Selular.ID – Pasar aksesori perangkat elektronik di Indonesia semakin ramai. Beragam merek menawarkan produk dengan fungsi serupa, mulai dari true wireless stereo (TWS), speaker, smartwatch, powerbank hingga berbagai perangkat pendukung smartphone.
Di tengah persaingan tersebut, perang harga menjadi salah satu tantangan yang sulit dihindari. Namun, Olike menilai strategi menjadi pemain dengan harga paling murah bukan satu-satunya cara untuk memenangkan konsumen Indonesia.
Head of Product Olike Indonesia, Oscar Wan Chigang, menyebut anggapan bahwa konsumen Asia Tenggara, termasuk Indonesia, hanya mencari produk murah sebagai sebuah persepsi yang kurang tepat.
Menurutnya, konsumen Indonesia justru mencari kombinasi antara inovasi, kualitas dan harga yang masuk akal.
“Bukan berarti konsumen Indonesia hanya mencari barang murah. Yang dibutuhkan adalah affordable innovation,” ujar Oscar dalam podcast Bincang Eksekutif.
Inovasi yang Bisa Dijangkau
Konsep affordable innovation menjadi salah satu pendekatan Olike dalam mengembangkan produk di Indonesia.
Alih-alih menghadirkan teknologi dengan harga setinggi mungkin, perusahaan mencoba mencari kebutuhan konsumen yang belum terakomodasi (unmet needs), kemudian menghadirkan solusi dengan teknologi yang tepat.
Menurut Oscar, tantangannya adalah bagaimana memberikan fitur yang memang berguna tanpa membuat harga produk menjadi tidak terjangkau.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan di tengah kondisi daya beli masyarakat yang dinamis.
Olike sendiri mengaku berupaya mengendalikan faktor yang berada di dalam kendali perusahaan, salah satunya dengan meningkatkan efisiensi internal.
“Kalau berbicara mengenai kondisi ekonomi atau nilai tukar, kami fokus pada hal-hal yang bisa kami kontrol, yaitu meningkatkan efisiensi internal dan menekan biaya operasional,” jelasnya.
Baca juga:
- Olike Indonesia Beberkan Penjualan Powerbank di Tengah Tren Smartphone Gaming
- Olike Ungkap Pergeseran Selera Pengguna Powerbank Indonesia, Kini Tak Hanya Pentingkan Kapasitas Daya
Strategi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa harga bukan semata-mata ditentukan oleh keinginan untuk mengejar volume penjualan.
Memahami Konsumen dari Dekat
Menurut Oscar, salah satu kesalahan yang dapat dilakukan sebuah brand ketika masuk ke pasar baru adalah hanya mengandalkan data riset dari jarak jauh.
Pengalaman bekerja di sejumlah negara membuatnya melihat bahwa karakter konsumen Indonesia memiliki detail yang berbeda.
Untuk kategori audio misalnya, konsumen Indonesia memiliki preferensi terhadap karakter suara dengan bass yang kuat.
Demikian pula dengan desain produk. Kondisi iklim Indonesia yang panas dan membuat tangan mudah berkeringat menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan ketika menentukan material dan finishing sebuah produk.
Karena itu, menurut Oscar, memahami pasar Indonesia tidak cukup hanya dengan membaca laporan riset atau melihat ulasan konsumen di platform e-commerce. Tim harus turun langsung ke lapangan.
“Tidak cukup hanya melihat dari jauh. Kami harus benar-benar turun dan memahami bagaimana masyarakat lokal menggunakan produk dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Indonesia Bukan Sekadar Pasar Ekspor
Pendekatan tersebut menjadi penting karena Olike melihat Indonesia sebagai pasar jangka panjang.
Oscar mengatakan, dibandingkan perusahaan global yang menjadikan Asia Pasifik sebagai salah satu bagian dari bisnis globalnya, Indonesia bagi Olike merupakan pasar dengan fokus yang jauh lebih besar.
“Pasar Indonesia adalah fokus 100% kami,” katanya.
Olike pun berupaya membangun jaringan distribusi hingga ke berbagai wilayah Indonesia.
Perusahaan saat ini memiliki sekitar 300 orang dalam tim penjualan offline yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.
Bagi Olike, keberadaan tim di lapangan bukan hanya untuk menjual produk.
Mereka juga berfungsi sebagai sumber informasi untuk memahami kebutuhan konsumen di daerah.
Pendekatan tersebut pada akhirnya kembali kepada satu prinsip: produk harus dibuat berdasarkan kebutuhan pasar, bukan sekadar apa yang ingin dijual oleh perusahaan.
Di pasar aksesori yang semakin padat, strategi tersebut bisa menjadi pembeda.
Sebab, konsumen mungkin datang karena harga, tetapi mereka akan bertahan jika produk benar-benar menjawab kebutuhan.




