Indosat Ooredoo Punya Segudang Program Pemberdayaan Wanita, Apa Saja?

DEVA Indosat

Jakarta, Selular.ID – Indosat Ooredoo terus berusaha memberdayakan perempuan Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Selama ini, tantangan terbesar wanita untuk maju karena terkukung oleh pemikiran sendiri yang menganggap era digital merupakan sesuatu yang sulit.

Jika mengacu pada jumlah pengguna seluler yang mencapai 278 juta pengguna tahun lalu, hanya 7 juta perempuan yang memiliki akses internet. Inilah yang menjadi acuan bagi Indosat Ooredoo untuk mengembangkan berbagai inisiatif. Indosat Ooredoo percaya dengan melakukan pemberdayaan perempuan melalui pemanfaatan koneksi internet akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Indosat Ooredoo sendiri mempunyai beragam program pemberdayaan wanita Indonesia, baik secara internal maupun eksternal. Di lingkup internal perusahaan, ada perkumpulan Indosat Ooredoo Women Leaders yang mempunyai pembahasan dan kegiatan berhubungan dengan digital. Kerap muncul stigma bahwa perusahaan teknologi seperti Indosat Ooredoo didominasi oleh kaum lelaki. Dari seluruh pegawai, terutama di bagian manajer ke atas, sebanyak 30 persen dipegang oleh wanita.

Sementara itu, dari sisi eksternal, Indosat juga menggagas beragam inisiatif untuk perempuan sejak 2012, diawali dengan inisiatif INSPERA (Inspirasi Perempuan Indonesia). INSPERA fokus pada pemberdayaan womenpreneurs di wilayah pedesaan Indonesia dengan menawarkan pelatihan fungsional melalui penggunaan teknologi mobile sambil memberikan bimbingan dan modal kerja.

“Fokus kita ada beberapa untuk kaum wanita. Salah satu program andalan kita adalah pemberdayaan melalui ekonomi digital, seperti digital literacy yaitu pemberian edukasi kepada kaum perempuan yang sama sekali belum melek digital, baik pemakaian mobile internet, pemanfaatan social media, dan cara membuat presentasi, sehingga kita bisa membantu mereka untuk melakukan kegiatan bisnis menjadi lebih baik. Dari tahun 2014 sampai sekarang, produk mereka sudah cukup laku karena sekarang mereka memasarkan produknya melalui social media dan platform e-commerce Cipika,” ujar Deva Rachman, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo.

Selanjutnya
[nextpage title=”Dorong Potensi Lokal”]
Dorong Potensi Lokal
Indosat Ooredoo juga menjalin kerjasama dengan Departemen Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk memberdayakan perempuan purna TKI di Sukabumi, Jawa Barat. Program ini membekali para perempuan purna TKI agar lebih berkualitas dalam bekerja serta meningkatkan keterampilan kewirausahaan agar lebih mandiri di negara asal tanpa perlu bekerja di luar negeri.

Dengan akses ke dunia digital, Indosat Ooredoo berharap purna TKI semakin mudah dalam melakukan proses pencarian informasi, komunikasi, mengatur keuangan usaha, melakukan pemasaran, atau kegiatan lainnya dengan lebih mudah dan efisien.

“Kami bekerjasama dengan multi-party seperti Departemen Ketenagakerjaan dan universitas setempat dalam hal ini adalah Universitas Padjajaran. Tahun lalu kami sudah melakukan pelatihan, dari 100 peserta pertama yang merupakan test case, sebanyak 83 persen peserta tidak ingin kembali lagi menjadi TKI karena mereka bisa menumbuhkan suatu potensi lokal yaitu burung puyuh yang bisa dikembangkan menjadi sumber penghasilan baru mereka. Untuk kebutuhan lokal saja di Indonesia, yang diperlukan 10 juta ton untuk makanan dari olahan burung puyuh,” jelasnya.

Selain purna TKI di Sukabumi, Indosat Ooredoo juga memberikan program dukungan pemberdayan wanita bagi komunitas pembatik wanita Soka Ayu dari Sokaraja, Banyumas. Selain dibimbing produksi batik yang baik dan benar, para pengrajin batik juga diberi tutorial di bidang fotografi untuk memoles foto batik mereka agar tampil memikat di tampilan online.

Indosat Ooredoo juga turut mendorong lahirnya developer perempuan, yang saat ini masih didominasi oleh laki-laki. Komitmen itu ditunjukkan melalui kegiatan Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) yang pada tahun 2016, telah membuka kategori khusus perempuan dan anak perempuan. Namun dari 3500 peserta, tercatat hanya 750 yang perempuan mengikuti kategori tersebut.

“Jumlahnya masih sedikit sekali, oleh karena itu kami membuat kuota khusus perempuan untuk mendapatkan ruang berkompetisi baik kompetisi coding, mobile competition, maupun kompetisi ide untuk membuat mobile application,” tutur wanita .