Wednesday, September 18, 2019
Home News Feature Catatan Akhir 2017 : Change or Collapse!

Catatan Akhir 2017 : Change or Collapse!

-

Pabrik Sat Nusapersada
Jakarta, Selular.ID – Sejak 2012, industri selular telah memasuki titik jenuh (saturated). Namun banyak pihak meyakini, industri strategis ini tetap prospektif. Meroketnya konsumsi data, membuat pasar optimis bahwa era second curve telah dimulai, menggantikan basic service (SMS dan voice) yang cenderung melandai sejak lima tahun terakhir.

Meski pertumbuhannya tak lagi mewah, hanya berkisar 9-10 persen pertahun, kita melihat investasi di bidang ini tak pernah surut, khususnya di bidang manufaktur handset. Tengok saja di sisi handset, kapitalisasinya mampu mencapai USD4 miliar pada 2014. Ini adalah kue yang sangat besar.

Wajar jika mereka tergiur dengan pasar ponsel di Indonesia yang mencapai 60 juta unit per tahun. Menurut lembaga survey IDC, seperti halnya China dan India, permintaan smartphone di Indonesia terus melonjak, mencapai 10 juta unit per tahun, sejalan dengan tumbuhnya kelas menengah dan ketersediaan handset di segmen mid end yang semakin melimpah.

IDC mengungkapkan, porsi smartphone kelas menengah melonjak dari 13 persen tahun lalu, menjadi 28 persen dari total penjualan di Q2-2017. Smartphone kategori menengah yang dimaksud IDC adalah perangkat dengan rentang harga antara USD200-USD400 atau kisaran Rp2,7 juta sampai Rp5,4 juta.

Secara umum, lembaga riset terkemuka Frost & Sullivan mengungkapkan bahwa nilai bisnis industri selular di Indonesia pada 2012 mencapai Rp134,5 triliun. Angka itu kemudian melonjak menjadi Rp149,7 triliun pada 2013.

Kebijakan pemerintah menerapkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk ponsel dan perangkat teknologi informasi 4G, terbukti menjadi katalisator pertumbuhan industri telekomunikasi sekaligus meningkatkan nilai investasi, terutama investasi asing.

Hingga akhir 2016, terdapat 23 electronics manufacturing service (EMS), 42 merek dan 37 pemilik merek baik global maupun nasional, dengan total nilai investasi sebesar Rp7 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 13 ribu orang.

Kemenperin mencatat, nilai impor ponsel pada 2015 sekitar USD2,2 miliar dengan jumlah 37,1 juta unit ponsel, menurun menjadi USD773,8 juta dengan jumlah 18,4 juta unit tahun 2016. Sedangkan, untuk jumlah produksi ponsel di dalam negeri sebesar 24,8 juta unit pada 2015, naik menjadi 25 juta unit pada 2016.

Hyper Competition

Walau tetap prospektif, industri selular di tanah air, sesungguhnya tergolong tak ramah, apalagi bagi pendatang baru. Pasalnya, model open market membuat kompetisi menjurus pada hyper competition karena begitu banyaknya pemain di masing-masing bidang. Pun demikian, tak ada jaminan bagi pemain yang kampiun di close market untuk menuai sukses di open market.

Ambil contoh tiga produsen Tiongkok, yakni Hisense, ZTE dan Huawei. Ketiganya adalah pemain ini sudah cukup lama malang melintang di pasar domestik. Mereka terkenal dengan berbagai handset bundling yang digelar bersama operator, memanfaatkan produk pendukung seperti modem untuk akses internet.

Siapa tak kenal Andromax, smartphone besutan Smartfren yang pernah menjadi brand nomor dua terbesar di Indonesia pada 2014. Namun tak banyak orang yang tahu bahwa Andromax sepenuhnya diproduksi oleh Hisense, pabrikan China yang bermarkas di Qingdao.

Namun, saat memutuskan untuk masuk ke open market yang telah dijalankan sejak beberapa tahun terakhir, nyatanya Hisense kehilangan taji. Hisense mengikuti jejak ZTE dan Huawei yang hingga kini belum mampu berkibar.

Untuk menarik animo kosumen, ZTE, bahkan rela berganti baju menjadi Nubia. Sayangnya konsumen seolah tak bergeming. Apa daya, publik lebih memburu Xiaomi, Oppo, Vivo, atau Lenovo Motorola, yang juga berasal dari Tiongkok.

Stagnannya Nubia, Huawei, dan Hisense, menambah panjang deretan brand yang tak bisa naik kelas. LG adalah contoh brand yang sudah ‘bulukan’ di pasar Indonesia, namun tetap menjadi medioker.

Begitu pun dengan Acer. Merek asal Taiwan ini tak pernah merasakan sukses, saat terjun ke bisnis smartphone. Merek-merek lain bahkan ‘menguap’ seperti One Plus. Begitu pun HTC yang pernah berjaya beberapa tahun lalu.

Menariknya, di tengah superioritas brand-brand global, terutama Tiongkok yang semakin agresif, terselip brand lokal, yakni Advan. Merek lokal ini sukses mempertahankan posisi di papan atas meski terus digempur brand-brand global yang punya sumber daya tak terbatas.

Dengan kondisi yang tergolong hyper competition, para pemain memang tak boleh lengah.

“Meleng sedikit, posisi yang sudah diraih bisa saja tergusur”, ujar Tjandra Lianto, Marketing Director Advan.

Berdasarkan laporan IDC per kuartal ketiga 2017, lima besar merk smartphone di Indonesia, adalah Samsung, Oppo, Advan, Vivo dan Xiaomi.

Samsung bertengger di posisi puncak dengan perolehan market share 30%, menyusul di posisi kedua Oppo 25%. Tiga besar dibawahnya adalah Advan 8,3%, Vivo 7,5% dan Xiaomi 5,2%. Dua vendor terakhir, sukses menjegal Asus dan Lenovo yang sebelumnya berada di posisi empat dan lima.

Mengacu kepada data tersebut, tiga besar pabrikan smartphone di Indonesia sudah dikuasai oleh China (37,7%). Bahkan, jika dikerucutkan, dua vendor masing-masing Oppo dan Vivo yang nota bene sister company, sesungguhnya sudah menjadi penguasa pasar. Pasalnya, perolehan keduanya sudah sebesar 32,5%, mengungguli Samsung.

Advan menjadi satu-satunya brand lokal yang bertahan di posisi elit. Selama dua kuartal terakhir, Advan kokoh di posisi tiga. Bahkan pada Q2- 2017 penguasaan pasar Advan mencapai 9%. Artinya, meski pangsa pasarnya sedikit menurun, vendor yang memiliki pabrik di Semarang itu, sukses mempertahankan posisi tersebut dari kepungan vendor global.

Pencapaian di nomor tiga, sekaligus menahbiskan Advan sebagai brand ponsel nomor satu di Indonesia. Mengalahkan Evercoss yang sebelumnya lama bercokol.

Coverage 4G

Persaingan sengit antar vendor handset juga menular ke operator. Untuk bisa memenangkan pertempuran, operator mau tak mau harus terus memodernisasi jaringan karena era internet cepat berbasis 4G LTE sudah dimulai sejak akhir 2015.

Dengan hampir 410 juta koneksi mobile, sejak setahun lalu Indonesia terbilang sangat cepat dalam mengadopsi layanan 4G. Tercatat, koneksi meningkat 2,5 kali dan penetrasi LTE mencapai 21 persen.

Menurut data GSMA Intelligence (GSMAi), koneksi 4G di Tanah Air melonjak dari 34 juta pada Q3 2016 menjadi 85,5 juta pada Q3 2017. Sedangkan penetrasi LTE di Q3 2016 mencapai 7,9 persen.

Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, operator selular telah menggandakan pembangunan jumlah BTS 4G yang digunakan dalam enam bulan pertama 2017. Yakni mencapai 55.700 unit pada akhir Juli 2017, dibandingkan dengan 26.000 pada akhir 2016.

Kemenkominfo mencatat, cakupan 4G sudah mencapai 257 kabupaten dan kota pada akhir Juli 2017. Naik dari 58 kota jika dibandingkan akhir 2016.

Meningkatnya konektifitas 4G, membuat jumlah pelangan juga melonjak. Sebagai pemimpin pasar, jumlah pelanggan 4G Telkomsel mengalami peningkatan yang signifikan, dari 11,9 juta di Q3-2016 menjadi 30,7 juta pada Q3-2017. Sedangkan penetrasi LTE meningkat menjadi 17 persen.

XL Axiata, operator terbesar ke tiga di Indonesia, menikmati penetrasi 4G tertinggi (39,5 persen) pada akhir September, dengan 19,9 juta pelanggan pada akhir Q3-2017, meningkat 11 juta tahun ke tahun (YoY).

Begitu pun dengan pemain nomor dua, Indosat Ooredoo, mencatat kenaikan yang juga drastis. Jumlah 4G pelanggan Ooredoo hampir tiga kali lipat dari tahun ke tahun menjadi 14,9 juta, yang berarti mencapai 15 persen dari total basis pelanggan.

Indosat Ooredoo mencatat pertumbuhan 4G tercepat antara Q3-2016 dan kuartal terakhir, dengan jumlah pelanggan meningkat dari 1,8 juta menjadi 8,8 juta. Sedangkan penetrasi LTE mencapai 13 persen.

