Rabu, 24 April 2024
Selular.ID -

Tornado Rancaekek Viral di Media Sosial, BRIN dan BMKG Beda Pendapat

BACA JUGA

JAKARTA, SELULAR.ID – Tornado di Rancaekek, Kabupaten Bandung viral di media sosial, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beda pendapat.

Sebelumnya, pusaran angin kecang yang menerjang Rancekek membuat heboh masyarakat.

Pembahasan soal fenomena tersebut ramai di media sosial, terutama beda pendapat soal tornado dan puting beliung.

Kemarin, Rabu (21/2/2024), masyarakat Rancaekek, Kabupaten Bandung mengalami fenomena cuaca ekstrem dalam bentuk pusaran angin kencang yang merusak.

TONTON JUGA:
@selular.id

Resmi Rilis Vivo V30 Pro, Saat ini V30 Series hadir dengan desain yang menawan. Untuk kamera V Series memang tidak perlu diragukan lagi. #vivov30series #vivov30pro #vivoindonesia #zeiss #v30pro #vivo #vivoglobal #CapCut

♬ suara asli – SelularID – SelularID

Pengguna media sosial X, yang dulu bernama Twitter, ramai membicarakan soal peristiwa ini.

Kata tornado, puting beliung, dan Rancaekek masuk dalam daftar trending di X.

Baca juga: Termasuk China, Ini Negara yang Blokir WhatsApp

Pembicaraan soal tornado Rancaekek dimulai oleh seorang ahli iklim dari BRIN.

Lewat akun X-nya, Erma Yulihastin menyebut angin kencang di Rancaekek sebagai tornado pertama yang terjadi di wilayah Indonesia.

Ia menyatakan bahwa angin yang merusak Rancaekek sangat mirip dengan tornado.

Tornado jelasnya, berbeda dengan puting beliung karena memiliki skala kekuatan angin yang lebih kuat dengan radius dampak yang lebih luas.

“Struktur tornado Rancaekek, Indonesia, dibandingkan dengan tornado yang biasa terjadi di belahan bumi utara, Amerika Serikat. Memiliki kemiripan 99,99% alias mirip bingits!”

Puting beliung juga tidak berdurasi lama. Biasanya, puting beliung di Indonesia hanya terjadi sekitar 5-10 menit.

Berdasarkan data sejarah, menurutnya, hanya ada satu fenomena puting beliung tak biasa yang terjadi selama 20 menit di Cimenyan pada 2021.

Baca juga: WhatsApp Lakukan Pembaruan, Uji Coba Desain Status

“Angin tornado minimal kecepatan angin mencapai 70 km/jam. Dalam kajian kami di BRIN, angin puting beliung terkuat: 56 km/jam,” katanya.

Erma mengatakan tim BRIN akan secepatnya melakukan investigasi dan rekonstruksi fenomena tornado Rancaekek.

“Kronologi foto-foto dan video dari masyarakat dan media sangat membantu periset dalam mendokumentasikan extreme event yang tercatat sebagai tornado pertama ini,” katanya.

Ia mengklaim peristiwa ekstrem pada 21 Februari 2024, seperti fenomena tornado pertama, sudah diprediksi oleh Kamajaya (Kajian Awal Musim Jangka Madya Wilayah Indonesia) yaitu sistem informasi prediksi iklim berbasis komputer milik BRIN.

BMKG menyebut fenomena Rancaekek sebagai puting beliung. Fenomena puting beliung tersebut terjadi sekitar pukul 15.30 – 16.00 WIB, menimbulkan ikutan dampak angin kencang hingga sekitar wilayah Jatinangor.

Kondisi angin di sekitar Jatinangor terukur pada saat jam kejadian mencapai 36,8 km/jam.

“Secara esensial fenomena puting beliung dan tornado memang merujuk pada fenomena alam yang memiliki beberapa kemiripan visual yaitu pusaran angin yang kuat, berbahaya dan berpotensi merusak,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan resmi, Kamis (22/2/2024).

Ia menjelaskan bahwa istilah Tornado itu biasa dipakai di wilayah Amerika dan ketika intensitasnya meningkat hingga ratusan km/jam dengan dimensi yang sangat besar hingga puluhan kilometer maka dapat menimbulkan kerusakan yang luar biasa.

Sementara itu, di Indonesia fenomena yang mirip tersebut diberikan istilah puting beliung dengan karakteristik kecepatan angin dan dampak yang relatif tidak sekuat tornado besar yang terjadi di wilayah Amerika

“Sehingga kami menghimbau bagi siapapun yang berkepentingan, untuk tidak menggunakan istilah yang dapat menimbulkan kehebohan di masyarakat, cukuplah dengan menggunakan istilah yang sudah familier di masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat dapat memahaminya dengan lebih mudah,” kata Guswanto.

Guswanto menjelaskan bahwa puting beliung terbentuk dari sistem Awan Cumulonimbus (CB) yang memiliki karakteristik menimbulkan terjadinya cuaca ekstrem. Namun, tidak setiap awan CB menimbulkan fenomena tersebut.

“Dapat terjadi fenomena puting beliung dan itu tergantung bagaimana kondisi labilitas atmosfernya,” jelasnya.

BMKG menjelaskan bahwa fenomena puting beliung telah terjadi beberapa kali di wilayah Bandung, seperti misalkan pada tanggal 05 Juni 2023 terjadi di Desa Bojongmalaka, Desa Rancamanyar, dan Kelurahan Andir Kecamatan Baleendah-Bandung.

Baca juga: 7 Aplikasi Pendeteksi Gempa Bumi dan Tsunami di Handphone

Pada 2023 juga terjadi kejadian puting beliung di wilayah Bandung pada bulan Oktober di Banjaran dan bulan Desember di Ciparay serta menimbulkan beberapa kerusakan seperti bangunan rusak dan pohon tumbang.

Pada 18 Februari 2024, puting beliung terjadi juga di Parongpong Bandung Barat.

Ikuti berita Selular.ID di GOOGLE NEWS

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU