Selular.ID -

Pemerintah Sebut Ritel Indonesia Keluar dari Zona Merah, Penjualan Gadget Masih Terjun 11,1%

BACA JUGA

Selular.ID – Penjualan eceran Indonesia mulai keluar dari zona merah, tetapi belum semua sektor ikut menikmati pemulihan.

Di tengah Indeks Penjualan Riil (IPR) yang kembali tumbuh, kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, yang mencakup berbagai produk teknologi, justru diperkirakan masih terkontraksi 11,1% pada kuartal III-2026.

Data Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia menunjukkan IPR Juli 2026 mencapai 224,9, tumbuh 1,1% secara tahunan.

Angka tersebut menjadi sinyal perbaikan setelah pada Juni penjualan eceran masih terkontraksi 3%.

Baca juga:

Namun angka positif itu belum berarti daya beli masyarakat langsung pulih penuh.

Secara bulanan, penjualan eceran Juli masih turun 0,1%, setelah pada Juni tumbuh 0,7%.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Bank Indonesia mengaitkan penurunan bulanan tersebut dengan normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Gadget Belum Menjadi Prioritas Belanja

Bagi industri teknologi, ada satu angka yang layak mendapat perhatian lebih besar.

BI memperkirakan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi masih terkontraksi 11,1% pada kuartal III-2026.

Memang, angkanya membaik signifikan dibandingkan kontraksi 21,7% sebelumnya.

Namun posisi negatif menunjukkan permintaan untuk kategori tersebut belum benar-benar kembali ke jalur pertumbuhan.

Kondisi ini menjadi indikasi bahwa masyarakat masih berhati-hati ketika membelanjakan uang untuk barang yang pembeliannya dapat ditunda.

Smartphone, laptop, perangkat elektronik dan produk teknologi lainnya umumnya memiliki karakter sebagai barang tahan lama.

Ketika tekanan terhadap pendapatan meningkat, konsumen cenderung memperpanjang usia pakai perangkat lama daripada segera menggantinya.

Situasi tersebut juga terlihat dari pertumbuhan tinggi pada kelompok Suku Cadang dan Aksesori sebesar 7,6% yang diperkirakan menjadi salah satu penopang penjualan eceran kuartal III.

Pola itu dapat dibaca sebagai kecenderungan masyarakat mempertahankan barang atau kendaraan yang sudah dimiliki, ketimbang melakukan pembelian baru bernilai besar.

Konsumen Masih Injak Gas Setengah Hati

Secara kuartalan, pemulihan konsumsi juga masih tipis. Pada kuartal II-2026, pertumbuhan IPR nasional tercatat minus 3,5%. Sementara pada kuartal III, BI memperkirakan pertumbuhannya hanya 0,8%.

Artinya, ekonomi domestik memang berpotensi keluar dari fase kontraksi penjualan eceran, tetapi belum memasuki periode ekspansi konsumsi yang kuat.

Mesin konsumsi mulai hidup kembali, tetapi masyarakat masih seperti menginjak pedal gas setengah hati.

Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau diperkirakan masih tumbuh 1,6%. Suku Cadang dan Aksesori bahkan mencapai 7,6%.

Sebaliknya, sejumlah kelompok yang lebih berkaitan dengan belanja diskresioner masih berada di wilayah negatif.

Selain Peralatan Informasi dan Komunikasi yang minus 11,1%, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diperkirakan turun 7,4%, Barang Budaya dan Rekreasi minus 3,9%, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya minus 3,5%, Sandang minus 3,5%, dan Barang Lainnya minus 0,6%.

Komposisi tersebut memperlihatkan konsumen masih mengutamakan pengeluaran yang dianggap lebih penting.

Penjualan BBM Ikut Tertekan

Hal lain yang cukup mencolok adalah penjualan bahan bakar kendaraan bermotor.

Kelompok BBM mengalami kontraksi 4,2% pada kuartal I-2026, kemudian membaik menjadi minus 0,7% pada kuartal II.

Tetapi pada kuartal III, BI memperkirakan kontraksinya justru melebar menjadi 7,4%.

Penjualan BBM biasanya berhubungan erat dengan mobilitas masyarakat.

Karena itu, penurunan penjualan tidak hanya dapat dibaca sebagai berkurangnya volume pembelian bahan bakar, tetapi juga dapat mengindikasikan perubahan pola perjalanan masyarakat.

Konsumen bisa jadi mulai mengurangi perjalanan yang tidak mendesak, membatasi rekreasi atau memilih moda transportasi yang lebih ekonomis.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi dapat menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi perilaku tersebut.

Di sisi lain, perkembangan kendaraan listrik di kota-kota besar juga berpotensi mulai menggeser sebagian konsumsi bahan bakar konvensional.

Namun diperlukan data yang lebih rinci untuk mengukur seberapa besar masing-masing faktor berkontribusi terhadap kontraksi penjualan BBM tersebut.

Masyarakat Berpenghasilan Rendah Masih Tertekan

Gambaran kehati-hatian konsumen semakin terlihat dari Survei Konsumen BI.

Indeks Keyakinan Konsumen memang meningkat dari 116,8 menjadi 118,5, yang secara umum menunjukkan masyarakat masih optimistis.

Tetapi tingkat optimisme berbeda berdasarkan kelompok pengeluaran.

Kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta mencatat Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sebesar 92,5 dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama sebesar 89,9.

Keduanya berada di bawah level 100, yang berarti kelompok tersebut masih berada pada zona pesimistis.

Kelompok pengeluaran Rp2,1 juta hingga Rp3 juta juga belum jauh berbeda. Indeks ketersediaan lapangan kerja maupun pembelian barang tahan lamanya tercatat di level 98,5.

Kondisi tersebut penting bagi industri smartphone dan gadget.

Pasar perangkat teknologi Indonesia memiliki basis konsumen yang sangat besar pada kelas harga terjangkau hingga menengah.

Ketika kelompok konsumen dengan daya beli rendah masih menahan pembelian barang tahan lama, tekanan pada penjualan perangkat baru dapat bertahan lebih lama.

Tantangan Berat Industri Smartphone

Kontraksi 11,1% pada kategori peralatan informasi dan komunikasi memang sudah jauh membaik dari minus 21,7%.

Tetapi industri belum bisa langsung menyebut kondisi tersebut sebagai pemulihan.

Produsen smartphone, laptop hingga perangkat elektronik menghadapi konsumen yang semakin selektif.

Perangkat baru tidak cukup hanya menawarkan peningkatan spesifikasi minor untuk mendorong pengguna mengganti produk lama.

Harga, program cicilan, trade-in, promosi, daya tahan perangkat hingga manfaat nyata fitur baru akan semakin menentukan keputusan pembelian.

Situasi tersebut sekaligus menjelaskan mengapa persaingan di kelas menengah dan terjangkau tetap menjadi medan penting bagi vendor teknologi di Indonesia.

Sebab ketika ruang belanja masyarakat terbatas, konsumen akan semakin sensitif terhadap rasio antara harga dan manfaat.

Penjualan eceran Indonesia memang sudah kembali tumbuh secara tahunan.

Namun data BI memperlihatkan pemulihan tersebut masih bertumpu pada kategori tertentu, sementara belanja diskresioner belum sepenuhnya bangkit.

Bagi industri teknologi, perbaikan dari kontraksi 21,7% menjadi 11,1% tetap merupakan sinyal positif.

Tetapi selama kategorinya masih berada di zona negatif, tantangan terbesar vendor gadget bukan sekadar meluncurkan perangkat baru, melainkan meyakinkan masyarakat bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali membuka dompet.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU