Sabtu, 20 Juli 2024
Selular.ID -

Emas Anjlok Usai Laporan NFP yang Melebihi Ekspektasi

BACA JUGA

Selular.ID – Prediksi harga emas pagi tadi menunjukkan tren penurunan yang masih akan berlanjut.

Menurut Andrew Fischer dari Deu Calion Futures (DCFX), emas diperkirakan akan terus melemah akibat dampak penguatan dolar AS pasca laporan Non-Farm Payrolls (NFP) yang melebihi ekspektasi.

Baca juga: Emas Hari Ini Diprediksi Menguat Lebih Tinggi Saat Rilis Berita NFP

“Penguatan USD ini diprediksi masih akan berlangsung cukup lama, membawa pengaruh signifikan terhadap harga emas,” ujarnya.

Laporan terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap kuat dengan penambahan 272.000 pekerjaan pada bulan Mei, jauh melebihi perkiraan 185.000 dan angka bulan April sebesar 165.000.

Data ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diantisipasi sebelumnya.

“Peluang untuk pemotongan suku bunga pada bulan September telah turun dari 55% menjadi 47%, menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat akan bertahan,” ujarnya.

Penguatan USD ini merupakan faktor utama yang menekan harga emas. Seperti diketahui, emas dan USD memiliki hubungan invers, di mana penguatan USD cenderung menurunkan harga emas.

Fischer menambahkan bahwa penguatan USD ini mencegah pengaruh buruk dari pemerintahan AS sendiri, meskipun situasi pemerintahan saat ini cenderung semakin buruk karena fenomena dedolarisasi di beberapa negara.

“Dedolarisasi ini mengurangi perputaran mata uang USD secara global, namun dampak penguatan USD saat ini masih dominan dalam menekan harga emas,” katanya.

Selain itu, faktor eksternal lainnya yang turut membebani harga emas adalah keputusan Bank Rakyat China yang menghentikan pembelian logam emas.

“Langkah ini semakin menambah tekanan pada harga emas yang sudah berada di level terendah dalam empat minggu terakhir. Berita ini memperpanjang penurunan emas (XAU/USD) yang sudah dimulai sejak sesi Asia pada hari Jumat (7/6),” ujarnya.

Imbal hasil obligasi AS yang meningkat juga mendukung penguatan USD. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik 14 basis poin menjadi 4,43%, menarik lebih banyak investor untuk beralih ke obligasi AS dibandingkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil. Fischer menyoroti bahwa tren ini semakin memperkuat tekanan pada harga emas.

Pelaku pasar kini mengalihkan fokus mereka ke data inflasi AS yang akan dirilis minggu ini serta pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve.

Indeks Harga Konsumen (CPI/Consumer Price Index) AS diperkirakan akan tetap stabil. Namun, jika terjadi percepatan inflasi, ini bisa memicu spekulasi lebih lanjut tentang kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed, yang berpotensi menekan harga emas lebih lanjut.

Dengan penguatan USD yang masih berlangsung dan kebijakan The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, harga emas diprediksi masih akan melanjutkan penurunan.

Kondisi pasar tenaga kerja AS yang kuat dan keputusan Bank Rakyat China untuk menghentikan pembelian emas menambah tekanan terhadap harga emas.

Baca juga: Harga Emas Turun Kurangnya Permintaan Prospek Suku Bunga AS

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU