Friday, April 10, 2020
Home Insight Bersakit-sakit Dahulu Bersenang-senang Tak Kesampaian

Bersakit-sakit Dahulu Bersenang-senang Tak Kesampaian

-

BTS Telkomsel di perbatasan (foto:Telkomsel)
BTS Telkomsel di perbatasan (foto:Telkomsel)

Selular.ID – “Baru bilang ‘halo’ saja bisa langsung habis pulsanya” ujar salah satu warga pulau Sebatik. Dia menceritakan meski tinggal di wilayah Indonesia, namun ponsel miliknya dan warga lainnya lebih kuat terkoneksi ke sinyal operator Malaysia, sehingga terkena roaming. Pulau Sebatik memang menjadi pulau perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Pulau ini terletak di bagian luar pulau Kalimantan, atau tepatnya masuk dalam provinsi Kalimantan Utara.

Susahnya ketersediaan sinyal menjadi masalah yang dialami warga di pulau Sebatik selama ini. Hal ini pun diakui oleh Bupati Nunukan, Drs. Hasan Basri, “Masyarakat di sini pakai hape, kalau beli pulsa sekalian mau beli sinyalnya” ujarnya, yang mengisyaratkan susahnya mendapatkan sinyal.

Namun keluhan itu pun kini sudah teratasi, seiring dengan pengembangan jaringan selular yang akhirnya menjangkau ke wilayah perbatasan itu. “Kuat sinyal kita di sini tidak boleh kalah dengan operator negara tetangga” ujar Mas’Ud Khamid, Direktur Sales Telkomsel, yang meresmikan kehadiran jaringan Telkomsel di Pulau Sebatik . Mas’ud Khamid pun menambahkan tidak hanya layanan basic services berupa voice dan SMS saja yang tersedia, tapi juga disediakan akses internet cepat 3G.

“Alhamdulillah, sekarang saya mudah untuk menghubungi istri, anak serta sanak keluarga di Jawa” ujar Sertu Gunawan, anggota TNI Angkatan Darat yang bertugas di perbatasan pulau Sebatik. Dia mengaku, sebelumnya sulit sekali untuk mendapatkan sinyal sehingga komunikasi dengan keluarga jarang dilakukan.

Nasib serupa juga terjadi di wilayah perbatasan lainnya. Yaitu di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, tepatnya di Desa Kewar, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah ini sinyal Telkomsel sudah masuk dan tersebar, sehingga memudahkan komunikasi warga Desa Kewar.

Pulau Sebatik dan Desa Kewar, menjadi gambaran kebutuhan telekomunikasi yang ternyata masih belum merata. Dan ini juga terjadi di beberapa wilayah perbatasan Indonesia lainnya. Telkomsel menjadi operator yang berinisatif untuk menembus wilayah perbatasan.

Hingga saat ini Telkomsel telah menancapkan 627 base transceiver station (BTS) di perbatasan Indonesia dengan beberapa negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Timor Leste, Australia, Filipina, dan Papua Nugini. Antara lain di Pulau Laut di Natuna berbatasan dengan Vietnam, Pulau Kisar perbatasan Timor Leste, Sei Nyamuk Nunukan dan Entikong perbatasan Malaysia, Pulau Breueh di Aceh berbatasan dengan Thailand, Marore dan Miangas perbatasan Filipina, Pulau Rote dan Sabu berbatasan dengan Australia, serta Papua berbatasan dengan Papua Nugini.

Ririek Adriansyah Direktur Utama Telkomsel mengatakan, “Menghadirkan jaringan telekomunikasi hingga wilayah perbatasan negara merupakan wujud nyataTelkomsel dalam melayani seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali.”

Dari 627 BTS yang ada di perbatasan, 148 BTS di antaranya merupakan BTS 3G yang mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam mengakses layanan internet. “Beroperasinya BTS 3G Telkomsel di perbatasan negara menjadi upaya kami dalam menyediakan layanan broadband yang merata” jelas Ririek.

Lebih lanjut Ririek menerangkan, pembangunan jaringan di pulau terluar maupun perbatasan juga dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan nasional sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah. Ke depannya, Telkomsel berupaya memperluas jangkauan jaringan di wilayah Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Strategi Pengembangan Jaringan
Jika dilihat dari sudut pandang komersial, upaya yang Telkomsel tersebut bisa dikatakan agak di luar akal. Di derah perbatasan di mana jumlah pengguna layanan telekomunikasi nya masih sedikit, tentu jauh dari untung. Untuk apa mau bersusah payah mengembangkan jaringannya hingga ke pelosok ?

