Selular.ID -

Judol Menggila Karena Mulai Masuk ke Pasar Saham, Regulator Waspada

BACA JUGA

Selular.ID – Pasar prediksi atau prediction market mulai merambah perdagangan berbasis saham perusahaan teknologi seperti Apple, Tesla, Nvidia hingga Alphabet.

Fenomena yang kerap dikaitkan dengan aktivitas mirip taruhan ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai perlindungan investor dan pengawasan pasar keuangan.

Platform seperti Polymarket dan Kalshi awalnya populer karena memungkinkan pengguna memasang posisi pada hasil sebuah peristiwa, mulai olahraga, pemilu hingga operasi militer.

Namun dalam setahun terakhir, pasar prediksi berkembang semakin dekat dengan dunia investasi.

Baca juga:

Puluhan ribu kontrak kini dibuat berdasarkan pergerakan saham, data perusahaan hingga berbagai peristiwa korporasi yang dapat memengaruhi harga saham.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Apple hingga Tesla Jadi Ajang Spekulasi

Dilansir dari Reuters, Rabu (30/9/2026), Polymarket International mulai menghadirkan pasar berbasis saham individual sejak Oktober lalu.

Analisis perusahaan riset blockchain Allium mencatat trader telah memasang posisi senilai lebih dari US$220 juta pada sekitar 31.000 pasar terkait ekuitas hingga awal September.

Hampir 60% nilainya berasal dari pasar yang berkaitan dengan pergerakan saham individual.

Saham Nvidia, Alphabet, Apple dan Tesla menjadi beberapa yang paling populer. Sisanya berkaitan dengan ETF maupun indeks saham.

Mekanismenya relatif sederhana. Pengguna dapat mengambil posisi “ya” atau “tidak” mengenai apakah harga saham tertentu akan mencapai level yang telah ditentukan pada tanggal tertentu.

Satu dompet digital yang diidentifikasi Allium bahkan membukukan volume sekitar US$175.000 dari sekitar 1.300 transaksi terkait saham Apple.

Bisa Berdagang 24 Jam

Pasar prediksi memiliki karakteristik berbeda dibandingkan bursa saham konvensional. Salah satu daya tariknya adalah transaksi dapat berlangsung selama 24 jam penuh.

Pengguna juga dapat mengekspresikan pandangan mengenai prospek perusahaan dan kinerja keuangannya melalui kontrak berbasis peristiwa.

Tidak hanya membidik trader ritel, penyelenggara pasar prediksi mulai mencoba menarik investor institusional.

Kontrak peristiwa dipromosikan sebagai alternatif untuk melakukan hedging atau lindung nilai terhadap risiko ekonomi maupun pasar keuangan tradisional.

Persoalannya, perdagangan tersebut menciptakan jalur baru untuk berspekulasi terhadap pergerakan sekuritas di luar mekanisme perlindungan investor dan pengawasan yang berlaku pada bursa saham teregulasi.

Dikhawatirkan Ganggu Pasar Saham

Meski nilainya masih sangat kecil dibandingkan pasar saham, pertumbuhannya mulai mengundang perhatian pakar hukum dan regulator.

Associate Dean Vanderbilt University Law School Yesha Yadav menilai perkembangan tersebut membuka wilayah baru dalam struktur pasar.

“Ini adalah batas baru bagi struktur pasar. Ini adalah inovasi dengan steroid,” ujar Yadav.

Menurutnya, regulator perlu bergerak cepat menghadapi perkembangan produk baru tersebut.

Salah satu kekhawatiran adalah pasar prediksi berbasis saham pada akhirnya dapat memengaruhi perdagangan aset yang menjadi acuannya. Kondisi tersebut sekaligus berpotensi membuat pengawasan terhadap manipulasi maupun pelanggaran pasar semakin kompleks.

Polymarket dan Kalshi Buka Suara

Polymarket dan Kalshi menyatakan melakukan pemantauan terhadap potensi pelanggaran serta bekerja sama dengan otoritas terkait.

“Integritas pasar adalah inti dari cara kami beroperasi,” kata juru bicara Polymarket.

Polymarket juga menyatakan berupaya memblokir pengguna dari yurisdiksi yang tidak diizinkan mengakses platform internasionalnya.

Sementara otoritas pasar modal dan perdagangan derivatif terkait dilaporkan sedang meninjau aturan yang berlaku terhadap pasar prediksi berbasis saham.

Fenomena ini menunjukkan prediction market mulai memasuki wilayah yang semakin dekat dengan investasi konvensional.

Jika pertumbuhannya berlanjut, batas antara kontrak prediksi, spekulasi dan instrumen investasi berpotensi semakin tipis.

Terlebih ketika saham perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Tesla, Nvidia dan Alphabet kini ikut menjadi objek “taruhan” selama 24 jam penuh.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU