Selular.ID -

10 Bank Digital dengan Aset Terbesar di Indonesia, Bank Jago Tak Lagi Nomor Satu

BACA JUGA

5. BCA Digital: Blu Mulai Naik Kelas

BCA Digital juga mengalami lompatan signifikan.

Per Juni 2026, aset BCA Digital mencapai sekitar Rp20,82 triliun, naik 16,90% dibandingkan Rp17,81 triliun pada Juni 2025.

Kredit mencapai Rp8,99 triliun, sedangkan DPK mencapai Rp15,78 triliun.

Yang menarik, BCA Digital tidak sekadar mengejar pertumbuhan kredit.

NPL gross berada di sekitar 0,94%, sementara CASA mencapai sekitar 54,4%.

Artinya, blu memiliki kombinasi yang cukup sehat antara dana murah dan kualitas aset.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

BCA Digital juga mencatat laba bersih Rp129,59 miliar pada semester I/2026, naik signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Ini penting. Sebab fase pertama bank digital adalah membangun pengguna.

Fase berikutnya adalah membangun neraca. Dan fase ketiga adalah membuktikan bahwa neraca tersebut menghasilkan laba. BCA Digital mulai memasuki fase ketiga.

6. Bank Neo Commerce: Dari Bank Digital Agresif Menuju Bank yang Lebih Prudent

Bank Neo Commerce atau BNC merupakan salah satu pionir gelombang bank digital Indonesia.

Namun, perjalanan BNC tidak selalu mulus.

Per Juni 2026, asetnya berada di kisaran Rp17,45 triliun.

Kredit mencapai sekitar Rp7,13 triliun, sedangkan DPK sekitar Rp12,3 triliun.

Yang patut dicermati adalah kualitas aset. NPL gross BNC sekitar 2,99%, tertinggi dalam perbandingan enam bank digital utama yang dirangkum Katadata.

Ini menjadi pengingat penting bagi seluruh industri.

Pertumbuhan kredit yang cepat memang dapat memperbesar aset.

Tetapi aset bukan berarti otomatis berkualitas.

BNC kini dituntut membuktikan bahwa transformasi digital bukan hanya menghasilkan jumlah pengguna dan volume transaksi, tetapi juga menghasilkan kredit berkualitas serta profitabilitas yang konsisten.

7. Krom Bank: Pendatang yang Tumbuh Eksplosif

Krom Bank menjadi salah satu fenomena paling menarik.

Pada 2025, total aset Krom masih sekitar Rp12,21 triliun. Namun pada kuartal I/2026, aset telah mencapai sekitar Rp14,77 triliun, tumbuh 78% secara tahunan.

Laporan posisi Juni 2026 menunjukkan eksposur aset neraca Krom sekitar Rp15,75 triliun, sementara aset bruto sebelum CKPN sekitar Rp16,94 triliun.

Pertumbuhan ini berjalan beriringan dengan ekspansi kredit.

Krom juga berhasil melewati 1 juta rekening dan menghimpun DPK sekitar Rp10 triliun hingga April 2026.

Krom menarik karena tidak hanya mengandalkan nama besar pemegang saham. Bank ini membangun positioning sebagai bank digital untuk milenial dan Gen Z, sekaligus memanfaatkan ekosistem Kredivo Group.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Krom bisa tumbuh.

Pertanyaannya: seberapa jauh Krom bisa tumbuh tanpa mengorbankan kualitas aset dan biaya dana?

8. Allo Bank: Ekosistem CT Corp Mulai Menghasilkan

Allo Bank menempati posisi berikutnya dengan aset sekitar Rp15,57 triliun per Juni 2026.

Angka tersebut naik sekitar 10% yoy dari Rp14,17 triliun pada Juni 2025.

Yang membuat kinerja Allo menarik adalah kemampuan menghasilkan laba.

Semester I/2026, Allo Bank mencatat laba bersih sekitar Rp234 miliar.

Kredit juga tumbuh 28% yoy menjadi sekitar Rp9,55 triliun, sementara NPL gross tetap terkendali di 1,73%.

Allo memiliki keunggulan berupa ekosistem CT Corp, mulai dari sektor ritel hingga lifestyle dan financial services.

Strateginya pun semakin jelas: bukan sekadar menjadi aplikasi bank, tetapi menjadi bagian dari ekosistem transaksi.

Di era bank digital, ekosistem bisa menjadi senjata lebih kuat daripada sekadar bunga deposito tinggi.

9. Bank Aladin Syariah: Pemain Syariah yang Tidak Bisa Diabaikan

Bank Aladin Syariah menjadi salah satu pemain unik dalam daftar ini.

Per Juni 2026, total aset mencapai sekitar Rp15,14 triliun, naik dari Rp14,42 triliun pada akhir 2025.

Bank ini juga berhasil mencatat laba bersih sekitar Rp38,38 miliar pada semester I/2026.

Pembiayaan bagi hasil mencapai sekitar Rp4,98 triliun.

Namun Aladin menghadapi tantangan tersendiri.

Sebagai bank syariah digital, pertumbuhan tidak cukup hanya mengejar pengguna. Bank harus membangun ekosistem keuangan syariah yang membuat nasabah menggunakan rekening secara aktif.

Kolaborasi dengan Alfa Group menjadi salah satu aset strategis. Hingga kuartal II/2026, Aladin menyebut telah memiliki lebih dari 3,9 juta nasabah terdaftar dan didukung jaringan sekitar 25.000 gerai Alfa Group.

Ini memberi Aladin sesuatu yang tidak dimiliki semua bank digital: jembatan antara digital banking dan jaringan fisik.

10. Bank Raya: Digital Banking dari Benteng BRI

Bank Raya menjadi pemain menarik karena berada di bawah ekosistem BRI. Strateginya juga berbeda.

Bank Raya tidak harus memenangkan perang aplikasi konsumer melawan SeaBank atau Jago. Fokus utamanya adalah mengembangkan digital lending, terutama pembiayaan mikro dan ekosistem AgenBRILink.

Pada kuartal I/2026, penyaluran kredit digital Bank Raya mencapai Rp8,14 triliun, tumbuh 29% yoy. Outstanding kredit digital mencapai Rp3,14 triliun atau sekitar 45,6% dari total kredit.

DPK Bank Raya mencapai sekitar Rp8,44 triliun pada kuartal I/2026.

Produk seperti Pinang Dana Talangan juga menjadi mesin utama bisnis, dengan penyaluran mencapai Rp7,25 triliun pada tiga bulan pertama 2026.

Bank Raya menunjukkan bahwa masa depan digital banking tidak hanya berada di kota besar.

Digital banking juga bisa menjadi mesin pembiayaan sektor mikro di seluruh Indonesia.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU