi di Industri Selular?

Siapa Datang dan Siapa Pergi di Industri Selular?

-

Jakarta, Selular.ID – Industri selular Indonesia yang terbilang sangat kompetitif tidak melulu berbicara tentang teknologi, tren pasar, regulasi, produk, layanan dan sebagainya. Namun juga kehadiran para ekesekutif yang mewarnai dinamika yang terjadi dan terus berkembang hingga saat ini.

Nah, di era kompetisi yang telah memasuki wilayah baru, yakni pertempuran smartphone, konten dan aplikasi berkat kehadiran internet cepat 4G LTE, sejumlah eksekutif yang merupakan talent-talent terbaik memutuskan untuk datang dan pergi. Siapa saja mereka?

Roberto Saputra

Pada akhir 2016, Roberto Saputra mengambil keputusan untuk mundur dari Smartfren Telecom. Pria lulusan UPH (Universitas Pelita Harapan) itu, menerima tawaran dari Coca Cola sebagai Region Marketing Director Indonesia dan PNG.

Ia merupakan orang Indonesia pertama yang mengemban jabatan bergengsi itu yang sebelumnya selalu dipegang oleh ekspatriat.

Keputusan hijrah ke Coca Cola sebenarnya tidak mengagetkan, mengingat sebelum bergabung dengan Smartfren, Roberto memiliki pengalaman panjang di industri FMCG (fast moving consumer goods), terutama saat ia berkarir di PT Unilever Indonesia.

Dalam masa 10 tahun karir di perusahaan raksasa asal Belanda itu, ia memegang beragam posisi strategis. Termasuk posisi puncak sebagai Brand Building Director.

Dengan pengalaman membangun brand image pada perusahaan sebelumnya, pria berkacamata ini langsung dipercaya untuk menjadi EVP/ Group Head of Marketing & Corporate Strategy di PT Smartfren Telecom pada 2012.

Melalui langkah-langkah strateginya, Roberto mampu membuat Smartfren bertengger di posisi teratas di kategori Mobile Internet Provider. Dengan keberhasilannya tersebut dipertengahan 2015, Roberto Saputra dipercaya menjadi Chief Brand Officer, sebelum hijrah ke Coca Cola pada akhir 2016.

Namun rupanya, hanya butuh satu tahun lebih saja bagi Roberto merasakan atmosfer kerja di perusahaan penghasil minuman soda itu. Per 14 Mei 2018, ia memutuskan untuk kembali ke Smartfren, menempati posisi yang sama sebelum ia berlabuh ke Coca Cola.

Sumber Selular menyebutkan, pemanggilan kembali Roberto dilakukan langsung oleh Franky Wijaya, Chairman Smartfren.

Roberto bukan eksekutif pertama yang kembali dipanggil oleh Franky Wijaya. Pada pertengahan 2017, Joko Tata Ibrahim juga sudah kembali memperkuat Smartfren sebagai Deputi CEO, jabatan yang sama sebelum ia bergabung ke Nubia.

Adita Irawati

Setelah berkarir hampir enam tahun di Telkomsel, Adita Irawati akhirnya memutuskan untuk mengambil tantangan baru. Alumnus Hubungan Internasional UGM 1994 ini, ditunjuk menjadi Staf Khusus Presiden Joko Widodo bidang komunikasi ke kementerian dan lembaga.

Ditunjuknya Adita sebagai staf khusus yang mulai diembannya mulai Kamis (17/5/2018), karena menurut Menseskab Pramono Anung, Presiden ingin membenahi pola komunikasi di kementerian dan lembaga yang selama ini masih menggunakan model konvensional.

Pramono mengungkapkan, bahwa tren komunikasi sudah bergerak ke arah mobile dan media sosial (medsos) punya peranan penting. Di era medsos, butuh pemahaman yang berbeda dibanding pola komunikasi konvensional, termasuk membuat framing, membangun konten dan sebagainya, apalagi medsos punya cakupan lebih luas dengan viralitas yang dimilikinya.

Dengan jabatan tersebut, Adita harus memutus karirnya sebagai VP Corporate Communication Telkomsel yang diembannya sejak Februari 2013.

Sepanjang bergabung dengan Telkomsel, Adita harus berhadapan dengan isu-isu besar yang berpotensi menggerus reputasi perusahaan. Sebut saja keputusan pailit oleh PN Negeri Jakarta Pusat, revisi tarif interkoneksi, RPP network sharing dan frekwensi sharing yang diajukan oleh Kemenkominfo, serta peretasan situs resmi Telkomsel karena tudingan tarif internet mahal.

Kepada Selular, Adita mengatakan penunjukkan dirinya sebagai staf khusus presiden merupakan amanah sekaligus tantangan yang tak ringan. Apalagi ini merupakan kali pertama ia bertugas sebagai humas pemerintahan. Meski demikian, ia yakin dapat memenuhi tantangan yang diberikan Jokowi dengan bekerja dengan sebaik dan semaksimal mungkin.

Sebelumnya selama lebih dari dua dari dua dekade, Adita menjadi humas berbagai korporasi di Indonesia, seperti SCTV, Satelindo, Indosat, PT Penjaminan Infrastuktur Indonesia, dan terakhir Telkomsel.

Usun Pringgodigdo

Tak berlebihan jika Usun Pringgodigdo disebut-sebut sebagai salah satu ikon industri selular Indonesia. Pengalaman dan dedikasi yang cukup panjang membuat pria berkacamata ini, memahami sepenuhnya kemana industri ini telah bergerak. Maklum, sebelum bergabung dengan Polytron, Usun adalah Manajer Multimedia Bisnis Nokia Indonesia.

Kita ketahui, sepanjang lebih dari satu dekade, Nokia adalah pemain kunci di Indonesia. Nokia menjadi besar saat industri selular masih mengusung teknologi dasar, yakni voice dan SMS. Namun kehadiran Blackberry dan iPhone yang menandai di mulainya era ponsel cerdas alias smartphone, membuat kedigdayaan Nokia hilang dengan cepat, bahkan terkubur dalam persaingan.

Namun, collapse-nya Nokia bukan berarti karir Usun sebagai profesional di industri selular juga redup. Usun kemudian memutuskan untuk menerima tantangan Polytron yang tak puas hanya mengembangkan produk elektronik.

Pabrikan yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Group Djarum itu, mendapuk Usun sebagai GM Mobile Phone Division pada 2012. Dengan posisi tersebut, Usun bertanggung jawab terhadap pengembangan ponsel-ponsel Polytron.

Pada awalnya, pabrik Polytron di Kudus, Jawa Tengah, memproduksi ponsel-ponsel feature phone. Namun, tren komunikasi yang bergerak ke arah multimedia, membuat Polytron kini lebih banyak memproduksi smartphone.

Kehadiran 4G bahkan dijadikan momentum bagi Polytron untuk lebih memantapkan posisi sekaligus bersaing dengan vendor-vendor global di pasar yang sudah penuh sesak. Usun dan petinggi Polytron yakin bahwa terdapat peluang besar bagi pemain lokal untuk tumbuh dan berkembang di pasar perangkat 4G.

Itu sebabnya, Polytron bergegas membuat handset 4G lokal dengan harga terjangkau namun dengan spesikasi prima. Berbagai line up diperkenalkan, seperti ZAP, Crystal, Rocket, hingga Prime 7 yang merupakan flagship produk.

Selain peningkatan di bagian hardware, Polytron juga terus mengembangkan Fira OS di sisi software, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah. Fira OS ini diberi fitur-fitur sesuai kebutuhan konsumen Indonesia.

Sayang, kebersamaan Usun bersama tim Polytron akan segera berujung. Kepada Selular, Usun mengungkapkan bahwa Mei 2018 menjadi akhir dari pengabdiannya di Polytron. Ia tidak secara persis mengungkapkan kemana akan berlabuh. Usun hanya menyebutkan ia berencana mengembangkan bisnis lain di luar ponsel.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest