Sunday, October 20, 2019
Home Buyer's Guide BlackBerry KeyOne Kemahalan? Ini Tanggapan BB Merah Putih

BlackBerry KeyOne Kemahalan? Ini Tanggapan BB Merah Putih

-

IMG_20171123_144718
Jakarta, Selular.ID – BB Merah Putih selaku pemegang lisensi smartphone BlackBerry di Indonesia resmi menghadirkan KeyOne di pasar tanah air. Mulai pekan ini, konsumen sudah bisa memesan BlackBerry KeyOne di 13 mitra toko online dengan harga normal Rp9 juta.

Dibandingkan Aurora -smartphone pertama BB Merah Putih yang rilis Maret 2017- BlackBerry KeyOne mengusung sejumlah peningkatan.

Perbedaan signifikan terlihat jelas dari desain keduanya. Kalau Aurora mengusung desain mainstream full display pada permukaan depan, maka KeyOne tidak. Ciri khas vendor asal Kanada itu (keyboard qwerty) muncul kembali di KeyOne.

Selain desain, hardware-nya pun mengalami peningkatan. Kalau Aurora ditopang Qualcomm Snapdragon 425 maka BlackBerry KeyOne ditunjang Snapdragon 625.

Storage pun dilipatgandakan menjadi 64GB di KeyOne serta baterai 3505mAh, kapasitas terbesar dari jjran smrtphone BlackBerry.

Meski begitu, sejumlah pengamat mengatakan kalau harga Rp9 juta kemahalan untuk BlackBerry KeyOne yang mengusung peningkatan spesifikasi “minor”.

Menanggapi hal itu, Sukaca Purwokardjono, Chief Operating Officer, BB Merah Putih, mengatakan bahwa konsumen Indonesia sudah naik kelas.

“Harga jual mahal belum tentu tidak laku. Harga jual murah pun belum tentu laku,” jelas Sukaca, pada acara peluncuran smartphone BlackBerry KeyOne di Jakarta (23/11/2017).

Dengan KeyOne, Sukaca menjelaskan bahwa perusahaannya membidik segmen niche, yaitu mereka yang betul-betul ingin punya produk yang bagus dan pride karena spesifikasi stand out dan frame aluminium.

“Bagi saya sendiri, saya percaya, harga retail itu masalah value. Jadi harga segitu masih pada taraf yang bisa diterima sesuai target market kami,” papar Sukaca.

Ketika disinggung bersaing dengan siapa, Sukaca menjawab “Faktanya BlackBerry is different. Fitur-fiturnya hanya ada di KeyOne. Sehingga kami tidak terlalu khawatir dengan persaingan.”

Sukaca memaparkan, dulu ketika era 3G, porsi jualan smartphone dengan harga di atas Rp2 juta kurang lebih 30 persen. Bahkan sempat di angka 25 persen sampai 20 persen.

Jadi 70 persen smartphone di Indonesia di bawah Rp2 juta. Kemudian tren itu berbalik ketika semua operator menggelar layanan 4G LTE.

“Menurut data Gfk, komposisi smartphone yang dijual di atas Rp2 juta di Indonesia sekarang 50 persen. Jadi sudah 50-50,” tutur Sukaca.

Artinya, lanjut Sukaca, daya beli masyarakat Indonesia untuk smartphone itu bagus.

Kedua, konsumen bersedia belanja lebih karena fitur yang disediakan 4G.

Faktor ketiga, industri smartphone Indonesia selalu naik: harganya, kualitasnya, dan fiturnya.

“Dulu RAM 1GB cukup, sekarang minimal 2GB. Dengan variasi hardware lebih tinggi, harga menjadi lebih mahal,” kata Sukaca.

Meski telat 10 bulan dari peluncuran global, BB Merah Putih tetap optimis kalau produk terbarunya akan diburu konsumen nasional.

“Karena KeyOne termasuk segmen premium, kami menargetkan sesuai market: 20.000 unit terjual untuk kuartal pertama 2018,” pungkas Sukaca.

Latest