Di sisi lain, lelang spektrum 50MHz di pita 2.1GHz dan 2.3GHz yang digelar Kemenkominfo pada Oktober 2017, memberikan kesempatan bagi operator memiliki lebih banyak bandwidth. Hal yang sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan jangkauan 4G mereka, guna mengimbangi permintaan yang cepat.

Kondisi itu memicu operator untuk bekerjasama dengan vendor handset agar popupulasi smartphone berteknologi 4G, minimal 3G, dapat lebih banyak tersedia di pasaran dengan harga yang lebih terjangkau.

Perubahan yang cepat dari basic service ke digital service pada akhirnya juga memicu perubahan dan pola bisnis penyedia jasa pendukung. Seperti software, OS (operating system), content/aplikasi, web browser dan industri pendukung lain, terutama hiburan berbasis video yang semakin happening.

Senada dan seirama, jaringan pemasaran seperti distributor hingga retailer, juga berbenah mengikuti selera pasar yang kerap berubah. Pelan namun pasti, media daring (e-commerce) semakin diminati masyarakat, terutama kalangan milenial.

Adaptasi Pasar

Tak pelak kehadiran internet cepat yang bisa ngebut hingga 100 Mbps, membuat ekosistem digital bukan lagi angan-angan. Masyarakat semakin dimanjakan dengan beragam layanan digital yang semakin mumpuni, hasil kolaborasi para pemain di atas.

Pada akhirnya, pilihan pun menjadi semakin beragam. Namun kualitas produk dan harga yang memadai tetap menjadi pertimbangan. Selebihnya persepsi pelanggan yang akan menentukan survive atau tidaknya suatu brand.

Seperti halnya saat industri selular memasuki generasi 2G, 2,5 maupun 3G, kehadiran teknologi 4G juga memberi kesempatan bagi challenger untuk meningkatkan market share. Siapa menyangka jika di era 3G, pasar memunculkan Samsung sebagai market leader dan bertahan hingga kini.

Padahal di jaman feature phone berbasis 2G, Samsung adalah brand yang tergolong medioker. Popularitasnya jauh di bawah Nokia yang saat itu masih menjadi ponsel pertama pilihan masyarakat. Begitu pun di sisi operator, era 3G sukses menjadikan XL sebagai operator terbesar nomor dua menggusur Indosat.

Kondisi yang sama juga terjadi di industri penyedia jaringan. Vendor asal China Huawei kini setidaknya telah menguasai lebih dari 50% pangsa pasar bisnis jaringan. Artinya, hanya dalam tempo kurang dari satu dekade, Huawei telah mengubah posisi, dari challenger menjadi market leader.

Pencapaian itu terbilang luar biasa, mengingat sejak lama, vendor jaringan asal Eropa, seperti Ericsson, Nokia, Alcatel Lucent, Siemens (almarhum) telah menguasai pasar bisnis jaringan di Tanah Air.

Seperti kita ketahui, kedigdayaan vendor-vendor Eropa dimulai sejak teknologi selular berbasis analog, yakni NMT (Nordic Mobile Telephone) masuk ke Indonesia pada 1984. Di susul AMPS (Advance Mobile Phone System). Keduanya merupakan teknologi generasi pertama. Kemudian berlanjut dengan masuknya teknologi selular generasi kedua, yakni CDMA dan GSM pada 1995.

Di dua era itu, vendor asal China seperti Huawei bisa disebut sebagai anak bawang. Namun, berkembangnya teknologi 3G pada awal 2000, membuka kesempatan bagi Huawei untuk bersaing dengan raksasa-raksasa itu.

Imbas dari krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998, membuat posisi Huawei mulai menguat. Strategi harga yang lebih murah namun dengan kualitas yang bisa bersaing, nyatanya mampu mendepak vendor Eropa dari posisi puncak.

Bagaimana pun kerasnya kompetisi, pasar selular menyimpan potensi yang sangat besar. Dengan kue yang menggiurkan dan masyarakat yang semakin melek teknologi, wajar jika para challenger bernafsu menggusur market leader. Manuver mereka tak akan pernah surut demi ambisi menguasai pasar Indonesia.

Apakah era 4G akan mengubah peta pasar? Tentu waktu yang akan menentukan. Mana saja brand yang mampu bertahan dan kemudian unggul. Mana juga brand yang keselip kemudian sempoyongan dan akhirnya tinggal sejarah.

Apa pun itu, model open market yang selama ini dianut Indonesia dan regulasi yang kerap berubah membuat pasar tetap dinamis. Alhasil, hanya mereka yang adaftif dengan perubahan dan selera pasar yang akan terus bertahan dan menjadi pilihan pelanggan.

Pilihannya hanya satu : change or collapse!

Latest