Selular.ID – Konsumen eCommerce Indonesia semakin selektif dalam menentukan produk, penawaran, keamanan transaksi, hingga teknologi yang digunakan saat berbelanja.
Studi Lazada bersama perusahaan eCommerce intelligence Cube menunjukkan, 28% konsumen online Indonesia masuk kategori Konsumen Cerdas atau Savvy Shoppers pada 2026, dengan selisih pengeluaran dibanding Konsumen Biasa yang diperkirakan mencapai Rp65 triliun.
Temuan tersebut berasal dari The 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia, yang disusun Lazada dan Cube berdasarkan survei terhadap 6.000 konsumen online berusia 18–61 tahun di enam negara Asia Tenggara.
Negara yang diteliti mencakup Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Dalam studi tersebut, Konsumen Cerdas didefinisikan berdasarkan empat dimensi, yakni verifikasi, optimasi nilai belanja, rasa yakin dan aman, serta kecakapan digital.
Keempat aspek tersebut digunakan untuk melihat bagaimana konsumen mengevaluasi produk, membandingkan penawaran, memahami perlindungan transaksi, dan memanfaatkan teknologi digital ketika berbelanja.
Indonesia Punya 28% Konsumen Cerdas
Proporsi Konsumen Cerdas di Indonesia mencapai 28% dari konsumen online, atau sekitar tiga dari setiap 10 konsumen. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua dalam cakupan enam negara yang diteliti, setelah Filipina yang mencatatkan proporsi 36%.
Laporan juga menemukan 19% konsumen online Indonesia hanya terpaut satu dimensi dari kriteria Konsumen Cerdas.
Jika kelompok ini turut diperhitungkan sebagai near-Savvy Shoppers, proporsi konsumen yang sudah mendekati karakteristik pembelanja cerdas mencapai hampir separuh pasar.
Dari sisi nilai transaksi, Konsumen Cerdas di Indonesia tercatat membelanjakan 19% lebih banyak setiap bulan dibandingkan Konsumen Biasa untuk kebutuhan eCommerce.
Berdasarkan estimasi nilai belanja tahunan marketplace eCommerce di Asia Tenggara pada 2026, perbedaan tersebut menghasilkan spending gap sekitar Rp65 triliun atau US$3,6 miliar di Indonesia.
Dalam konteks laporan ini, spending gap merupakan selisih total pengeluaran Konsumen Cerdas dan Konsumen Biasa untuk belanja online.
Angka tersebut bukan nilai transaksi tambahan dari satu kelompok konsumen secara langsung, melainkan estimasi selisih pengeluaran ketika karakteristik belanja kedua kelompok dibandingkan dalam skala pasar.
Carlos Otermin Barrera, CEO Lazada Indonesia, mengatakan fase berikutnya dari pertumbuhan eCommerce Asia Tenggara akan berkaitan dengan kemampuan platform membantu konsumen mengambil keputusan secara lebih mendalam dan percaya diri.
“Gelombang pertumbuhan berikutnya bagi eCommerce Asia Tenggara, yang kini sudah berkembang melampaui fase adopsi, akan ditentukan oleh kemampuan platform membantu konsumen berbelanja secara lebih mendalam dan percaya diri,” ujar Carlos.
Menurut Carlos, Konsumen Cerdas mencerminkan arah perkembangan eCommerce ketika konsumen semakin memperhatikan nilai belanja, kepercayaan, perlindungan konsumen, dan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelian.
Belanja Cerdas Tidak Selalu Berarti Harga Termurah
Studi Lazada dan Cube juga menunjukkan bahwa Konsumen Cerdas tidak hanya mengejar harga paling rendah.
Mereka cenderung mempertimbangkan kombinasi harga, promosi, perlindungan transaksi, keaslian produk, dan informasi yang tersedia sebelum mengambil keputusan.
Sebanyak 34% Konsumen Cerdas di Indonesia menyatakan bersedia membayar lebih untuk memperoleh diskon yang lebih besar. Pada kelompok Konsumen Biasa, proporsinya mencapai 24%.
Sebanyak 36% Konsumen Cerdas juga memilih berbelanja pada momen tertentu, sementara 30% bersedia meluangkan lebih banyak waktu untuk membandingkan berbagai penawaran sebelum membeli.
Aspek perlindungan transaksi juga menjadi salah satu pembeda. Sebanyak 49% Konsumen Cerdas menyatakan bersedia membayar lebih untuk mendapatkan perlindungan belanja yang lebih baik.
Angka tersebut dibandingkan 27% pada Konsumen Biasa.
Pilihan pengiriman juga menunjukkan pola serupa. Sebanyak 39% Konsumen Cerdas bersedia menunggu lebih lama apabila pilihan pengiriman tersebut memberikan nilai yang dianggap lebih baik.
Simon Torring, Co-Founder Cube, mengatakan kecerdasan konsumen tidak hanya berkaitan dengan sensitivitas terhadap harga. Menurutnya, konsumen juga mempertimbangkan keaslian produk, nilai belanja, pengelolaan risiko, dan pemanfaatan teknologi ketika mengambil keputusan.
“Belanja cerdas bukan semata-mata tentang sensitivitas harga, melainkan juga tentang perilaku konsumen yang lebih terarah, mengambil keputusan berdasarkan informasi, dan merasa percaya diri dalam memanfaatkan ekosistem eCommerce,” ujar Simon.
Keaslian Produk Tetap Menjadi Pertimbangan
Kepercayaan terhadap produk dan penjual menjadi aspek lain yang terlihat dalam studi tersebut. Konsumen Indonesia dari berbagai segmen relatif enggan mengorbankan aspek autentisitas demi memperoleh harga lebih murah.
Hanya 9% responden Indonesia yang menyatakan bersedia berbelanja ketika tanda-tanda autentisitas produk lebih sedikit. Sementara itu, 15% bersedia membeli produk dari penjual yang kurang dikenal.
Kedua angka tersebut berada di bawah rata-rata Asia Tenggara berdasarkan hasil studi Lazada dan Cube. Temuan ini menempatkan autentisitas dan kredibilitas penjual sebagai bagian dari pertimbangan konsumen selain harga dan promosi.
Dalam definisi penelitian, aspek verifikasi mencakup seberapa cermat konsumen mempertimbangkan produk, ulasan, penjual, serta indikator keaslian.
Sementara dimensi rasa yakin dan aman mencakup pemahaman mengenai perlindungan konsumen, kebijakan pengembalian, dan kredibilitas penjual.
Gen Z Lebih Aktif Memanfaatkan Bundling

Perbedaan perilaku juga terlihat berdasarkan kelompok usia. Laporan Lazada dan Cube mencatat Gen Z menunjukkan aktivitas lebih tinggi dalam mengoptimalkan nilai pembelian melalui paket bundling dan promosi.
Sebanyak 65% konsumen Gen Z mengisi keranjang belanja dengan paket bundling dan promo untuk mendapatkan nilai lebih. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan Gen X yang berada di angka 37%.
Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antargenerasi dalam memanfaatkan fitur dan penawaran eCommerce. Bagi konsumen muda, bundling dan promosi menjadi bagian dari proses untuk mendapatkan nilai lebih dari transaksi yang dilakukan.
Studi tersebut juga menyoroti kebutuhan konsumen terhadap dukungan yang berbeda sesuai karakteristik dan tingkat kecakapannya.
Bentuk dukungan dapat berupa informasi produk yang lebih jelas, perlindungan transaksi, fitur yang memberikan nilai tambah, hingga asisten belanja virtual berbasis teknologi.
Bagi industri eCommerce, perkembangan tersebut membuka ruang untuk mengembangkan layanan yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga membantu konsumen melakukan verifikasi, membandingkan nilai, memahami risiko, dan menggunakan fitur digital secara efektif.
Lazada menyatakan pengembangan ekosistemnya diarahkan pada produk autentik dari brand resmi, nilai belanja, perlindungan pembelian, serta teknologi yang membantu konsumen mengambil keputusan.
“Di Lazada, kami membangun ekosistem eCommerce tepercaya yang menawarkan produk autentik dari brand resmi, selain nilai terbaik, perlindungan di setiap tahap pembelian, serta berbagai teknologi cerdas,” kata Carlos.
Studi The 2026 ECommerce Savvy Shopper Report: Southeast Asia menunjukkan bahwa ketika pasar eCommerce Indonesia memasuki fase yang lebih matang, perilaku konsumen ikut bergeser dari sekadar adopsi layanan menuju proses pengambilan keputusan yang lebih terinformasi.
Dalam konteks tersebut, kemampuan platform menyediakan informasi, perlindungan, autentisitas, dan teknologi menjadi bagian dari pengalaman belanja yang dipertimbangkan konsumen.
Baca Juga: Studi: AI Punya Naluri Bertahan, Sampai Melindungi AI Lainnya


