Selular.ID – Melongok ke belakang, Huawei benar-benar pernah berada di ambang pintu menjadi penguasa pasar ponsel global, menggeser raksasa seperti Samsung dan Apple.
Untuk diketahui, vendor yang berbasis di Shenzhen itu, pernah mencapai puncak kejayaan.
Berbagai laporan data pasar menunjukkan, pada kuartal II-2020, raksasa teknologi China itu berhasil menjadi raja smartphone dunia dengan menggeser Samsung.
Huawei tercatat menguasai hingga 21,4% pangsa pasar smartphone global pada April 2020, melampaui Samsung yang saat itu berada di posisi kedua dengan 19,1%. Riset lain menunjukkan Huawei pernah mencapai 19% dibanding Samsung 17%.
Kesuksesan ini didorong oleh pertumbuhan masif di pasar China dan inovasi teknologi produk flagship mereka yang sangat kompetitif.
Seri P dan Mate terbilang laris manis di banyak negara, termasuk Eropa dan AS, berkat kolaborasi dengan produsen kamera terkemuka asal Jerman, Leica.
Namun posisi tersebut tidak bertahan lama karena Huawei terkena sanksi Amerika Serikat yang memutus akses mereka ke layanan Google Mobile Service yang merupakan jantung sistem operasi Android dan teknologi chipset penting lainnya.
Hal ini menyebabkan penjualan globalnya anjlok dan memaksa mereka menjual Honor, merek smartphone untuk segmen budget.
Meski sempat jatuh, Huawei mulai bangkit kembali. Lewat strategi kemandirian teknologi, kolaborasi domestik, dan investasi besar-besaran pada riset (R&D).
Baca Juga: Huawei Mate 80 Pro Mulai Edar Luas di Indonesia
Hasilnya, perusahaan sepenuhnya terlepas dari GMS, Huawei menciptakan sistem operasi sendiri, HarmonyOS (HMOS). Ini mencakup ekosistem aplikasi sendiri, yaitu HUAWEI AppGallery.
Huawei juga mengembangkan chipset sendiri, yaitu Kirin yang tak kalah dengan Snapdragon milik Qualcomm.
Chipset Kirin dari Huawei dikenal dengan performa tinggi, efisiensi energi yang superior, dan keunggulan dalam pemrosesan AI (Artificial Intelligence).
Kelebihan utamanya meliputi teknologi fabrikasi canggih, integrasi modem 5G yang hemat daya, teknologi GPU Turbo untuk gaming, serta kemampuan pemrosesan gambar (ISP) yang tajam, sehingga mampu bersaing ketat dengan chipset flagship lainnya.
Strategi itu membuat Huawei bangkit, khususnya di pasar domestik lewat seri premium. Hebatnya, penjualan Huawei bahkan melampau iPhone pada Agustus 2024.
Setelah sempat tercecer, Huawei kembali meraih posisi puncak, seperti yang pernah diraih pada kuartal kedua 2020, meski hanya di pasar domestik.
Momentum pertumbuhan Huawei kini terus berlanjut. Merek yang identik dengan segmen high-end itu, sukses menduduki posisi teratas di pasar smartphone China pada kuartal pertama 2026 dengan pangsa pasar tertinggi dalam lima tahun.
Di sisi lain, Apple mencatatkan pertumbuhan terkuat di antara enam pemain teratas, meskipun terjadi krisis chip memori global.
Menurut laporan dari Counterpoint Research yang diterbitkan pada Jumat (17/4), Huawei memegang pangsa pasar 20 persen dalam tiga bulan pertama, tertinggi sejak kuartal keempat 2020.
Subsidi pemerintah China yang menawarkan diskon 15 persen untuk gadget di bawah 6.000 yuan (US$880), bersama dengan promosi selama Tahun Baru Imlek pada bulan Februari, mendukung kinerja yang kuat, kata perusahaan riset tersebut.
“Ketergantungan perusahaan yang besar pada pemasok domestik memberikan penyangga biaya yang baik di tengah lonjakan harga memori global,” kata laporan tersebut.
Tahun lalu, Huawei mengungguli Apple untuk merebut kembali posisi nomor satu di pasar smartphone China daratan, menurut IDC pada Januari 2026.
Apple berada di peringkat kedua pada kuartal pertama dengan pangsa pasar 19 persen, didorong oleh lonjakan pengiriman sebesar 20 persen, pertumbuhan terbesar di antara enam merek teratas.
Hal ini didorong oleh “kinerja kuat yang berkelanjutan dari seri iPhone 17, pemotongan harga promosi, dan subsidi pemerintah,” menurut Counterpoint Research.
Baca Juga: Ada Apa? Huawei Hapus Pura 90 Ultra dari Lini Flagship




