BerandaInsightSamsung Alami Siklus Tahta Raja Ponsel?

Samsung Alami Siklus Tahta Raja Ponsel?

-

Foto: thenextweb.com/
Foto: thenextweb.com/

Jakarta, Selular.ID – Bermodalkan sistem operasi Android, Samsung terus melebarkan sayap bisnisnya di industri mobile dengan mempunyai segudang portofolio produk. Mulai dari feature phone, smartphone, phablet, hingga tablet. Secara keseluruhan, manufaktur kebanggaan Korea Selatan itu membanjiri pasar dengan total 37 tipe produk, dengan menyasar segala segmentasi.

Di samping punya banyak produk, salah satu resep sukses pabrikan asal Korea Selatan ini adalah memiliki marketing budget yang besar. Mereka tidak mempermasalahkan biaya demi kepentingan branding. “Samsung sangat jor-joran memasang iklan dimana-mana, mau di billboard, website, bahkan televisi, pasti semua ada,” ujar petinggi sebuah jaringan retail terkemuka yang tak mau disebutkan namanya kepada Selular.ID (12/1/2015).

Kendati memegang gelar sebagai market leader, namun tidak lantas membuat posisi Samsung aman. Karena persaingan yang semakin sengit. Kompetitor bergerak dengan amat lincah. Buktinya, penjualan Samsung mengalami penurunan di tahun lalu dan lebih kecil ketimbang di 2013. Pada periode triwulan terakhir tahun fiskal 2014, terjadi penurunan yang cukup signifikan yakni sebesar 49 persen.

(Baca juga: Pendapatan Samsung Semakin Merosot)

Nyaris di semua segmen, Samsung ditekan dengan ketat. Di level atas, kompetitor lawas seperti Apple, LG dan Sony terus kuat. Termasuk pemain baru seperti Oppo yang agresif. Di kelas menengah, mendapat gempuran kuat dari pesaing baru yang diberi julukan second layer, seperti Xiaomi, Asus, dan Acer. Mereka berani menawarkan produk mumpuni namun dengan harga terjangkau. Begitupun di segmen bawah, vendor ponsel lokal bertarung dengan sengit. Menurut sumber Selular.ID, inilah yang kemudian membuat brand besar seperti Samsung kesusahan menggaet konsumen karena pembeli tak lagi melirik produk berdasarkan merek, namun terlebih kepada spesifikasi dan harga yang masuk akal.

(Baca juga: Samsung Makin Redup Ditiban Produk Tiongkok)

Kondisi yang dialami Samsung saat ini mengingatkan pada era kejayaan Nokia beberapa tahun silam. Saat mendominasi, Nokia memiliki rangkaian produk yang sangat banyak dana marketing yang melimpah. Selama lebih dari satu dekade atau sekitar 14 tahun, perusahaan ini menguasai pasar ponsel. Larut dalam kejayaan, perusahaan ini tidak sigap kalau pesaingnya makin menguat.

Apple menjadi idola baru dengan smartphone layar sentuh iPhone yang inovatif. Kemudian Samsung datang menyerang lebih ganas dengan senjata andalannya smartphone berbasis Android. Khusus untuk pasar Indonesia, BlackBerry berhasil mengalahkan pamor Nokia. Walau masa kejayaannya tidak lama hanya sekitar dua tahun setelah ditumbangkan Samsung.

Jangka waktu eksistensi sebuah merek ponsel menjadi market leader memang belum ada yang bisa menjamin. Ada yang bisa bertahan hingga belasan tahun, ada juga yang cukup singkat. Siklus adalah suatu hal yang wajar dan alami. Ada saatnya mengalami kejayaan, ada waktunya meredup. Apakah siklus kejayaan yang dialami Samsung saat ini akan bertahan lama atau tidak? Keduanya bisa saja terjadi. Tergantung dari kesigapan Samsung merespon pasar dan beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah. Selera konsumen juga memiliki pengaruh besar. (bda)

Artikel Terbaru