Senin, 15 April 2024
Selular.ID -

Nuon Akan Buat Konten VR Kalau Sudah 1 Miliar Pengguna

BACA JUGA

Selular.ID – Penjualan headset virtual reality (VR) milik Apple dilaporkan laris manis. Kendati harganya selangit (sekitar Rp75 juta) pemesanan pre-order Vision Pro disinyalir mencapai 180 ribu unit.

Melihat tren tersebut, sejumlah perusahaan penyedia konten yang tadinya enggan menggarap konten khusus VR mulai menyuarakan kemungkinannya membuat aplikasi khusus tersebut. Mulai dari Netflix, Youtube, Instagram, Spotify, dll.

Salah satu penyedia konten digital tanah air Nuon Digital Indonesia (Nuon) mengaku belum mempertimbangkan untuk memproduksi konten VR.

Kepada Selular.ID, CEO Nuon Aris Sudewo mengungkapkan tingkat acceptance (penerimaan) headset VR di masyarakat Indonesia belum terbangun.

“Saya melihatnya kembali ke behaviour pelanggan/masyarakat kita seperti apa. Sudah ter-accept apa belum,” ucap Aris Sudewo kepada Selular.ID pada acara All-Around Nuon yang digelar di Jakarta, Rabu (7/2/2024).

Menurut Aris, bodi headset yang bongsor dan harganya yang mahal serta penggunaan aplikasinya yang tidak jauh berbeda dari aplikasi handphone, akan membuat tren VR bersifat sementara.

“Mungkin memang canggih, tetapi berapa lama teknologi VR ini bertahan? Karena begitu bulky dan begitu mahal. Aplikasinya tidak jauh berbeda dari apa yang bisa kita rasakan di handphone,” ujarnya.

Memang, Aris mengakui ketika acara peluncuran Apple Vision Pro penyedia konten Disney+ Hotstar mendemokan bagaimana pengguna bisa menggonti-ganti suasananya seakan-akan sedang berada di bioskop, ruang tamu, dll.

Namun, menurut Aris, kenapa orang masih pergi ke bioskop karena memang ada sensasi sound, crowd, makan popcorn, dll. Sensasi itu, lanjutnya, tidak bisa didapatkan di rumah tanpa ke bioskop.

Konten digital itu menurt Aris harus bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

“Tipikal konten digital di semua aplikasi itu harus menghasilkan. Disney+ Hotstar berusaha keras menyaingi Netflix. Sementara Netflix cost productionnya sangat besar. Maka dari itu semua menaikan tarif. Spotify juga baru saja menaikan tarif. Kualitas konten dan pricing scheme yang bagus mutlak, supaya perusahaan bisa profitable,” papar Aris.

Tren saat ini menurut Aris sesuai konsumsi konsumen yang ada, yakni di device yang sehari-hari dilakukan.

Lalu apakah Nuon mau on-boarding ke VR?

“Mungkin iya. Sekitar 5-10 tahun lagi. Ketika memang sudah ada 1 miliar orang yang pakai VR. Kalau sekarang saat, harga device-nya Rp75 juta, i dont think so!,” tukas Aris.

Kembali lagi ke acceptance di market. Mungkin headset VR sekarang sedang ngetren, hype, jadi first adopter keren. Tetapi di Indonesia menurutnya belum.

“Sebenarnya masyarakat di Indonesia lebih maju daripada masyarakat Amerika. Di AS, mau sewa ride hailing itu repot. Kalau disini lebih canggih. Shipping ada opsi same day, instant, 2 jam sampai, dll. Di AS gak ada,” terangnya.

Aris menyerukan, Indonesia lebih maju daripada Amerika Serikat.

“Jangan karena VR launching di Amerika lalu Indonesia jadi ketinggalan, itu tidak. Indonesia lebih maju. Lebih maju lagi ada China. Tetapi di Asia, Indonesia sudah jadi benchmark nomor satu. Indonesia maju kok di industri digital,” pungkas Aris.

Baca Juga: Headset VR Apple Laris Manis, Tetapi Tidak Ada Aplikasi Netflix, YouTube, Instagram dan Spotify

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU