Wednesday, June 26, 2019
Home News Meretas Wirausaha Digital

Meretas Wirausaha Digital

-

24 September 2014 16:45
Pesatnya perkembangan smartphone juga memberi imbas pada munculnya peluang usaha yang cukup menjanjikan.
“Saya dulu biasa menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer untuk bermain game” ujar Mega Denditya menceritakan hobinya ketika masih remaja. Kelakuan yang sama saat ini juga masih dilakukan oleh anak muda kelahiran 19 juni 1991 ini. Bedanya kini dia bukan lagi asyik bermain game, melainkan justru membuat game.
Adalah smartphone yang membuat Mega mantap untuk menggeluti hobinya lebih dalam lagi, hingga menjadi game developer. “Berkat perkembangan teknologi smartphone, bermain game kini semakin mudah. Sehingga yang bermain game juga semakin banyak” ujarnya. Pria berkacamata ini merujuk pada smartphone yang kini sudah diandalkan sebagai perangkat untuk bermain game. Mega mengisahkan bagaimana dulu bermain game identik dengan perangkat console game, atau juga sempat booming game online di warnet-warnet. Namun kini cukup dari smartphone.
Mega mengendus adanya peluang dan potensi dari industri mobile game yang dia temukan secara tidak sengaja. “Saya dan dua teman kuliah saya kami sering menggarap beberapa proyek pembuatan software” cerita pria lulusan S1 Teknik Komputer Universitas Indonesia ini.  Lebih lanjut Mega menceritakan lama-kelamaan mereka merasa bosan, hingga akhirnya merasa jika passion mereka adalah di game. “Kami bertiga memang maniak game”.
Dari sekedar iseng membuat game online pesanan, Mega dan temannya mulai ‘terbuka’ mata dan fikirannya ketika pada 2010 melihat perkembangan smartphone yang semakin melesat. “Awalnya kami mencoba iseng-iseng untuk membuat game Android dan kami pajang di Google Play Store” ujarnya. Tak disangka cukup banyak yang mengunduh game buatannya itu. Jika selama ini game online yang mereka buat dijual lepas kepada pemesan, namun di game Android ini, bisa diketahui bagaimana respon dari pengguna. Dari situ Mega melihat ada peluang bisnis di dalamnya. Selepas lulus kuliah, Mega dan temannya pun semakin mantap untuk mendirikan perusahan game developer. Dan akhirnya pada 2012 secara resmi berdiri ChocoArt, nama perusahaan startup game developer mereka. Di mana Mega menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer)  meski baru berusia 22 tahun saat itu. Mega pun kini bisa bekerja sesuai dengan apa yang menjadi hobinya.
Kisah yang mirip juga dialami oleh Gathot Fajar. Ketika lulus kuliah pada tahun 2012, pria berperawakan tinggi kurus ini tidak perlu lagi pusing mencari pekerjaan. Karena dia sudah menjadi bos, atau tepatnya CEO dari perusahaan startup yang dia bangun sendiri. Creacle atau singkatan dari Creative Circle, begitu nama perusahaan tersebut yang Gathot dirikan bersama beberapa temannya semasa kuliah. “Awalnya saya dan beberapa teman sering ikut lomba membuat game. Saat itu masih sendiri-sendiri. Hingga pada satu waktu kami sepakat untuk menggabungkan kemampuan kami dalam satu perusahaan startup” ujar pria lulusan S1 Ilmu Komputer Universitas Gajah Mada ini. Upaya mereka akhirnya berbuah manis ketika era mobile game mulai booming di Indonesia, seiring dengan pesatnya pertumbuhan smartphone. Bahkan kini pria kelahiran Kebumen 23 April 1990 sudah bisa merekrut ‘adik kelasnya’ dari kampus yang sama untuk menjadi karyawan
Keputusan Mega dan Gatot beserta teman-temannya untuk menjadi wirausahawan digital cukup beralasan. Hal ini melihat peluang besar di tengah perkembangan smartphone yang begitu pesat. Yaitu salah satunya ada dalam mobile games. Dan ini jeli dilihat oleh Mega, Ghatot dan para wirausahawan lainnya. Bahkan mobile games kini tumbuh menjadi salah satu ladang bisnis yang menggiurkan.
Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh App Annie dan IHS Digital Content Report, menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2013 yang lalu, industri game mobile di seluruh dunia telah mampu meraih pendapatan hingga USD 16 miliar atau setara Rp 188 triliun. Jumlah itu diklaim melonjak hampir 3 kali lipat dari tahun 2012 sebelumnya. Lebih lanjut dijelaskan, konsumsi konten digital dari sektor hiburan (film, musik, aplikasi dan game) melalui perangkat mobile juga dikabarkan terus bertumbuh pesat. Sepanjang 2013 konsumen di seluruh dunia dikatakan telah menghabiskan uang sebesar USD 57 miliar untuk mengakses konten hiburan digital di tahun 2013, naik 30% dibandingkan 2012.
Untung besar di bisnis game mobile memang bukan sekedar prediksi hitung-hitungan belaka. Contoh nyata kisah sukses bisa dilihat pada game Angry Bird. Game garapan pengembang Rovio ini bahkan sempat dinobatkan sebagai salah satu game paling menguntungkan sepanjang sejarah. Angry Bird mampu meraup pendapatan 200 juta dolar Ameriksa Serikat (AS) dan laba bersih 71 juta dolar AS pada 2012. Pendapatan perusahaan Finlandia itu naik 101 % dibanding 2011 yang hanya 96 juta dolar AS. Padahal awal pengembangannya Angry Birds  hanya memakan dana sekitar USD 140 ribu.
Yang juga tidak kalah fenomenal yaitu game Flappy Bird. Sejak dirilis 24 Mei 2013, game sederhana ini sudah berhasil menghasilkan US$ 50 ribu per hari. Ini lantaran game buatan Nguyen Ha Dong, pengembang asal Vietnam ini, banyak diunduh oleh pengguna smartphone, yaitu mencapai 50 juta unduhan. Salah satu mobile game buatan Mega, bernama Keto, diklaim sudah mencapai 900 ribu unduhan. Game itu dikatakan Mega juga sudah menghasilkan uang hingga Rp 200 juta.
Dari mana asal duit yang mengalir ke kantong para developer ? Ada beberapa sumber pemasukan, selain dari hasil penjualan game, bisa juga dari iklan jika game yang dipajang di toko aplikasi bersifat gratisan. “Peluang bisnis dari game mobile sangat terbuka lebar” ujar Ghatot. Menurutnya banyak sektor di mana game bisa diterapkan. Pasar dari bisnis mobile game ini juga sangat luas. “Selain para pengguna smartphone itu, ada juga korporasi atau lembaga yang membutuhkan alternatif media promosi berupa game” tambah Gatot . Yang menarik industri game mobile ternyata juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Karena untuk membuat satu game, perlu ada campur tangan berbagai pihak. Mulai dari programmer, ilustrator, sound composer, game designer, story writer, hingga marketing.
Namun di tengah potensi bisnis tersebut, industri mobile game di Indonesia bisa dibilang masih baru. Ekosistemnya masih belum terlalu matang. Beberapa infrastruktur pendukung seperti sistem pembayaran masih perlu dibenahi. “Pengembangan, marketing dan publishing juga masih menjadi pekerjaan rumah” tambah Gatot.
Walau demikian, lambat laun hambatan ini sudah mulai menemui jalan keluar.  Misalnya dengan hadirnya opsi operator billing untuk pembelian konten mobile yang digagas beberapa operator seluler. Sehingga memudahkan pengguna untuk membeli konten aplikasi atau game dengan hanya cukup memotong pulsa mereka. Sedangkan untuk upaya pengembangan, marketing dan publishing juga sudah mulai ada solusi alternatif. Tidak melulu mengandalkan pada toko aplikasi yang ada selama ini, seperti Google Playstore, Apple App Store, dan lainnya. Karena kini mulai bermunculan toko aplikasi yang juga bisa dijadikan tempat untuk memajang dan berjualan konten game.  Seperti yang dikembangkan oleh beberapa operator.
Contohnya toko aplikasi yang dikembangkan oleh XL yang bernama Gudang Aplikasi. Sejak dirilis 7 bulan lalu, saat ini pengguna Gudang Aplikasi sudah lebih dari 500.000 pelanggan dan sudah memiliki 9.000 konten, aplikasi, serta game yang didukung oleh 100 developer baik dalam maupun luar negeri. Sekitar 30 developer lokal telah menjalin kerjasama ekslusif dan menyediakan 74 aplikasi lokal dan game. “Ke depannya Gudang Aplikasi berkomitmen untuk membangun sistem ekosistem digital di Indonesia. Salah satunya dengan terus menjaring para developer lokal untuk berkreasi di industri kreatif digital Indonesia. Serta mendukung karya-karya kreatif anak bangsa, khususnya melalui layanan digital ini,” ujar  Sr.GM – Digital Entertainment XL – Revie Sylviana Andriani Dewi.
Memang ada peluang menjanjikan dari perkembangan smartphone belakangan ini dan ke depannya. Seperti bagaimana kemudahan yang dirasakan Mega dan Gathot atau para developer muda lainnya dalam menentukan sikap untuk berkarir menjadi wirausahawan digital. Namun jika tidak dibarengi dengan terbentuknya ekosistem yang baik dan matang, bisa jadi akan sia-sia belaka. Jangan sampai kerja keras dan semangat para enterpreuner muda menjadi pudar. “Awalnya orang tua saya kurang setuju dengan keputusan saya menjadi game developer. Namun akhirnya saya mulai bisa membuktikan jika profesi ini bisa menjanjikan” ungkap Mega dengan penuh semangat. (Edi Kurniawan/Foto: Hendra Wiradi)

 

Sumber : http://www.selular.co.id/

Latest