spot_img
BerandaChattingSerius Membangun Brand Awareness

Serius Membangun Brand Awareness

-

Jason Guo Yingshuai - Marketing Communication Director ZTE Indonesia
Jason Guo Yingshuai – Marketing Communication Director ZTE Indonesia

Sudah sejak tahun 2001 ZTE menapakkan kaki bisnisnya di Indonesia. Termasuk masuk ke pangsa pasar ponsel Tanah Air. Namun awalnya vendor asal Tiongkok ini lebih memilih menggarap  pasar close market.  Ponsel ZTE masuk secara ‘sembunyi-sembunyi’ melalui operator selular yang memesannya. Operator pula yang memasarkan ponsel ini yang terkadang tanpa menyertakan merek vendor pembuatnya, melainkan lebih menonjolkan merek operator tersebut.

Tren pasar smartphone pun kini berubah. Pasar open market mulai tumbuh. ZTE pun tergiur untuk mencicipinya. Sejak sekitar dua tahun belakangan vendor ini mencoba untuk memasukkan dan memasarkan sendiri produknya ke pasar Indonesia. Kini ZTE menjual langsung ke pengguna tanpa melalui perantara operator.

Berada di antara persimpangan dua pangsa pasar yang berbeda, ke mana ZTE akan melangkah? Bagaimana pula peluang ZTE di tengah serbuan vendor ponsel baru yang masuk ke Indonesia? Untuk membahas lebih jauh, Selular melakukan wawancara secara eksekutif dengan Jason Guo Yingshuai, Marketing Communication Director ZTE Indonesia.

Bagiamana ZTE melihat pasar ponsel di Indonesia?

Kondisi pasar sangat dinamis. Contohnya tahun lalu saja penjualan dari beberapa vendor ternama yang merek produknya sudah sangat melekat di pengguna, ternyata tidak tumbuh signifikan. Begitu juga beberapa vendor baru yang cukup melejit, pertumbuhan penjualannya tidak seperti yang diprediksikan. Termasuk kondisi vendor lokal yang juga menghadapi tantangan yang sulit.

Lalu bagaimana strategi ZTE menghadapi kondisi itu?

Sebenarnya kondisi pasar masih sangat potensial. Dan ZTE punya strategi tersendiri. Kami memproduksi produk dengan kualitas tinggi serta berharga terjangkau. Dari sisi kualitas masih unggul dibandingkan brand baru, dan dari sisi harga lebih terjangku dibandingkan brand besar. Produk smartphone jika diperhatikan terlihat sama saja. Perbedaannya justru terletak pada quality control, paten  dan user experience-nya. Dan ZTE berkompeten dalam hal itu, dan yakin bisa bertahan di pasar.

Bagaimana dengan strategi branding yang dilakukan ZTE?
Untuk mengelola brand memang tidak mudah. ZTE sendiri sebenarya sudah dikenal lama di pasar ponsel Indonesia. Tapi memang di beberapa daerah yang bukan perkotaan, pengguna di sana belum familiar dengan brand ZTE. Dan itu tantangan buat kami.

Sejak tahun lalu sebenarnya kami sudah memulai investasi untuk membangun brand. Seperti melakukan iklan di beberapa media besar dan juga program marketing digital di internet. Kami berharap dari situ pengguna perlahan-lahan bisa mengenal brand ZTE.

Sebenarnya pengguna di Indonesia sudah terbiasa menggunakan produk ZTE. Beberapa operator di Indonesia mengandalkan kami untuk membuat produk mulai dari ponsel hingga Mifi (Mobile WiFi). Yang paling terbaru ZTE menghadirkan perangkat MiFi 4G untuk Bolt. Lalu disusul dengan produk smartphone 4G juga untuk 4G. Dan produk tersebut ternyata diminati, buktinya pengguna Bolt kini sudah mencapai lebih dari 1 juta pengguna.

