SHARE

Alexander-Rusli2Saat membuka laman sebuah media online terkemuka, mata saya tertuju pada artikel berjudul “Leadership is About Number”. Ditulis oleh sahabat saya Yuswohadi, pengamat marketing jebolan Markplus. Dari judulnya saja, artikel ini menawarkan paradigma yang sedikit berbeda tentang kepemimpinan, karena mengerucut pada satu titik kesimpulan, yakni pencapaian dalam angka.

Yuswohadi yang kini menjadi Managing Partner Inventure bercerita bahwa artikel ini ia tulis setelah cukup lama berdiskusi dengan Zulkifli Zaini, Direktur Utama Mandiri periode 2010-2013. Zulkifli termasuk salah satu great leader di kalangan bankir Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Bank Mandiri mampu tumbuh luar biasa baik dari sisi profit maupun kinerja saham.

Begini nukilannya :

Leadership is about number. Kepemimpinan itu mengenai angka. Apa maksudnya? Menurut Pak Zul, kehebatan seorang pemimpin itu ditentukan oleh hanya satu hal, yaitu angka kinerjanya.

Kalau kita berbicara bisnis, maka angka itu tak lain adalah sales, profit, atau mungkin harga saham. Anda disebut pemimpin yang kredibel hanya jika mampu membawa perusahaan lebih maju melalui pencapaian sales, profit, atau harga saham yang lebih tinggi.

Kata Pak Zul lagi, tak ada gunanya Anda memiliki visi yang hebat, membangun budaya kerja yang kokoh, atau dicintai oleh seluruh anak buah, kalau kinerja keuangan Anda jeblok.

Pepatah lama mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Nah, ketika seorang pemimpin sudah mengakhiri jabatannya, apa yang sudah dia tinggalkan untuk perusahaan? Jawaban Pak Zul singkat: result! Substansi dari sebuah kepemimpinan adalah result. Artinya, bagaimana si pemimpin menghasilkan performa luar biasa bagi perusahaan yang ia pimpin.

Dan, kalau kita bicara mengenai performa perusahaan, maka yang dilihat pertama kali adalah kinerja keuangan yang nampak dalam laporan keuangan, harga saham, atau kapitalisasi pasar. Orang hanya tahu suatu perusahaan bagus atau tidak dari laporan keuangan atau harga sahamnya.

Mereka tidak pernah tahu bagaimana perusahaan tersebut melayani nasabahnya, bagaimana proses manajemen internalnya, bagaimana SDM-nya, bagaimana IT-nya, bagaimana organisasinya, dan seterusnya.

Zulkifli_Zaini

Karena itu, kalau ada seorang pemimpin mengatakan, “Selama saya memimpin, peninggalan saya adalah visi yang jauh ke depan, budaya organisasi yang kokoh, SDM yang mumpuni, proses bisnis yang efisien, dan seterusnya,” maka menurut Pak Zul, itu saja tidak cukup.

Menurutnya, ujung dari sebuah kepemimpinan adalah kinerja. Dan, kinerja itu pada akhirnya adalah angka. Bukan sekadar visi, pidato, motivasi, atau proses yang efektif. Yang terpenting adalah angka, yaitu bagaimana laporan keuangan, laba-rugi, kapitalisasi pasar, dan harga saham baik.

Angka-angka inilah yang membentuk kredibilitas seorang pemimpin. Jadi kalau ada orang bertanya kepada seorang CEO, apakah kepemimpinannya berhasil atau tidak, maka jawabnya singkat saja: tinggal si CEO menunjukkan profit naik berapa persen atau harga saham naik berapa persen.

Gunungan Hutang
Membaca artikel yang ditulis oleh Yuswohadi itu, tentu saja seratus persen kita setuju dengan pandangan Zulkifli Zaini. Karena kinerja suatu perusahaan, pada akhirnya semua bermuara pada kontribusi sang CEO, khususnya yang bersifat tangible. Tak peduli apa pun tantangannya. Sebagai contoh, mari kita telisik pencapaian Alexander Rusli dalam menahkodai Indosat Ooredoo.

Tak salah jika publik menilai pria yang akrab dipanggil Alex ini, sebagai salah satu the rising star. Pada usianya yang baru 42 tahun, ia sudah menjadi Direktur Utama/CEO Indosat, salah satu operator selular papan atas di Indonesia.

Meski menyandang predikat sebagai orang nomor satu di jajaran eksekutif, kehadiran Alex di Indosat sebenarnya tidak secara kebetulan. Pasalnya, sebelum didapuk sebagai CEO, Rusli merupakan komisaris independen Indosat sejak Januari 2010, sekaligus merupakan anggota Komite Remunerasi dan Komite Audit di perusahaan telekomunikasi yang kini sahamnya di kuasai oleh Ooredoo (dulu Qatar Telecom/Qtel).

Bagi pemegang saham, sosok Alex dinilai tepat untuk mengembalikan kejayaan Indosat. Mewarisi tongkat estafet dari Harry Sasongko pada 1 November 2012, Alex yang kaya pengalaman diharapkan mampu mengatasi persoalan agar perseroan bisa bersaing, terutama dengan dua kompetitor terdekatnya, Telkomsel dan XL Axiata.

Namun, mengembalikan bandul kejayaan Indosat bukan pekerjaan mudah bagi Alex. Pasalnya saat mengambil alih tampuk kepemimpinan, kinerja operator yang identik dengan warna kuning itu tidak menggembirakan. Perang tarif yang berlangsung 2007 – 2012, membuat, kinerja Indosat menukik tajam.

