Selular.ID -

Profil Zhu Yiming, Pendiri CXMT Produsen Memori Terbesar China, Penantang Samsung, SK Hynix, dan Micron

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Zhu Yiming, pendiri CXMT, perusahaan pembuat chip memori terbesar China, telah menghabiskan lebih dari dua dekade membangun perusahaan tersebut agar mampu bersaing dengan para produsen chip memori terkemuka, hingga menjadikannya pemasok DRAM terbesar keempat di dunia.

Ketika ChangXin Memory Technologies (CXMT)—produsen chip dynamic random-access memory (DRAM) terbesar di China—meluncurkan penawaran umum perdana (IPO) terbesar di Asia pada  15 Juli 2026, langkah tersebut membawa misi sang pendiri, Zhu, untuk membangun raksasa chip memori dalam negeri ke sorotan dunia.

Pencatatan saham di bursa Shanghai tersebut—yang ditargetkan menggalang dana sebesar 57,9 miliar yuan (US$8,5 miliar) dan menetapkan valuasi CXMT di angka sekitar US$85 miliar—menjadi tonggak pencapaian penting bagi Zhu.

Ia dikabarkan pernah berikrar pada 2018 untuk tidak mengambil gaji sampai perusahaan mencetak laba, sebuah target yang akhirnya tercapai pada akhir tahun lalu.

Jauh sebelum mendirikan CXMT, Zhu sudah meyakini bahwa China dapat menjadi kekuatan utama dalam industri chip memori global.

Lebih dari dua dekade silam, saat bekerja sebagai insinyur di Silicon Valley dengan modal yang tak lebih dari sekadar desain chip, ia memprediksi bahwa pusat gravitasi industri ini pada akhirnya akan bergeser dari Amerika Serikat ke Jepang, lalu ke Korea Selatan, dan pada akhirnya ke China.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Dalam sebuah surel yang ditujukan kepada para investor pada 2004, Zhu menulis: “Sudah saatnya bagi China untuk berperan dalam industri ini,” sebagaimana dilaporkan oleh South China Morning Post, media terkemuka yang berbasis di Hong Kong.

Ambisinya pun sangat jelas: “Menjadi perancang dan produsen memori terbesar di China”.

Sebagai lulusan Universitas Tsinghua—salah satu universitas terkemuka di China—Zhu mendalami fisika sebelum akhirnya tertarik pada bidang semikonduktor.

Alih-alih mengambil pekerjaan sebagai tutor seperti banyak teman seangkatannya, ia bekerja sebagai pemrogram dan berhasil memperoleh penghasilan sekitar 300.000 yuan per tahun pada akhir 1990-an—masa ketika rata-rata pendapatan tahunan di China hanya sekitar 10.000 yuan.

Seiring proyek perangkat lunaknya yang semakin banyak melibatkan perangkat keras, ia mulai tertarik pada sirkuit terpadu (IC), sebuah bidang yang saat itu sangat bergantung pada pemasok asing bagi China.

Ia kemudian meraih gelar pascasarjana dari Universitas Stony Brook di New York dan tetap tinggal di Amerika Serikat untuk bekerja di beberapa perusahaan teknologi, termasuk pengembang chip memori, Monolithic System Technologies.

Pada 2004, Zhu memutuskan untuk merintis bisnisnya sendiri. Berkat dukungan Li Jun, sesama alumni Tsinghua, Zhu diperkenalkan kepada pemodal ventura Hsun K. Chou, yang kemudian berinvestasi sebesar 100.000 dolar AS dan menyewakan sebuah garasi dengan biaya murah untuknya.

Bersama insinyur Shu Qingming, Zhu mendirikan perusahaan rintisan (startup) desain semikonduktor bernama GigaDevice dan berhasil mengubah desain chip miliknya menjadi prototipe chip memori yang berfungsi.

Tahun berikutnya, ia menggalang dana tambahan sebesar 920.000 dolar AS dari sekelompok alumni Tsinghua dan memindahkan operasional GigaDevice ke Beijing, ibu kota China.

Sejalan dengan ambisi Zhu, perusahaan desain semikonduktor tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu perancang chip terkemuka di China dan melantai di Bursa Efek Shanghai pada Agustus 2016.

Pada tahun yang sama, Zhu menjalin kemitraan dengan pemerintah Hefei di China timur untuk meluncurkan proyek yang kelak menjadi CXMT.

