Sabtu, Oktober 31, 2020
Beranda News Rugikan Negara, Perang Tarif Selular Harus Bisa Dicegah

Rugikan Negara, Perang Tarif Selular Harus Bisa Dicegah

-

images (1)Jakarta, Selular.ID – Polemik di industri selular yang di awali rencana revisi PP 52/53 tahun 2000, nampaknya semakin meluas. Setelah masalah network sharing, tarif interkoneksi yang belum juga usai, kini polemik mulai mengarah ke perang tarif antar operator selular.

Terkait kemungkinan perang tarif jilid kedua, Ahmad Alamsyah Saragih, Komisioner Ombudsman, dalam keterangan resminya menerangkan, berbagai pihak terkait harus bisa mencegah kembali terjadinya perang harga.

Menurut Alamsyahz adanya indikasi perang harga, sudah mulai terlihat dari tarif promosi yang keluarkan beberapa operator selular.

“Memang tarif promosi diperbolehkan, namun jika promo dilakukan tanpa memiliki batas waktu yang jelas dan selalu diperpanjang. Hal tersebut, bisa termasuk dalam kategori perang harga,” tuturnya beranalisis.

Lebih lanjut, Alamsyah menilai selama ini Kementerian Komunikasi dan Informatika membiarkan sejumlah operator melakukan praktik promosi dan penjualan produk di bawah harga pokok produksi, padahal hal tersebut bisa merugikan negara.

“KPK harusnya bisa memeriksa operator telekomunikasi yang melakukan perang tarif ini. Karena ada potensi kerugian negara maka KPK bisa memeriksa praktik perang harga yang merugikan negara tersebut,” imbuh Alamsyah.

Sementara itu, Leonardo Henry Gavaza CFA, analis saham PT Bahana Securities mengatakan, PP 52/53 tahun 2000 memang diciptakan untuk kompetisi dan persaingan harga antar operator penyelenggara telekomunikasi.

“Memang revisi tersebut ditujukan untuk mendukung kebijakan perang tarif Indosat dan XL,” sesal Leonardo.

Sebagai info, XL Axiata saat ini mengeluarkan promosi Rp 59 permenit untuk tarif telpon antara operator. Sebelumnya Indosat Ooredoo mengeluarkan tarif promosi Rp 1 perdetik untuk tarif telpon antar operator.

Selain mengeluarkan tarif promosi, kedua operator tersebut juga, mengeluarkan paket bicara antar operator yang terbilang murah. Indosat Ooredoo merilis promo paket telepon ke semua operator sebulan dengan kuota 600 menit dibanderol Rp 135 ribu atau setiap menit Rp 225 permenit.

Sementara XL mengeluarkan paket telepon ke semua operator sebulan dengan kuota 600 menit dengan harga Rp 120 ribu atau Rp 200 permenit.

Jika merujuk penetapan tarif interkoneksi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 250 permenit, ini artinya kedua operator tersebut melakukan dumping atau menjual produknya di bawah harga pokok penjualan (HPP).

Pihak XL Axiata sebagai salah satu operator yang diduga melakukan perang harga melalui tarif promo, secara tegas sudah membantah hal tersebut. Bantahan itu disampaikan langsung Dian Siswarini, CEO XL.

“Yang kami lakukan hanya tarif promo. Lagian pada dasarnya, tak ada operator yang senang perang harga. Strategi itu justru merugikan dan tak sehat untuk kelangsungan industri,” kilahnya saat dijumpai Selular.ID beberapa waktu lalu.

Latest