Perseroan mencatat rugi Rp 71,1 miliar pada triwulan pertama 2013. Kerugian itu membengkak 214% dibandingkan posisi pada periode yang sama 2012 sebesar Rp 22,6 miliar. Utamanya disebabkan rugi kurs, imbas masih besarnya beban hutang dalam dollar.

Meski diwarisi gunungan hutang, pria kelahiran Sydney, 20 Februari 1971 ini tidak berkecil hati. Ia justru merasa terpacu untuk mengembalikan performa Indosat yang sebelumnya sangat disegani.

“Saya yakin peluang dan kesempatan selalu ada. Tinggal bagaimana memanfaatkan dan memaksimalkannya sebaik mungkin,” tutur Alex dalam satu kesempatan.
Untuk mengembalikan kinerja positif, Alex bergerak cepat. Ia ingin Indosat secara konsisten mengeksekusi strategi perusahaan yang berfokus pada “Leader in Data and Smart Devices”. Ketika orang membeli smart device, Indosat adalah operator terbaik untuk dipilih.

Dari sisi network, Alex menggeber program modernisasi jaringan yang menghasilkan kualitas sinyal yang lebih kuat dan jangkauan yang lebih luas serta memberikan kecepatan maksimal untuk kebutuhan layanan data pelanggan.

Alex menambahkan, modernisasi jaringan juga sejalan dengan target perusahaan yang ingin menjadi pemimpin di layanan data. Implementasi 4G LTE di frekuensi 1800 Mhz juga sangat mendukung ambisi Indosat itu.

Alex yang dikenal murah senyum ini bilang, kehadiran 4G LTE pada 2015 merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu. Pasalnya, hal itu menjadi kesempatan bagi Indosat untuk meraih kembali kepercayaan pelanggan yang sempat hilang.

Dengan modernisasi yang massif di banyak kota di Indonesia, ia yakin persepsi bahwa Indosat kini memiliki kualitas jaringan yang handal, akan kembali terbentuk di benak masyarakat, sehingga pelanggan, khususnya pengguna data tak ragu memakai jasa Indosat.

Lewat dua strategi yang diusung, yakni memberikan pengalaman terbaik (best experience) dan pengalaman yang lebih baik (better experience), Alex Rusli yakin Indosat dapat bersaing dengan para kompetitor.

Selain menggenjot program modernisasi jaringan, Indosat juga menjalankan strategi “Best Customer Experience” dengan komitmen untuk memberikan pengalaman terbaik, baik dari sisi kualitas layanan maupun kualitas jaringan.

Guna mendongkrak kinerja keuangan Indosat menjalankan “Lean Cost Structure”. Strategi cost structure yang lebih baik, namun tetap mendorong efektifitas dan produktifitas. Ketiga hal tersebut di atas didukung dengan program peningkatan kualitas SDM yang mumpuni, yang mampu menjawab sekaligus memenangkan kompetisi.

Last but not least, untuk memperkuat persepsi yang lebih baik, pada 19 November 2015, Indosat pun bertransformasi menjadi Indosat Ooredoo. Dengan mengawinkan nama Ooredoo, perusahaan ingin menancapkan persepsi baru sebagai pemimpin layanan digital dan menuju perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia.

Alexander-Rusli3

Kinerja Membaik
Upaya gigih yang dilakukan Alex dalam melakukan transformasi tak sia-sia. Setelah cukup lama menderita kerugian, kinerja keuangan Indosat Ooredoo mulai menghijau. Hal ini terefleksi dari laporan kinerja 2016. Laba bersih yang berhasil dibukukan Indosat Ooredoo mencapai Rp 1,1 triliun. Pencapaian ini merupakan peningkatan sebesar 184,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan laba bersih merupakan hasil dari peningkatan operasional, pergerakan mata uang yang stabil, dan utang dalam mata uang asing yang lebih rendah. Indosat Ooredoo mencatat pertumbuhan untuk pendapatan sebesar 9 persen terhadap tahun sebelumnya dengan membukukan pendapatan konsolidasi Rp 29,2 triliun untuk 2016.
Momentum keberhasilan yang telah diraih di 2016, membuat kinerja Indosat Ooredoo sepanjang 2017 diprediksi akan lebih baik lagi. Terbukti dengan pertumbuhan yang kuat pada semester pertama 2017, operator yang identik dengan warna kuning ini membukukan kenaikan laba bersih sebesar 83,2% sebesar Rp784,2 miliar.

Selain lonjakan laba bersih, Indosat Ooredoo juga berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan konsolidasi 8,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan konsolidasian tumbuh menjadi Rp15,1 triliun, utamanya didukung oleh pertumbuhan pendapatan selular sebesar 8,5% menjadi Rp12,6 triliun.

Pencapaian pertumbuhan bisnis selular tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan mencatat pertumbuhan pelanggan. Tercatat pada semester 1 2017 mencapai 96,4 juta pelanggan, meningkat sebesar 15,9 juta pelanggan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan hasil dari penawaran program-program pemasaran menarik yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup pelanggan.

Hal ini juga tidak lepas dari penambahan dan kualitas jaringan. Tercatat Indosat Ooredoo telah membangun 5.690 BTS tambahan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 92% di antaranya merupakan BTS 3G dan 4G untuk menunjang pertumbuhan penggunaan data yang sangat tinggi.

Di sisi EBITDA, Indosat Ooredoo berhasil membukukan pertumbuhan EBITDA sebesar 10,5% menjadi Rp6,7 triliun (Semester I 2016: Rp 6,0 triliun), dengan marjin EBITDA meningkat sebesar 0,9 percentage point(ppt) menjadi 44,2%.

Sementara total utang dari pinjaman bank dan obligasi juga mengalami penurunan sebesar Rp 1,9 triliun. Menurun 8,8% dibanding periode yang sama tahun lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here