SHARE

IMG_20170823_070511Bangkok, Selular.ID – Dengan lebih dari 60 juta penduduk, Thailand merupakan pasar terbesar telekomunikasi kedua di kawasan Asia Tenggara setelah Indonesia. Berbeda dengan Indonesia yang terbilang surplus, jumlah operator di negeri Gajah Putih dibatasi hanya tiga. Masing-masing AIS (Advanced Info Service), DTAC (Total Access Communication) dan True Move. Meski tak dihuni banyak operator, persaingan antar ketiganya terbilang cukup keras.

Beberapa waktu lalu, Selular berkesempatan berkunjung langsung ke MBK Shopping Mall, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bangkok, Thailand. Di lantai 4 pusat perbelanjaan ini, aura persaingan antar vendor handset dan juga operator sangat terasa. Suasananya mirip dengan Roxy Mas, PGC atau Ambassador di Jakarta, yang menjadi pusat belanja ponsel di Tanah Air.

Seperti halnya operator Indonesia, untuk meningkatkan peneterasi smartphone 4G, operator di Thailand juga membuka banyak gerai khusus di sejumlah titik strategis. Tak terkecuali di MBK Shopping Mall yang menjadi destinasi belanja favorit, baik warga lokal dan turis manca negara. Hal ini dilakukan untuk mempermudah konsumen, memperoleh smartphone pilihan dengan harga terjangkau lewat program bundling.

Selain berupaya mempercepat migrasi pelanggan ke 4G, kehadiran gerai resmi juga mendorong konsumen untuk merasakan langsung (true experience), beragam layanan data dan new business yang dikembangkan oleh operator, pasca teknologi LTE diperkenalkan pada 2016.

Meski pasar selular di Thailand terlihat semarak, namun tak dapat dipungkiri, seperti halnya Indonesia, pertumbuhan operator tak lagi menggembirakan. Bahkan, sejak 2016, pertumbuhan terbilang sudah stagnan.

Dengan tren yang sudah terjadi pada 2016, maka sepanjang 2017 diprediksi akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi industri telekomunikasi Thailand. Hal ini dipicu oleh persaingan ketat dan lisensi yang terlalu mahal untuk layanan 4G. Sementara di sisi lain, profitabilitas operator selular dalam beberapa tahun terakhir ini, tertekan cukup dalam karena agresifitas layanan OTT (over the top) milik asing.

Tak dapat dipungkiri, kehadiran YouTube, Netflix dan Line yang mendistribusikan konten lewat jaringan operator, mendorong perusahaan telekomunikasi menghadapi biaya besar untuk meningkatkan infrastruktur mereka sendiri.

Alhasil, tak hanya harus bersaing antar mereka, para operator juga harus menghadapi pertempuran sengit dengan para pemain OTT di pasar, seperti Amazon dan Facebook yang memberikan alternatif layanan. Baik penyiaran, kabel, telepon maupun layanan pesan.

Tingginya permintaan layanan 4G juga menciptakan persaingan yang meluas di industri telekomunikasi. Pada akhir 2015, baik AIS dan True Move memenangkan lisensi pada spektrum 1.800 MHz dan 900 MHz untuk menyediakan layanan 4G. Sementara DTAC tetap memanfaatkan spektrum yang sudah dimiliki.

Dalam upaya untuk mendorong migrasi ke jaringan 4G, ketiga operator selular ini telah memperjuangkan pangsa pasar melalui subsidi promosi yang tinggi. Namun hal ini menyebabkan penurunan keuntungan yang tajam karena tingginya beban biaya pemasaran.

Menurut Sitthichoke Nopchinabutr, Chief Marketing Officer DTAC, dengan tingginya iklim kompetisi saat ini, maka pihaknya akan lebih fokus pada upaya memberikan pengalaman pelanggan dan mempromosikan nilai dari merek dibandingkan bersaing pada skema harga. Sitthichoke mencatat bahwa mempertahankan pelanggan lebih hemat biaya dan terbukti menguntungkan daripada memperoleh pelanggan baru.

Untuk meningkatkan pengalaman dan kepuasan pelanggan, sejumlah besar investasi dibutuhkan di jaringan 3G dan 4G untuk memperluas kapasitas serta meningkatkan kecepatan konektivitas dan kualitas layanan broadband.

Selain itu, operator telekomunikasi dan kabel didorong untuk membentuk kolaborasi agar mampu bersaing dengan pemain OTT dengan menawarkan layanan triple play seperti internet, telepon dan TV melalui layanan tunggal. Strategi ini digabungkan dengan paket promosi yang memberi pelanggan tarif yang lebih rendah untuk layanan media sosial atau streaming video.
“Sejalan dengan visi Thailand 4.0, negara ini sekarang sedang dalam proses menyusun undang-undang baru untuk mempromosikan ekonomi berbasis nilai dan digital yang punya manfaat lebih. Pergeseran ini akan memicu permintaan lebih lanjut untuk beragam peranti telekomunikasi dan infrastruktur canggih, serta layanan terkait “, kata Mickael Feige, Partner di Solidiance Thailand, sebuah firma konsultasi manajemen dan penasihat pertumbuhan perusahaan.

Meskipun persaingan ketat tengah terjadi antara operator seluler, industri telekomunikasi Thailand diprediksi akan memiliki prospek yang positif di pada 2018. Sejalan dengan target otoritas Thailand yang telah menetapkan bahwa negeri itu akan memasuki “Era Broadband Penuh” pada 2017. Hal ini didukung oleh jangkauan jaringan 3G dan 4G yang semakin meluas dan penetrasi smartphone yang tinggi.

Pada 2016, rata-rata penggunaan data di antara semua pelanggan selular di Thailand sekitar 4 GB per bulan, naik dari 2 GB di tahun 2015. Diharapkan penggunaan data dari pengguna smartphone akan terus meningkat pada 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here