Friday, September 20, 2019
Home Fokus Migrasi ke Digital, Pendapatan Iklan TV Diprediksi Semakin Anjlok

Migrasi ke Digital, Pendapatan Iklan TV Diprediksi Semakin Anjlok

-

analog-digital-hdtv-tvJakarta, Selular.ID – Tahun 2015 baru saja kita tinggalkan. Ada beberapa fakta menarik yang terjadi sepanjang tahun lalu, diantaranya menyangkut tren belanja iklan di TV. Selama bertahun-tahun sejak dimulainya komersialisasi TV swasta pada era ‘80an, untuk pertama kalinya para pengelola stasiun TV melihat kenyataan bahwa mereka tak lagi mampu mendulang pendapatan iklan sesuai harapan.

Riset yang dilansir Adstensity hingga 30 November 2015, menunjukkan total belanja iklan TV menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu belanja iklan TV mencapai Rp 99 triliun (66% dari total pendapatan iklan nasional), maka sepanjang 2015 diprediksi hanya meraup Rp 71.4 triliun.

Pasalnya, hingga 1 Januari 2015 – 30 November 2015, perolehan iklan TV baru mencapai Rp 65,5 triliun. Terdapat gap sejumlah Rp 33,4 trilliun di satu bulan terakhir tahun 2015.  Dengan rata-rata belanja per bulan sebesar Rp 5,9 trilliun dapat dipastikan, tambahan pendapatan pada Desember 2015, tetap tak mampu menyamai angka belanja iklan TV pada tahun lalu.

Hasil ini bukan saja lebih menurun, namun juga meleset jauh dari target yang pernah disebutkan PPPI. Sebelumnya, pada akhir November 2014, Ketua PPPI Harris Thajeb menyebut target belanja iklan nasional untuk tahun 2015 adalah Rp 172,5 triliun, dengan sumbangan iklan TV mencapai Rp 113,5 triliun. Dihitung dari target ini, perolehan iklan TV 2015, hanya tercapai 62,9%.

Perlambatan ekonomi boleh jadi penyebab utama, yang ditandai oleh memburuknya kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika, sehingga banyak rencana belanja Iklan tidak dapat dieksekusi dengan baik.

Selain kondisi ekonomi yang tak kondusif, belanja iklan digital yang menunjukkan peningkatan, juga membuat perolehan iklan TV menjadi terpangkas sangat dalam. Kondisi semakin runyamnya, karena sejak akhir tahun lalu, operator sudah meluncurkan layanan LTE di 1.800 Mhz, yang mampu menawarkan kecepatan layanan data hingga 3 kali lipat dibandingkan 3G.

Dengan teknologi LTE, diprediksi akan lebih banyak lagi konten video yang dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan sendirinya, pola advertising pun akan berpindah ke website dan konten video seperti Youtube dan lain sebagainya.

Saat ini lebih dari 50% konsumsi video diperkirakan telah dinikmati lewat perangkat mobile., seperti smartphone dan tablet. Pada akhirnya, banyak penyedia layanan aplikasi dan e-commerce yang sekarang menerapkan kebijakan mobile first. Jadi saat mereka membuat aplikasi atau layanan, platform mobile akan menjadi prioritas utama. Dengan demikian, pertumbuhan mobile advertising di 2016 diyakini bakal lebih tinggi lagi.

Layanan mobile advertising juga tampaknya tak lagi didominasi oleh korporasi besar. Contohnya operator seperti XL mulai menyiapkan platform layanan DigiBiz untuk dunia UKM. Mobile advertising dinilai sangat affordale untuk UKM mengingat beberapa keunggulannya dibanding model iklan konvensional lainnya, juga efektifitas dan pilihan harganya.  Diyakini, mobile advertising yang akan ‘mendemokratisasi’ dunia iklan yang selama ini identik dengan biaya mahal dan hanya untuk brand besar.

Latest