Monday, September 16, 2019
Home News Ternyata Surabaya Sudah Menerapkan Kota Pintar Sejak 2002

Ternyata Surabaya Sudah Menerapkan Kota Pintar Sejak 2002

-

image

Jakarta, Selular.ID – Konsep smart city atau kota cerdas kini mulai diterapkan di berbagai kota besar di Indonesia. Konsep ini merupakan impian bagi kota-kota di Indonesia karena diyakini bisa menyelesaikan berbagai masalah perkotaan seperti kemacetan, penumpukan sampah, dan keamanan warga kota.

Konsep kota cerdas ini mengetengahkan sebuah tatanan kota yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat.

Beberapa kota besar di Indonesia yang sudah menerapkan konsep smart city salah satunya Surabaya. Tri Rismaharini, Walikota Surabaya menjelaskan bahwa Surabaya sudah menerapkan konsep kota cerdas sejak tahun 2002. Bahkan menjadi pionir penerapan konsep itu di Indonesia.

Menurut Risma, konsep e-government dan e-procurement sudah diterapkan di Kota Surabaya 14 tahun yang lalu. Dengan kemajemukan lokal yang ada di masyarakat Surabaya. Hal ini diwujudkan dengan adanya 3 mode bahasa di aplikasi e-kiosk (Kios Pelayanan Publik) yang terdiri dari bahasa Indonesia, bahasa jawa dan bahasa madura. Sehingga warga semakin mudah dalam memahami cara kerja aplikasi yang terdapat di e-kiosk, diantaranya e-health (aplikasi layanan kesehatan) dan e-Lampid (aplikasi pengurusan data kelahiran, kematian, kepindahan & kedatangan), tentunya dengan mode bahasa yang mereka pahami.

Sementara konsep lainnya seperti e-budgeting, e-delivery, e-controlling, dan e-monitoring diterapkan kemudian. Dalam konsep e-monitoring, pemerintah kota Surabaya misalnya bisa memantau situasi seluruh kota, mulai dari lalu lintas jalan raya hingga kondisi tempat pembuangan sampah.

β€œDalam pemantauan sampah ini saya harus tahu sampah yang masuk ke TPA itu setiap hari ada berapa ton. Kemudian nomor truknya berapa saja. Dari mana saja truk itu. Nah saya harus memantau seperti itu,” ujarnya.

Risma menuturkan dengan penyerapan kota pintar yang sudah diterapkan di kota pahlawan ini mampu menekan biaya dan hemat hingga 20%, karena saat ini di Surabaya segela pengurusan sudah jarang menggunakan kertas, semua dilakukan online.

Risma menambahkan, tidak hanya itu untuk meratakan penyerapan broadband di kotanya, saat ini Surabaya memiliki 39 broadband learning center, masing-masing tempat ini didukung oleh tenaga pelatih yang mengajarkan apa saja mengenai broadband sehingga sejak dini, masyarakat Surabaya sudah paham dengan broadband.

Disinggung mengenai kendala, Risma menuturkan tidak terlalu banyak kendala di lapangan yang menghambat pengembangan kota pintar, karena masyarakat Surabaya sudah merasakan manfaatnya sehingga mereka selalu mendukung dan tidak mempersulit pembangunan smart city di Surabaya.

Latest