Selular.ID – Peta persaingan bank digital di Indonesia memasuki babak baru di tahun 2026 ini.
Jika beberapa tahun lalu industri ini masih sibuk mengejar jumlah pengguna, promo bunga dan bakar uang, kini ukuran kekuatan mulai terlihat dari neraca. Dan angkanya cukup mengejutkan.
Hingga Juni 2026, SeaBank semakin kokoh di puncak dengan aset yang telah menembus sekitar Rp52,97 triliun.
Jarak dengan pesaing terdekatnya, Bank Jago, juga semakin lebar dengan aset sekitar Rp41,42 triliun.
Baca Juga:
- Akhir 2025, Bank Digital SeaBank Kantongi 28 Juta Nasabah
- Wajib Tahu Sebelum Jadi Nasabah, Enam Bank Digital Terbaik di Indonesia 2025 Versi The Banker
Artinya, dua pemain tersebut sudah membangun skala bisnis yang jauh meninggalkan mayoritas bank digital lainnya.
Di bawah keduanya, persaingan justru semakin menarik. Superbank terus melesat, sementara hibank, BCA Digital, Bank Neo Commerce, dan Krom Bank bertarung di kelompok menengah.
Di papan bawah 10 besar, Allo Bank, Bank Aladin Syariah, dan Bank Raya masih berupaya memperbesar skala.
Berikut peta 10 bank digital dengan aset terbesar di Indonesia berdasarkan posisi Juni 2026.
10 Bank Digital Terbesar Berdasarkan Aset
| Peringkat | Bank | Aset per Juni 2026* |
|---|---|---|
| 1 | SeaBank | ±Rp52,97 triliun |
| 2 | Bank Jago | ±Rp41,42 triliun |
| 3 | Superbank | ±Rp27 triliun |
| 4 | hibank | ±Rp25 triliun |
| 5 | BCA Digital (blu) | Rp20,82 triliun |
| 6 | Bank Neo Commerce | ±Rp17,45 triliun |
| 7 | Krom Bank | ±Rp16,94 triliun |
| 8 | Allo Bank | Rp15,57 triliun |
| 9 | Bank Aladin Syariah | Rp15,14 triliun |
| 10 | Bank Raya | ±Rp13–14 triliun |
*Angka dibulatkan. Untuk sejumlah bank, posisi aset disajikan berdasarkan laporan publikasi/indikator keuangan Juni 2026 yang tersedia dan dapat mengalami perbedaan kecil akibat basis laporan dan pembulatan.
1. SeaBank: Sang Raja yang Semakin Menjauh
SeaBank bukan hanya mempertahankan posisi sebagai bank digital terbesar. Bank yang berada dalam ekosistem Sea Group ini justru memperlebar jarak dengan kompetitornya.
Pada semester I/2026, kredit SeaBank mencapai Rp39,81 triliun, sementara DPK mencapai Rp41,8 triliun. Skala tersebut menempatkan SeaBank di kelas tersendiri di antara pemain bank digital.
Jika dibandingkan dengan posisi semester I/2025, ketika aset SeaBank tercatat Rp37,03 triliun, ekspansi hingga 2026 menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan bank ini belum kehilangan tenaga. Pada 2025 saja, SeaBank sudah menjadi bank digital dengan aset terbesar di Indonesia.
Kekuatan SeaBank terletak pada ekosistem. Bank tidak hanya menjual rekening tabungan, tetapi memiliki akses ke basis pengguna Shopee dan ekosistem digital Sea Group.
Namun, semakin besar neraca, semakin besar pula tantangannya. SeaBank harus memastikan ekspansi kredit tidak berubah menjadi persoalan kualitas aset.
Pada semester I/2026, NPL gross SeaBank berada di sekitar 1,65%. Angka tersebut masih relatif terkendali, tetapi lebih tinggi dibandingkan Bank Jago dan BCA Digital.
Pesannya jelas: SeaBank sudah menang dalam skala. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa skala tersebut menghasilkan profit yang berkelanjutan.
2. Bank Jago: Penantang Terkuat SeaBank
Jika ada bank yang paling layak disebut sebagai penantang SeaBank, jawabannya adalah Bank Jago.
Aset Bank Jago per Juni 2026 telah mencapai sekitar Rp41,42 triliun, sementara kredit tumbuh hingga Rp26,6 triliun dan DPK mencapai Rp27,6 triliun.
Yang menarik bukan hanya ukurannya.
Bank Jago memiliki karakter bisnis yang berbeda. Jika SeaBank sangat kuat karena integrasi dengan e-commerce, Jago membangun model ecosystem-driven banking.
Kemitraan dengan GoTo dan berbagai ekosistem digital menjadi salah satu senjata utama Jago dalam mendapatkan nasabah dan meningkatkan aktivitas transaksi.
Yang lebih penting, Bank Jago menunjukkan kualitas kredit yang relatif kuat.
Pada semester I/2026, NPL gross Jago berada di sekitar 0,80%, terendah di antara enam bank digital utama yang dibandingkan Katadata. Porsi CASA juga mencapai sekitar 53%.
Dengan kombinasi aset besar, pertumbuhan kredit, CASA tinggi dan NPL rendah, Jago menjadi salah satu pemain yang paling menarik untuk dicermati.
SeaBank unggul dalam skala. Jago mulai menunjukkan keunggulan dalam keseimbangan.
3. Superbank: Kuda Hitam yang Berlari Kencang
Posisi ketiga menjadi salah satu cerita paling menarik.
Superbank bukanlah pemain lama dalam format bank digital, tetapi pertumbuhan asetnya sangat agresif.
Pada 2025, aset Superbank sudah melonjak menjadi sekitar Rp21,28 triliun dari Rp11,40 triliun pada 2024, atau tumbuh sekitar 86,77%.
Memasuki semester I/2026, aset Superbank telah bergerak ke kisaran Rp27 triliun.
Di sisi bisnis, kredit semester I/2026 mencapai sekitar Rp13,4 triliun, sedangkan DPK sekitar Rp15,9 triliun.
Superbank memiliki senjata yang tidak dimiliki semua bank digital: ekosistem Grab serta dukungan investor strategis seperti Singtel dan KakaoBank.
Dengan basis pengguna Grab, Superbank memiliki potensi besar untuk masuk ke transaksi sehari-hari masyarakat sekaligus menggarap segmen underbanked dan UMKM.
Tetapi ada pekerjaan rumah besar: profitabilitas dan biaya dana.
CASA Superbank masih sekitar 21,83%, jauh di bawah SeaBank, BCA Digital maupun Jago.
Jadi, Superbank memang sedang berlari kencang, tetapi pertanyaannya adalah apakah kecepatannya dapat dikonversi menjadi laba yang konsisten.
4. hibank: Bank Digital dengan Napas Korporasi
hibank mungkin tidak sepopuler SeaBank, Jago atau Superbank di kalangan konsumen, tetapi dari sisi neraca bank ini merupakan salah satu pemain besar.
Bank yang berada di bawah ekosistem BNI Group ini mencatatkan pertumbuhan kredit yang sangat signifikan.
Per Juni 2026, portofolio kredit hibank mencapai Rp12,68 triliun, melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Desember 2022. Kredit UMKM juga telah mencapai sekitar Rp2,69 triliun.
Ini menunjukkan karakter hibank yang agak berbeda dari bank digital consumer.
Jika sebagian bank digital mengejar transaksi harian, paylater dan pembiayaan konsumer, hibank memiliki ruang besar pada UMKM dan productive banking.
Dukungan BNI Group juga menjadi keunggulan tersendiri dalam hal pendanaan, jaringan dan ekosistem korporasi.


