Selular.ID – Hanya dalam tempo lima tahun, mobil-mobil listrik China telah mendominasi pasar Indonesia. Semua itu berkat bandrol harga yang sangat kompetitif (terjangkau), teknologi baterai mutakhir (jarak tempuh jauh, aman), desain yang keren, serta fitur canggih/AI yang melimpah.
Beragam keunggulan itu juga didukung garansi panjang dan biaya operasional rendah. Apalagi imbas perang Iran – AS, harga BBM bisa melambung tinggi, terutama BBM non subsidi. Masyarakat semakin menyadari pentingnya kendaraan yang tidak bikin kantong bolong.
Dukungan pemerintah juga terlihat nyata dengan semakin banyaknya fasilitas SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di berbagai pelosok kota. Semua itu, membuat orang Indonesia makin percaya dengan kendaraan bebas emisi.
Alhasil, merek-merek China yang satu dekade lalu masih belum familiar, kini semakin popular di Indonesia.
Dimotori oleh BYD, Wuling, Cherry, Jaecoo, dan MG, produsen otomotif China berhasil menarik konsumen milenial/urban yang mencari kendaraan praktis, tidak bikin kantong bolong, sekaligus ramah lingkungan.
Dominasi mobil listrik China tercermin dari data terbaru Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia).
Tercatat, penjualan mobil listrik nasional periode tiga bulan awal 2026 masih cukup menjanjikan, meski Maret terjadi penurunan menjadi 10.572 unit, dibandingkan Februari 12.314 unit.
Kendati begitu, penjualan Januari – Maret 2026 tercatat naik signifikan sebanyak 95,9 persen jadi 33.150 unit. Padahal periode tiga bulan awal tahun lalu baru mencapai 16.926 unit.
Data Gaikindo mengungkapkan, 10 mobil listrik terlaris Indonesia pada Maret 2026 diborong semuanya oleh pabrikan China. Tak ada satu pun merek dari negara lain, baik Korea atau pun Jepang.
Ke-10 merek teratas adalah Jaecoo J5 (2.959 unit), BYD Sealion 07 (1.236 unit), BYD M6 (976 unit), Geely X2 (949 unit), BYD Atto 1 (672 unit), Denza D9 (455 unit), Wuling Darion EV (301 unit), VinFast VF3 (258 unit), AION V (238 unit), AION UT (242 unit).
Penjualan Brand Jepang Anjlok
Kedigdayaan merek-merek China yang sukses mengangkangi pasar Indonesia dalam waktu terbilang singkat, tentu memberi tekanan langsung kepada para pesaingnya. Terutama pabrikan Jepang yang selama lebih dari lima dekade menguasai pasar otomotif Indonesia.
Tahun lalu, produsen Jepang masih mendominasi penjualan mobil di Indonesia. Menurut data Gaikindo, delapan dari 10 brand mobil terlaris selama 2025 berasal dari Negeri Sakura. Sementara China hanya menyumbang dua nama.
Meski demikian, penjualan mobil China terus meroket dari tahun ke tahun. Sedangkan di sisi lain, sejumlah brand asal Jepang justru mengalami penurunan penjualan yang terhitung signifikan.
Bulan lalu atau Maret 2026, empat dari 10 merek mobil terlaris disumbang produsen China, yakni BYD, Jaecoo, Wuling dan Chery. Bahkan, BYD melesat ke urutan kelima usai menyalip Honda. Mereka hanya kalah tipis dari Suzuki di peringkat keempat.
Dari semua brand Jepang, Honda terlihat paling hancur-hancuran. Penjualan mobil Honda di Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 30-40% sepanjang 2025 – 2026, dengan penurunan bahkan hampir 50% pada awal 2026 dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: Mobil Listrik China Sepenuhnya Jadi Raja Jalanan Indonesia
Faktor utama penurunan meliputi lemahnya daya beli masyarakat, persaingan ketat dari merek mobil China, serta harga yang dianggap terlalu tinggi.
Penurunan penjualan Honda secara drastis, berdampak pada mitra-mitra, terutama para dealer yang selama bertahun-tahun telah menjadi bagian dari jatuh bangunnya Honda di Indonesia.
Fenomena dealer Honda berganti merek menjadi brand China (seperti Chery, BYD, Jaecoo), khususnya di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, didorong oleh ketatnya persaingan pasar dan penurunan penjualan.
Sebagai kepanjangan tangan prinsipal, para dealer memilih beralih karena agresi merek China yang menawarkan produk lebih kompetitif dan produk yang lebih diminati konsumen ketimbang tetap loyal.
Pasalnya, dalam kompetisi yang keras, bisnis tetaplah bisnis. Dealer harus mendapatkan keuntungan agar roda bisnis tetap berputar.
Produsen Mobil Jepang Wajib Cepat Beradaptasi
Lantas, akankah datang masa di mana brand China menggusur Jepang sepenuhnya di Indonesia?
Mengingat hal tersebut pernah terjadi ketika lebih dari empat dekade brand-brand Jepang seperti Toyota dan Honda membuat produsen asal Amerika Serikat (AS) dan Eropa ketar-ketir.
Pada akhirnya, pabrikan Eropa dan AS, seperti Peugeot, Fiat, Chevrolet, dan Ford, akhirnya kalah dalam penguasaan pasar. Memaksa mereka mundur teratur dari Indonesia.
Harus diakui, kendaraan listrik (EV) buatan pabrikan Jepang kurang populer di Indonesia karena para produsen utama seperti Toyota dan Honda, lebih fokus pada teknologi hibrida daripada EV murni.
Perbedaan orientasi ini menyebabkan merek-merek China, dengan cepat mampu mendominasi pasar dengan model kompak yang lebih murah, kaya fitur, dan desain yang trendi.
Akibatnya, merek-merek Jepang dengan cepat kehilangan pangsa pasar karena adaptasi EV yang lebih lambat, harga yang tinggi untuk model listrik murni, dan pergeseran konsumen ke arah alternatif yang lebih terjangkau dan berteknologi canggih.

Dalam pandangan pengamat otomotif Ridwan Hanif, mobil listrik memang layak dibeli mengingat nyaman digunakan untuk aktifitas harian.
“Secara teknis, mobil-mobil listrik sekelas Jaecoo J5 EV atau BYD Atto 1 itu enak banget buat disetir. Rata-rata tenaga motor listrik di kelas ini berkisar di angka 200 H”, katanya.
“Torsinya? Jangan ditanya, instan banget! Biasa torsinya main di kisaran 228 lb-ft, yang kalau kita konversi ke bahasa montir sini, itu sekitar 310 Nm. Bayangin tuh, injak gas dikit, badan langsung nempel ke jok!”, imbuh Ridwan, seperti dilansir dari laman medsosnya.
Dari segi efisiensi, Ridwan juga menyebutkan bahwa kendaraan listrik sungguh sangat efisien.
“Kalau di luar negeri suka diukur pakai MPGe (misal sekitar 115 mpg). Nah, karena 1 mpg itu setara dengan sekitar 0.425 km/liter, berarti efisiensi mobil listrik ini bisa dibilang setara sama mobil bensin yang konsumsinya nyentuh 48 km/liter! Gila kan iritnya?”, tambahnya.
Menurut Ridwan, beli mobil listrik itu value for money-nya bakal berasa banget kalau memang pakai mobil ini buat kendaraan harian, terutama para commuter yang jarak tempuhnya lumayan jauh tiap hari.
“Tapi kalau cuma disimpen di garasi dan dipakai weekend aja buat nongkrong, mending dipikir-pikir lagi deh”, cetusnya.
Di sisi lain, terutama melihat data terbaru yang dipublikasikan Gaikindo, Ridwan mengaku bangga campur deg-degan.
Bangga karena ekosistem kita makin maju, SPKLU sudah di mana-mana, dan orang Indonesia makin percaya dengan kendaraan bebas emisi.
“Tapi deg-degan juga buat brand Jepang yang lambat adaptasi. Kalau mereka nggak buru-buru rilis mobil listrik dengan harga masuk akal, pasar kita bisa-bisa beneran digulung habis oleh merek-merek China”, pungkas Ridwan.
Baca Juga: Perang Iran – AS Untungkan Produsen Mobil Listrik China, Jepang Semakin Tertinggal