Contoh lainnya yaitu Gojek. Layanan ojek ini juga memilih ZTE sebagai partner dalam penyediaan smartphone untuk digunakan para pengemudi ojek. Kerjasama awal Gojek memesan 600 unit smartphone. Dan sekarang pesanan smartphone untuk Gojek sudah mencapai 3 ribu unit. Saya pun sempat bertanya mengapa pilih ZTE. Mereka menjawab karena saat produk pertama, tidak ada komplain mengenai kualitas. Ini menjadi kisah sukses lainnya bagi ZTE untuk bisa bersaing di pasar. Sekaligus membuktikan bahwa kualitas produk ZTE memang bagus.

Jason-Guo-Yingshuai-3Pengguna sebenarnya sudah familiar dengan produk buatan ZTE, tapi mengapa tidak dengan brand-nya?
Bisa jadi karena efek ZTE yang bermain di close market. Ini memang tantangan bagi ZTE. CEO kami juga mengungkapkan membangun brand membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sebenarnya di negara lain ZTE cukup bagus. Seperti di pasar Amerika ZTE pernah menduduki peringkat empat vendor di sana. Di Amerika pun ZTE bermain di close market. Pengguna membeli handset hanya dari operator. Tapi tahun ini ZTE akan melanjutkan untuk strategi meningkat invetasi di marketing dan brand awareness di Indonesia. Bahkan dengan nilai sekitar empat kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Ke depannya akan fokus di closed market atau open market?
Kami memiliki dua jalan bisnis. Dan tidak bisa meninggalkan begitu saja keduanya. Kerjasama close market dengan operator, potensi pasarnya masih terbilang besar. Kami juga sudah berpengalaman di  pasar ini, sudah terbiasa dengan bisnis model ini. Di open market kami memang baru memulai, terutama di pasar Indonesia. Di Cina ZTE sudah lama open market. Tapi di negara lain ZTE baru memulai tahun lalu. Kami masih belajar.

Adakah strategi khusus yang dilakukan ZTE untuk bermain di open market?
ZTE melihat pasar ponsel di Indonesia masih didominasi oleh permintaan handset segmen low end atau berharga terjangkau. Yaitu handset berharga sekitar di bawah Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Di area itulah ZTE bermain. Itu yang menjadi strategi awal dari ZTE.

ZTE tidak berkompetisi langsung dengan beberapa vendor yang lebih menyasar segmen middle to high. Tapi kami juga tetap memperhatikan segmen middle to high, tapi memang volumenya tidak besar pasar low end. Strategi lainnya yaitu dengan memperkuat brand awareness. Karena brand menjadi hal yang penting untuk masuk ke open market.

Ke depannya, bagaimana ZTE melihat potensial pasar ponsel di Indonesia?
Potensi ada di 4G. Layanan ini mulai berkembang tahun ini di Indonesia. Mulai tahun ini pula smartphone 4G akan booming. ZTE tentu juga akan menyasar pasar ini. Apalagi kami sudah sangat berpengalaman di pasar 4G, tidak hanya handset tapi juga jaringan. ZTE juga termasuk vendor yang dipercaya operator untuk membangun jaringan 4G di Indonesia.

Di Cina sendiri ZTE juga menjadi vendor 4G nomor satu. Salah satunya dengan mendukung pembangunan jaringan 4G untuk operator Cina Mobile. Kini jumlah pelanggan 4G China Mobile sudah mencapai 100 juta pengguna.

Bagaimana ZTE menanggapi aturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) yang diberlakukan pemerintah?
Berbicara mengenai lokal konten, bukan sesuatu yang baru bagi ZTE. Pemerintah Indonesia sudah pernah memberlakukan aturan yang sama saat hadirnya layanan Wimax beberapa tahun lalu. Saat itu ZTE pun sudah dipercaya menyediakan jaringan dan juga handset kepada First Media sebagai penyedia produk Sitra WImax. Juga oleh Berca dengan produknya yang bernama Wigo. Dan saat itu ZTE sudah mematuhi peraturan yang diberlakukan.

Sebenarnya ZTE juga sudah menggandeng beberapa partner lokal untuk memenuhi peraturan lokal konten. Sudah menjadi komitmetn ZTE untuk mengikuti peraturan pemerutah. Karena bagi kami jika ingin masuk ke pasar suatu negara maka harus mengikuti peraturan yang berlaku di negara tersebut.

Artikel Terbaru