Selular.ID – Seorang remaja berusia 15 tahun di Jepang ditangkap setelah diduga memakai ChatGPT untuk membantu menyempurnakan program yang menghapus 46.812 akun pengguna layanan streaming anime Bandai Channel.
Serangan itu membuat layanan milik Bandai Namco Filmworks berhenti selama lebih dari satu bulan.
Perusahaan juga harus mengembalikan dana kepada pengguna yang terdampak.
The Independent dikutip Minggu, 12 Juli, melaporkan, siswa sekolah menengah atas asal Tokorozawa, dekat Tokyo, tersebut dituduh mengganggu kegiatan usaha secara curang.
Ia diduga mengirim perintah palsu ke server Bandai Namco Filmworks pada 4 November 2025.
Bandai Namco Filmworks merupakan anak perusahaan Bandai Namco Holdings.
Baca juga:
- OpenAI Gebrak ChatGPT dengan Mode Suara GPT-Live, Dapat Bicara dan Dengar Bersamaan
- Pengguna Bisa Gunakan ChatGPT Work untuk Tugas Kompleks
Kepolisian Metropolitan Tokyo menyebut puluhan ribu akun Bandai Channel terhapus tanpa sepengetahuan maupun persetujuan pemiliknya.
Remaja tersebut mengakui tuduhan itu. Kepada penyidik, ia mengatakan menulis sendiri kode sumber awal sebelum meminta bantuan ChatGPT untuk memperbaiki dan menyelesaikannya.
“Saya membuat sendiri kode sumber untuk proses penutupan akun. Karena prosesnya memakan waktu lama, saya bertanya kepada ChatGPT dan menyelesaikannya dengan bahasa pemrograman yang berbeda,” katanya, seperti dikutip Asahi Shimbun.
Ia mengaku tidak memiliki dendam terhadap perusahaan. Bandai Channel dipilih karena terdapat banyak akun yang dapat ia masuki.
Bandai Namco Filmworks sempat mengambil langkah pengamanan dan memblokir aksesnya.
Namun, remaja itu diduga mengganti alamat IP hingga 30 kali agar dapat terus mengirim perintah palsu.
Alamat IP merupakan alamat yang digunakan perangkat untuk terhubung dan berkomunikasi melalui jaringan internet.
Sebulan setelah serangan, Bandai Namco Filmworks mengumumkan informasi pribadi dari hingga 1,36 juta akun berpotensi bocor.
Data tersebut mencakup alamat surat elektronik, saldo akun, dan metode pembayaran.
Perusahaan menyatakan belum menemukan dampak lanjutan, termasuk penyebaran data secara daring.
“Kami menanggapi situasi ini dengan sangat serius dan akan terus melakukan pemeriksaan rutin serta berupaya mencegah kejadian serupa terulang,” kata Bandai Namco Filmworks, seperti dikutip media Jepang.
Remaja itu belajar pemrograman secara mandiri sejak duduk di sekolah dasar. Kepada penyidik, ia mengaku senang menganalisis komunikasi jaringan.
Polisi sebelumnya menangkapnya pada Juni atas dugaan masuk ke Bandai Channel menggunakan akun milik pengguna lain.
Penyelidikan kasus tersebut kemudian mengungkap serangan yang lebih luas.
The Independent menyebut perkara ini termasuk salah satu kasus awal di Jepang yang melibatkan AI generatif sebagai alat bantu serangan siber.
Seorang penyidik senior Kepolisian Metropolitan Tokyo mengatakan tingginya anonimitas di dunia siber dapat membuat orang tergoda melakukan kejahatan secara gegabah.
“Orang mungkin tergoda melakukan kejahatan dengan mudah, tetapi tindakan itu dapat menimbulkan akibat serius,” katanya.