Jawabnya, ini ternyata menjadi strategi Telkomsel dalam menyebar jaringannya. “Ada tiga kategori dalam membangun jaringan yang dilakukan oleh Telkomsel, yaitu program USO (Universal Service Obligation), Telkomsel Merah Putih dan Reguler” ujar Ririek.

Lebih lanjut Ririek menjelaskan kategori Reguler berarti jaringan dibangun di area yang memang layak dibangun, baik dari sisi layanan maupun bisnis. Sedangkan Telkomsel Merah Putih secara hitung-hitungan awal masih rugi. “ Meski rugi, namun kami yakin dengan hadirnya jaringan selular maka dapat menumbuhkan ekonomi, sehingga nanti ke depannya akan menguntungkan” tambah Ririek. Dan untuk USO, menurut Ririek meski tidak dinilai tidak akan untung, namun ini menjadi bagian dari komitmen Telkomsel sebagai operator yang kepemilikannya masih didominasi oleh bangsa sendiri.

Program USO sendiri merupakan bentuk kewajiban pemerintah untuk memberikan layanan telekomunikasi kepada masyarakat. Kewajiban ini dilakukan untuk mengurangi kesenjangan digital di daerah khususnya daerah pedesaan, tertinggal, dan terluar. Telkomsel sendiri berhasil menjadi pemenang tender proyek USO ini.

Untuk program Telkomsel Merah Putih, ini menjadi strategi Telkomsel dalam memperluas jaringannya hingga menembus daerah pedesaan dan industri terpencil. Seperti di daerah pengeboran lepas pantai, hutan, puncak bukit dan bahari. Program yang berjalan sejak tahun 2008 ini telah berhasil membangun sekitar 400 BTS. Telkomsel telah menggelar solusi BTS Merah Putih di ratusan wilayah yang belum terakses telekomunikasi, mulai dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Selain di daratan, Telkomsel juga menginstalasi BTS di 16 kapal Pelni untuk melayani komunikasi di jalur laut. Saat ini Telkomsel juga sedang melakukan uji coba implementasi solusi jaringan serupa di kapal Inerie II milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) dengan rute Kupang-Rote-Larantuka.

Belakangan Telkomsel pun mulai menyasar industri pariwisata. Dengan giat memperkuat jaringannya di beberapa lokasi pariwisata. Seperti yang dilakukanTelkomsel dengan meng-cover wilayah Pulau Komododan sekitarnya. Telkomsel mengklaim jaringannya di Pulau Komodo mampu melayani kebutuhan komunikasi suara hingga 5.000 pengguna atau melebihi populasi penduduk Pulau Komodo yang mencapai sekitar 4.000 jiwa.

Telkomsel juga mengaktifkan jaringannya ke lokasi wisata di tanah Papua. Yaitu di daerah-daerah sekitar lokasi wisata Raja Ampat. Bahkan jaringannya sudah berteknologi 4G. “Adanya koneksi 4G Telkomsel diharapkan membuat, nama Raja Ampat sebagai lokasi wisata tingkat dunia akan semakin diketahui banyak pelancong,” terang Adita Irawati, Vice President Corporate Communications Telkomsel.

Hingga kini Telkomsel sudah memperkuat jaringannya di 12 destinasi wisata terkenal di Indonesia. Antara lain Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Toba (Sumatera Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Tanjung Lesung (Banten), Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Bunaken (Sulawesi Utara), dan Raja Ampat (Papua Barat).

Sebagai sebuah korporasi, tentu ada strategi komersial terkait pengembangan jaringannya. Telkomsel pun mengincar wilayah-wilayah yang menguntungkan secara bisnis. Ekspansi jaringan terus dilakukan, termasuk untuk layanan 4G LTE.

Tahun 2016 ini Telkomsel untuk memperluas jaringan 4G miliknya hingga menyambangi di lebih dari 100 kota kabupaten. Antara lain kota kabupaten di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara serta Papua.

Dalam mengekpansi layanan 4G, Telkomsel sudah memiliki 4.500 BTS 4G (eNode B) dengan jumlah 5 juta pelanggan 4G. Telkomsel pun mengklaim layanan 4G –nya mendapat respon positif dari para pelanggan. “Hal ini bisa dilihat dari laju pertambahan pengguna 4G Telkomsel yang melonjak hingga 12 kali lipat, dari pertama kali diluncurkan” tutur Ririek. Dengan respon positif tersebut, Telkomsel menargetkan 12 juta pelanggan 4G hingga akhir tahun 2016 ini.

True Broadband Experience
Agresifnya Telkomsel dalam membangun jaringan, tidak lepas dari program peningkatan kualitas layanan mobile broadband dengan nama True Broadband Experience (TrueBEx).
Sukardi Silalahi, Direktur Network Telkomsel, mengatakan bahwa seiring dengan terus meningkatnya penggunaan layanan data, Telkomsel fokus memberikan layanan dengan kualitas prima, sehingga para pelanggan akan mendapatkan pengalaman terbaik. “Program Truebex selain penyediaan jaringan broadband di berbagai kota yang meliputi 1000 POI (Point of Interest), kami juga memastikan kecepatan akses layanan data dan stabilitas koneksi jaringan tetap terjaga,” ungkapnya.

Program TrueBex meliputi kombinasi antara kota-kota besar dan kota-kota yang memiliki potensi penggunaan layanan broadband yang tinggi, seperti diantaranya Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Yogyakarta dan Semarang.

Berbagai upaya Telkomsel dalam menjalankan program TrueBEx, diantaranya Drive Test & Walk Test, Optimalisasi Jaringan, Pemasangan COMBAT (Compact Mobile Base Station), Penambahan BTS Baru dan Kapasitas Jaringan, Customer Experience Test (CET), serta Performance Monitoring & Complaint Handling. Selain itu dilakukan pula implementasi DC-HSDPA dan HSPA+, sehingga throughput kecepatan dapat mencapai 42 Mbps. “Kami melakukan serangkaian aktivitas untuk memastikan keberlangsungan program TrueBEx, diantaranya dengan melakukan pengukuran secara berkala dan sertifikasi internal untuk kelayakan jaringan. Hal ini kami lakukan agar pelanggan betul-betul dapat merasakan layanan data yang handal ketika berada di jaringan Telkomsel”, papar Sukardi.

Untuk mengukur dan memastikan kualitas layanan, Telkomsel melakukan sertifikasi TrueBEx yang dilakukan berdasarkan pengukuran uji kecepatan akses data broadband di berbagai cluster (wilayah), termasuk di dalamnya lokasi POI yang menjadi pusat keramaian publik, seperti Bandar Udara, Terminal Bis, Stasiun Kereta, Dermaga, Rumah Sakit, Area Padat Populasi, Pasar Tradisional, Lokasi Industri, Mal, Gedung Bertingkat dan Sekolah/Kampus.

Kualitas jaringan di lokasi-lokasi POI diukur berdasarkan hasil customer experience test yang melibatkan langsung beberapa pelanggan untuk mendapatkan kesan dan masukan mereka terkait pengalaman menggunakan layanan broadband Telkomsel.

Berbagi Jaringan
Berbagai upaya pengembangan jaringan yang dilakukan Telkomsel , semakin mengukuhkan sebagai operator yang memiliki jaringan paling luas. Secara nasional Telkomsel telah menggelar lebih dari 118.000 BTS hingga penjuru Tanah Air yang menjangkau hingga 95% wilayah populsi penduduk Indonesia. Ini berbeda jauh dengan Indosat Ooredoo yang hingga kuartal pertama 2016 jumlah BTS-nya ‘baru’ mencapai 52.326 BTS. Begitu juga dengan XL yang hingga akhir Maret 2016 memiliki 59.040 BTS.

Itulah mengapa ketika belakangan ini muncul rencana penerapan berbagi jaringan atau lebih dikenal dengan ‘Network Sharing’ oleh pemerintah, Telkomselmenjadi pihak yang berkeberatan. Konsep Network Sharing adalah penggunaan jaringan aktif secara bersama oleh para operator. Secara gamblangnya, jika misalkan Telkomsel memiliki jaringan di suatu daerah, maka operator lain yang tidak memiliki jaringan bisa menggunakan jaringan milik Telkomsel. Pemerintah berdalih, efisiensi menjadi alasan akan diterapkannya kebijakan Network Sharing. Peraturan mengenai Network sharing tengah didorong melalui revisi PP 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi dan PP 53 tahun 2000 tentang spectrum sharing.

Beberapa pun kalangan mengkhawatirkan Network sharing justru membuat ada operator yang enggan untuk membangun jaringannya ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Namun hanya mengincar daerah yang potensial secara bisnis. Padahal menurut Undang-Undang Telekomunikasi dan Modern Licensing, operator telekomunikasi wajib membangun jaringan sesuai komitmen. Pembangunan tak hanya di daerah yang menguntungkan saja, tetapi juga harus membangun di berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk di daerah yang kurang terpencil dan wilayah perbatasan Indonesia.

Hal senada disampaikan Garuda Sugardo anggota Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DetikNas). Menurutnya jika Network Sharing tidak diikuti dengan komitmen pembangunan infrastuktur, dia menduga yang paling diuntungkan dari rencana ini adalah operator yang kepemilikannya dikuasai asing. Sebab mereka tak perlu capek-capek membangun jaringan di wilayah terpencil atau kurang menguntungkan, tapi cukup mendompleng operator penyelenggara jaringan yang sudah ada.

“Seharunya operator asing yang telah mengantungi izin penyelenggaraan jaringan telekomunikasi wajib membangun jaringan Telekomunikasi baik daerah yang ‘gemuk’ maupun yang ‘kurus’ “ ungkap Garuda. Menurutnya konsep berbagi jaringan itu saling berbagi bukan yang satu berbagi tapi yang lain minta bagian. Itu tidak adil dan bertendensi berpihak. Garuda menjelaskan, tidak ada keharusan Telkomsel untuk menerima konsep network sharing dengan sesama operator seluler, selama Telkomsel hanya diposisikan selaku “donatur” jaringan. Jika diposisikan saling berbagi dan memenuhi koridor business-to-business, mungkinTelkomsel bisa menerima konsep network sharing.

Wajar saja jika Telkomsel keberatan dengan rencana Netwrok Sharing. Karena saat Telkomsel sudah menggelar jaringannya dengan luas, begitu rencana ini dilaksanakan maka operator lain berpotensi untuk menumpang ke jaringan Telkomsel. Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel pun menegaskan, seharusnya jika mau diterapkan Network Sharing modelnya harus business to business antar operator. “Jika Network Sharing diwajibkan dikhawatirkan operator akan saling menunggu siapa yang akan membangun jaringan. Karena begitu ada operator yang membangun jaringan, maka operator lain bisa ikut nimbrung di jaringan tersebut” ungkap Ririek.

Lebih lanjut Ririek menjelaskan, efek lain dari Network Sharing yaitu akan sulit untuk menjaga kualitas jaringan. “Misalkan di suatu daerah hanya dibangun satu jaringan, dan dipakai bersama-sama oleh beberapa operator, jika jaringan tersebut koleps, maka semua layanan operator juga ikutan koleps. Tapi tidak begitu jika ada beberapa jaringan, jika yang satu koleps, masih ada jaringan lainnya” terang Ririek.

Pendapat juga disampaikan oleh Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB M Ridwan Effendi . Menurutnya network sharing di seluruh dunia merupakan jenis kebijakan insentif dari pemerintah untuk memperluas akses telekomunikasi masyarakat yang daerahnya belum terjamah operator manapun. Bukan untuk membantu pemain yang tidak mau membangun agar dapat mengefisiensikan biaya belanja modal dan operasionalnya.

Ridwan menambahkan, Telkomsel dalam menggelar jaringan di luar Jawa biasanya mengalami pain period karena trafik tak langsung datang. “Kalau dilihat di laporan keuangannya, itu ada 16.000 BTS harus disubsidi setiap bulannya oleh Telkomsel demi melayani masyarakat. Jadi, saya bingung kalau ada operator yang enggan membangun didukung pemerintah, sementara ada yang sudah bersusah payah, malah mau dibebani lagi, tutupnya. Ibarat pepatah yang diplesetkan, ‘bersakit-sakit dahulu bersenang-senang tak kesampaian’.

TERBARU

Bantu Tunanetra, Google Luncurkan Braille Keyboard ‘Talkback’

Jakarta, Selular.ID - Google baru saja mengumumkan keyboard yang baru diluncurkannya, yakni sejenis Braille. Papan...

Menilik Lebih Dalam Kemampuan Kamera Oppo Find X2 Series...

Jakarta, Selular.ID - Besaran Megapiksel tak selalu menjadi tolak ukur kualitas kamera, melainkan ada...

Huawei Mempertimbangkan Chipset 5G dari Samsung dan MediaTek

Jakarta, Selular.ID - Larangan perdagangan antara Huawei dan AS mempengaruhi kedua belah pihak. Banyak...

Latest