19 April 2014 13:00
Diperlukan siasat untuk meredam geliat para pemain yang terus saja merugikan operator.

Dihabiskan untuk apa paket internet yang biasa digunakan ? Sebagian besar bisa jadi untuk mengakses layanan seperti Facebook, Twitter, Path, Line, WhatsApp, YouTube dan lainnya. Ini menjadi bukti bahwa jaringan milik operator selular, yang menjadi jalan akses, disesaki oleh trafik dari layanan milik pemain over the top (OTT). Wajar jika para operator merasa jengkel,mereka yang berinvestasi besar untuk membangun jaringan, namun ternyata malah dimanfaatkan oleh para pemain OTT. Operator hanya mendapat limpahan trafik yang padat, namun tidak ekuivalen dengan pemasukan yang didapat.

Setidaknya ini dibuktikan oleh hasil riset lembaga Ovum, yang menyebutkan potensi kerugian yang dialami operator akibat layanan OTT bisa mencapai US$ 23 miliar (sekitar Rp 220 triliun) di tahun 2012. Angka kerugian itu diprediksikan masih akan meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2016, pendapatan operator terancam hilang hingga US$ 58 miliar (sekitar Rp 555 triliun). Ini lantaran layanan voice dan SMS yang diandalkan operator, semakin tergerus. Karena pelanggan kini lebih memilih layanan milik OTT untuk berkomunikasi. Survei yang dilakukan Ovum juga menunjukkan pendapatan layanan voice tergerus oleh layanan VoIP sebesar USD 52 miliar pada 2016, sedangkan SMS tergerus layanan instant messaging sebesar USD 32,6 miliar pada 2013.

Lalu apa upaya operator untuk menghadapi hal ini ? Setidaknya ada tiga langkah yang bisa ditempuh. Pertama ‘melawan’ , yaitu dengan cara mengembangkan layanan sendiri di luar layanan voice dan SMS. Bisa jadi langkah ini terbilang berat, lantaran operator sudah kalah start. Di mana layanan milik pemain OTT sudah kadung melaju dengan raupan jumlah pengguna dan dan pemasukan yang semakin besar. Namun tidak ada salahnya jika operator mencobanya. Dan ternyata sudah dilakukan oleh beberapa operator.

Salah satu contohnya layanan XL Nonton, yaitu layanan konten video dengan konsep rental atau sewa video streaming. XL yang layanan XL Nonton. “Kami tidak akan ragu untuk memasuki ranah baru ini. Sebelumnya pun kami telah memulainya melalui beberapa layanan music” ujar Dian Siswarini, Direktur Digital Services XL. Layanan sejenis juga dikembangkan oleh Telkom dengan nama UseeTV. Di dalamnya terdiri dari beragam konten streaming digital maupun aplikasi (Video, Film, Musik, Live TV, dll) yang dapat diakses melalui smartphone/tablet. Meski ada perbedaan konsep, tapi terlihat operator berupaya memberikan alternatif layanan streaming video yang selama ini dikuasai YouTube.

Langkah kedua yang bisa dilakukan operator yaitu menggandeng para pemain OTT untuk bekerjasama. Dengan harapan bisa kecipratan pemasukan dari layanan milik OTT. “Kerjasama yang ada haruslah saling menguntungkan” ujar Yessie D Yosetya, Vice President Digital Services Delivery. Langkah ini pun ternyata sudah ditempuh. Salah satu contohnya kerjasama Indosat dengan layanan Generation Flix (Genflix), yaitu layanan Live Video Streaming dan Video On Demand. Yaitu dengan menerapkan sistem pembayaran potong pulsa (carrier billing) bagi pengguna Genflix. Di mana keduanya sepakat untuk bagi hasil. Kerjasama sejenis juga dilakukan oleh Telkomsel dengan WePlay. Setiap pembelian game premium dan aplikasi permainan akan ditagih kepada pengguna melalui pulsa Telkomsel mereka baik pra-bayar ataupun pasca-bayar.

Strategi lain yang bisa saja dijadikan pilihan bagi operator yaitu dengan menuntut pembagian keuntungan kepada pemain OTT. “Kami sudah jalankan partnership atau mengembangkan layanan OTT sendiri. Namun unutk opsi melakukan charge kepada OTT, belum dilakukan. Pasalnya, pemain OTT tidak mau dikenakan biaya” ungkap Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi. Langkah yang satu ini memang butuh saling pengertian yang lebih mendalam untuk mencapai kata sepakat. Meski begitu, pemerintah selaku regulator sedang berupaya untuk mendorong hal ini. Yaitu dengan merancang Peraturan Menteri yang mengatur kerjasama saling menguntungkan antara operator dan OTT di Indonesia. “Pemain OTT menghasilkan pendapatan melalui infrastruktur milik operator, tetapi tidak membayar sepeser pun untuk operasional infrastruktur ini.” ujar Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono. (Edi Kurniawan)

Sumber : www.selular.co.id