Monday, October 21, 2019
Home Chatting Mengapa Sukaca Hengkang dari Sharp?

Mengapa Sukaca Hengkang dari Sharp?

-

IMG_20171128_162840
Jakarta, Selular.ID – Nama Sukaca Purwokardjono sudah tidak asing lagi di industri telekomunikasi Indonesia. Sebelum menjabat sebagai Chief Operating Officer, BB Merah Putih, pemegang lisensi smartphone BlackBerry di Indonesia, Sukaca lama menjabat Head of Smartphone Smartfren.

Pria yang akrab disapa “Pak Koco” itu menjadi otak dibalik suksesnya kehadiran smartphone Andromax di tanah air. Jerih payahnya selama 4,5 tahun membuahkan hasil. Nama Smartfren Andromax sempat menempati posisi kedua sebagai smartphone yang paling banyak dipasarkan di Indonesia.

Kesuksesan Andromax membuat Pak Koco dilirik perusahaan asing untuk memasarkan smartphone besutannya. Pada akhir tahun 2016 Sukaca didapuk sebagai Country Manager Foxconn Indonesia, untuk memasarkan smartphone merek Sharp.

Dengan segudang pengalaman pemasaran dan distribusi Andromax, Sukaca bergerak cepat. Selang 6 bulan lepas dari Smartfren, Sharp meluncurkan smartphone di Indonesia.

Berkat Sukaca, pada Juli 2017, smartphone Sharp resmi menancapkan taringnya ke pasar nusantara. Tidak tanggung-tanggung, Sharp menghadirkan dua model sekaligus: Sharp Z2 dan Sharp M1, yang melenggang di kelas menengah.

Belum diketahui bagaimana kinerja penjualan smartphone Sharp, Sukaca mengejutkan pasar. Satu bulan usai peluncuran tersebut, Sukaca dikabarkan hengkang dari Foxconn Indonesia. Sampai akhirnya pertengahan November, Sukaca menampakkan wajahnya sebagai COO BBMP pada peluncuran BlackBerry KeyOne.

Apa alasannya hengkang dari Sharp? Pada acara peluncuran di Jakarta tersebut, Sukaca berbagi cerita bagaimana sulitnya memasarkan produk baru ke pasar Indonesia.

“Ketika saya membawa merek lain (Sharp) ke 10 toko untuk minta tolong menjualkan barang tersebut, 10 toko itu mengatakan, ‘oke saya bantu Pak Koco tapi tolong saya diberi Promotor’. Jadi 10 toko yang saya datangi minta 10 promotor. Karena apa, karena barang baru. Harus menjelaskan ke calon konsumen,” terang Sukaca pada peluncuran BlackBerry KeyOne di Jakarta (23/11/2017).

Di kesempatan berikutnya, lanjut Sukaca, dia membawa smartphone BlackBerry. Dari 10 toko yangdidatangi, hanya 5 yang minta Promotor.

Kepada toko yang tidak minta Promotor, Sukaca bertanya “Kenapa tidak perlu Promotor?” Alasannya, karena orang sudah tahu BlackBerry, jadi tidak perlu Promotor.

“Lalu saya tawarkan lagi bagaimana jika insentifnya saya tambah kalau tanpa Promotor, pada akhirnya hanya 2 toko yang butuh Promotor,” kata Sukaca bercerita.

Dari situ Sukaca berkesimpulan bahwa brand BlackBerry masih ada di hati konsumen Indonesia, dan juga masih dipercaya oleh semua jalur penjualan yang ada di pasar, baik online maupun offline.

“Tapi tentu saja merek saja tidak cukup. Brand image harus diimbangi dengan produk berkualitas dan distribusi yang kuat,” pungkas Sukaca.

Latest