23 July 2013 16:00
Taksiran terbaru IDC yang menunjukkan penurunan harga smartphone memberikan penjelasan yang cukup baik mengenai kenapa mayoritas vendor ponsel mengalami hasil yang buruk pada kuartal musim semi ini. Rata-rata harga penjualan smartphone global (ASP) jatuh ke angka $375 dari yang sebelumnya $450 pada awal 2012. Industri ini puas terbuai pada tahun 2011 dan 2012, tatkala harga smartphone relatif stabil dengan iPhone dan Galaxy sebagai perangkat high-end memperoleh pangsa besar dari model yang lebih murah. Sekarang model budget-friendly sangat digemari konsumen di industri ini dan kebanyakan perencana strategis dari vendor terkemuka lalai menangkap tren pergantian yang tiba-tiba ini.

Ada beberapa vendor yang sudah mulai bereaksi. Musim gugur ini, Apple diperkirakan akan meluncurkan model ramah-anggaran yang kemungkinan akan berharga ritel sekitar $300 sampai $330 tanpa subsidi, atau kurang dari setengah harga ritel iPhone 5. Banderol itu akan berada di bawah tingkat ASP smartphone global yang baru saja menurun dan mungkin membantu Apple menjangkau ruang gerak ke pasar-pasar utama negara berkembang. Selama musim semi, Nokia juga secara agresif mulai mendorong aneka Lumia ke kategori budget-friendly dengan Lumia 520 yang dijual sekitar $130 sampai $150 tanpa subsidi. Raksasa elektronik Korea Samsung bahkan memiliki beragam model ramah-anggaran dan terus menyelam di bawah angka $150 di pasar negara berkembang dari tahun lalu.

Tapi ada dua vendor yang tampaknya benar-benar luput dari tren baru ini. HTC benar-benar mempertaruhkan segalanya pada HTC One musim panas ini dan mengalami kerugian cukup besar. Model dengan harga ritel di atas $600 (Rp6 juta) sama sekali tidak tersambung dengan konsumen. Apalagi, katalog HTC memang tergolong kurang dalam menyuguhkan model menarik di bawah harga $300. HTC mungkin akan menjadi korban terbesar jika Apple benar-benar merilis iPhone $300.

BlackBerry memilih untuk meluncurkan dua perangkat BlackBerry 10 di atas harga $600 sambil menggarap perangkat yang lebih murah, BlackBerry Q5, di angka $400. Hal ini bisa jadi kesalahan fatal. Permintaan konsumen Eropa terus melemah. Maka sangat mungkin kalau penjualan smartphone Uni Eropa terus bergeser ke arah model murah-anggaran. Di Amerika, penjualan iPhone versi Verizon melonjak tajam pada kuartal kedua 2013. Di Afrika dan Asia Tenggara, laju smartphone menengah seharga $200 ikut melahap pangsa kompetisi smartphone high-end.

Semua data menunjukkan kondisi industri di musim dingin yang sulit diterka karena ASP smartphone global akan menurun di bawah angka $350, lebih cepat dari yang diharapkan. Dan Apple segera membanting kompetisi dengan varian budget-friendly. Kuartal mendatang akan menjadi persaingan keras untuk semua vendor. Setidaknya Samsung dan Nokia sudah menemukan tempat berlindung dengan merilis smartphone di bawah harga $200.

Sekarang, sepertinya HTC dan BlackBerry terjebak di model papan atas mereka yang sudah diproduksi dengan volume besar. Perangkat dengan kisaran harga $400-600 adalah posisi tersulit saat ini. Kerugian operasional HTC dan BlackBerry pasti akan berdampak pada produksi mendatang mereka yang semakin terbatas secara radikal. (Nis)

 

Sumber : http://bgr.com (22/7/2013)