Berbeda dengan GigaDevice yang merancang chip namun menyerahkan proses manufakturnya kepada pihak luar (outsourcing), CXMT berupaya memproduksi sendiri chip memorinya.

Ini adalah langkah yang cukup beresiko, karena menuntut investasi bernilai miliaran dolar untuk pembangunan pabrik fabrikasi serta pengembangan proses selama bertahun-tahun.

Pada 2018, Zhu mundur dari GigaDevice agar dapat sepenuhnya berfokus pada perusahaan baru tersebut, sembari berkomitmen untuk tidak menerima gaji hingga perusahaan itu mencetak laba.

CXMT memproduksi chip DRAM arus utama hasil pengembangan mandiri pertamanya pada 2019, yang memberikan pijakan berarti pertama bagi China daratan di pasar yang selama ini didominasi oleh produsen luar negeri.

Setelah itu, perusahaan tersebut melewati masa-masa kerugian selama bertahun-tahun serta menerima dukungan pemerintah bernilai miliaran dolar.

“Perusahaan ini telah mendapat manfaat dari dukungan pemerintah yang sangat besar, yang menjadi satu-satunya alasan mereka mampu memasuki industri memori yang sangat padat modal,” ujar Chris Miller, seorang profesor di Tufts University sekaligus penulis buku “Chip War”, kepada The New York Times.

Baca Juga: CXMT Tolak Permintaan Diskon DRAM Apple untuk Pasokan iPhone 18

Profil Zhu Yiming, Pendiri CXMT Produsen Memori Terbesar China, Penantang Samsung, SK Hynix, dan Micron

Booming AI Mengubah Peruntungan CXMT

Nasib perusahaan berubah ketika kecerdasan buatan (AI) memicu lonjakan permintaan chip memori global, yang kemudian mendorong kenaikan harga serta permintaan akan produk memori canggih.

Berdasarkan prospektusnya, pendapatan kuartal pertama melonjak 719% secara tahunan (year-on-year) menjadi 50,8 miliar yuan.

Reuters melaporkan bahwa pendapatan semester pertama diperkirakan mencapai kisaran 110 miliar hingga 120 miliar yuan—angka yang hampir dua kali lipat dari total pendapatan perusahaan sepanjang tahun 2025 yang sebesar 61,8 miliar yuan.

Pemulihan ini juga menarik minat Apple. Raksasa teknologi yang berbasis di Cupertino, California itu, dikabarkan telah menguji chip buatan CXMT untuk perangkat yang dipasarkan di China.

Meskipun tumbuh pesat, CXMT masih tertinggal di belakang para pemimpin pasar global dalam hal high-bandwidth memory (memori dengan lebar pita tinggi), yakni jenis memori canggih yang digunakan dalam akselerator AI.

Di sisi lain, pasar DRAM global saat ini masih didominasi oleh the big three (tiga besar), yaitu Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology.

Meski masih berusia muda, menurut firma riset pasar Counterpoint Research, CXMT berhasil menjadi pemasok DRAM terbesar keempat di dunia.

Perusahaan mampu meningkatkan pangsa pasar globalnya menjadi sekitar 8% pada kuartal pertama 2026, naik dari 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski telah menjelma menjadi penantang tiga besar, CXMT harus terus berinvestasi besar-besaran dalam teknologi manufaktur sembari menghadapi siklus penurunan industri serta pembatasan yang semakin ketat—yang dipimpin oleh AS—terhadap akses China ke peralatan semikonduktor canggih.

Terlepas dari tantangan tersebut, sosok insinyur yang dulunya menangani pengembangan teknologi, penggalangan dana, dan akuisisi pelanggan ini kini memimpin perusahaan yang mempekerjakan hampir 19.300 orang pada akhir 2025.

Menurut Forbes, berkat kesuksesan CXMT melantai di bursa dan kinerja perusahaan yang terus meningkat, Zhu Yiming memiliki kekayaan bersih sekitar US$3,7 miliar per 21 Juli 2026.

Saat mengenang kembali kesuksesan GigaDevice dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan majalah alumni Universitas Tsinghua, Zhu menyebutkan bahwa keberhasilan tersebut berkat pemilihan pasar yang tepat serta dedikasi para karyawannya.

Ia juga merangkum filosofi yang menjadi pedoman kariernya: “Hal terpenting dalam kewirausahaan adalah bertahan hidup.”

Baca Juga: Kelangkaan Chip Jadi Momentum CXMT Perkuat Posisi di Segmen Premium

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU