Monday, April 6, 2020
Home News Network Sharing Dikhawatirkan Hanya Sebagai Strategi Bisnis

Network Sharing Dikhawatirkan Hanya Sebagai Strategi Bisnis

-

btsJakarta, Selular – Peraturan network sharing atau berbagi jaringan yang sedang menunggu persetujuan dari pemerintah, tampaknya masih menyimpan polemik. Masih ada yang mempertanyakan apakah ini solusi terbaik bagi kelangsungan industri telekomunikasi di Tanah Air ?

 

Peraturan mengenai Network sharing tengah didorong oleh beberapa operator seperti Indosat dan XL untuk dapat diloloskan. Yaitu melalui revisi PP 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi dan PP 53 tahun 2000 tentang spectrum sharing. Beberapa kalangan mengkhawatirkan dengan adanya Network sharing ini membuat para operator yang kepemilikkannya mayoritas dikuasai pihak asing, enggan untuk membangun jaringannya ke berbagai pelosok daerah di Indonesia. Namun hanya mengincara daerah yang potensial secara bisnis.

 

 

Menurut Marsekal Pertama Ir Prakoso, Wakil Ketua Desk Ketahaan dan Keamanan Cyber Nasional, Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, network sharing  juga tak boleh melupakan kithah operator penyelenggara jaringan untuk tetap membangun infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Selama ini operator telekomunikasi yang sahamnya dikuasai asing hanya mau membangun di daerah yang mempunyai nilai ekonomis saja. “Padahal NKRI bukan hanya di Jakarta atau di Jawa saja. Jangan sampai network sharing hanya dijadikan alasan bagi operator telekomunikasi untuk tak membangun jaringan telekomunikasi di daerah terpencil,” terang Prakoso

 

Menurut Prakoso, seharusnya para operator telekomunikasi yang sahamnya dikuasai asing juga harus terlibat dalam membangun jaringan telekomunikasi yang terintegrasi dengan pemerintah hingga tempat terpencil dan daerah perbatasan. Sehingga tak hanya satu jaringan telekomunikasi saja yang ada di daerah perbatasan atau di daerah terpencil. Tujuannya adalah jika terjadi kegagalan dalam satu jalur jaringan tidak akan menyebabkan kegagalan jaringan dalam waktu yang lama (system redundansi).

 

“Meskipun mereka adalah perusahaan asing, namun mereka juga harus memiliki kontribusi positif terhadap pembangunan nasional khususnya dalam ketahanan nasional di bidang telekomunikasi dan Cyber. Karena mereka telah melakukan kegiatan usaha dan memakai sumberdaya terbatas (frekuwensi) yang dimiliki oleh Indonesia ,”terang Prakoso.

 

Sejatinya sesuai UU Telekomunikasi dan Modern Licensing, operator telekomunikasi wajib membangun jaringan telekomunikasi sesuai komitmen pembangunan. Pembangunan tak hanya di daerah yang menguntungkan saja. Tetapi para penyelenggara jaringan telekomunikasi juga harus membangun di diberbagai wilayah di Indonesia. Termasuk di daerah yang kurang menguntungkan, terpencil dan wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga.

 

Hal senada juga disampaikan Garuda Sugardo anggota Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DetikNas). Menurutnya jika network sharing tidak diikuti dengan komitmen pembangunan infrastuktur, dia menduga yang paling diuntungkan dari  rencana berbagi jaringan aktif  adalah operator telekomunikasi asing. Sebab Operator telekomunikasi asing tak perlu capek-capek membangun jaringan di wilayah terpencil atau kurang menguntungkan. Mereka cukup mendompleng operator penyelenggara jaringan yang sudah ada.

 

Menurut Garuda Sugardo, seharunya operator asing yang telah mengantungi izin penyelenggaraan jaringan telekomunikasi wajib membangun jaringan Telekomunikasi baik daerah yang gemuk maupun yang kurus.“Menurut saya konsep berbagi jaringan itu saling berbagi bukan yang satu berbagi tapi yang lain minta bagian. Itu tidak adil dan bertendensi berpihak. Apalagi kepada operator yang sudah “menggadaikan” jaringan kepada vendor secara managed service,” ujarnya.

 

Garuda menjelaskan, tidak ada keharusan Telkomsel untuk menerima konsep network sharing dengan sesama operator seluler, selama Telkomsel hanya diposisikan selaku “donatur” network. Jika diposisikan saling berbagi dan memenuhi koridor business-to-business, mungkin Telkomsel bisa menerima konsep network sharing.

 

Garuda menuding operator yang mengandalkan network sharing dan engan untuk membangun jaringan adalah sebagai operator pemalas. “Pemerintah harus mewaspadai operator ‘pemalas’ yang engan membangun infrastruktur telekomunikasi. Padahal mereka telah mengantungi ijin penyelenggaraan Operator Jaringan dan Operator Layanan,” tegas Garuda.

 

Selain itu, menurut Ridwan Effendi, Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, network sharing di seluruh dunia merupakan jenis kebijakan insentif dari pemerintah untuk memperluas akses telekomunikasi masyarakat yang daerahnya belum terjamah operator manapun. Bukan diperuntukkan untuk membantu operator telekomunikasi yang malas membangun jaringan. Para operator tersebut hanya menjadikan network sharing sebagai kedok agar dapat mengefisiensikan biaya belanja modal dan operasionalnya. “Kalau dilihat dari pemberitaan di media massa network sharing yang digulirkan seperti ingin membantu pesaing Telkom Group untuk tidak perlu melakukan subsidi investasi memasuki pasar luar Jawa seperti yang dialami operator pelat merah itu” ujar Ridwan.

TERBARU

Smartphone Xiaomi Bakal Punya Kamera 144MP?

Jakarta, Selular.ID - Belum puas dengan kamera 108MP pada Mi Note Pro, Xiaomi rupanya...

Skype Rilis Fitur Baru Meet Now

Jakarta, Selular.ID - Skype manfatkan situasi saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, Skype dilaporkan...

Di Likee bisa Konsultasi Kesehatan secara Online

Menanggapi keadaan darurat kesehatan global akibat pandemi COVID-19, Likee, platform pembuatan video pendek global,...

Latest