Minggu, 21 April 2024

Merek-merek Smartphone yang Kini Lenyap Dari Pasar Indonesia

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Dampak pandemi membuat ponsel di Indonesia tak sedang baik-baik saja. Tercermin pada akhir 2022, di mana permintaan anjlok drastis.

Sesuai laporan bertajuk “Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker” yang dikeluarkan IDC pada Februari 2023 lalu, permintaan ponsel anjlok ke titik terendah.

Menurut lembaga riset yang berbasis di Framingham, Massachusetts (AS) itu,  pasar ponsel pada tahun lalu turun hingga 14,3% year over year (YoY) menjadi hanya 35 juta unit.

Itu adalah rekor permintaan terendah dalam 13 tahun terakhir. Padahal sebelum pandemi, daya serap ponsel di pasar domestik mencapai 50 – 60 juta unit per tahun. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai pasar ponsel terbesar ke empat di dunia, setelah China, India, dan AS.

Meski permintaan melemah, namun Indonesia masih merupakan pasar strategis bagi vendor-vendor smartphone.

Apalagi dengan kondisi ekonomi yang mulai membaik pasca pandemi, permintaan ponsel diprediksi akan kembali pulih.

Baca Juga: Sesak Nafas Vendor-vendor Smartphone China di India

Tak dapat dipungkiri, permintaan ponsel yang tinggi didorong oleh pergeseran pengguna, dari feature phone  ke smartphone.

Hal ini merupakan imbas penetrasi jaringan 4G oleh operator selular, yang kini lebih banyak mengandalkan pemasukan dari layanan data, imbas menurunnya penggunaan basic service (voice dan SMS).

Di sisi lain, kebutuhan akan smartphone semakin meningkat karena Indonesia telah memasuki era 5G sejak Telkomsel meluncurkan layanan tersebut pada 27 Mei 2021.

Meski menyimpan potensi pasar yang besar, namun faktanya banyak brand ponsel yang gulung tikar imbas persaingan terbuka (open market) yang dianut Indonesia.

Brand lokal misalnya, kini tak lagi terdengar gaungnya. Invasi brand-brand China pada akhir 2014, sukes melibas brand lokal hingga nyaris tak berbekas.

Padahal Melongok ke belakang, khususnya saat berkembangnya teknologi 3G (2007 – 2013), brand-brand lokal cukup berjaya. Transisi dari 2G ke 3G, menjadi berkah bagi brand lokal.

Siapa tak kenal Nexian. Brand lokal ini pernah menggamit sekitar 20% pangsa pasar pada 2007. Penguasaan Nexian hanya kalah dari Nokia yang saat itu menjadi penguasa pasar.

Begitu pun dengan Andromax. Brand yang menjadi ujung tombak Smartfren dalam menjaring pengguna CDMA itu, pernah meraih 15% pangsa pasar pada 2013. Menjadikan Andromax pemain yang disegani.

Selain Nexian dan Andromax, dua brand lokal lain yang pernah meraih kesuksesan di pasar dalam negeri adalah Advan dan Evercoss.

Sementara merek lain yang juga pernah mencuri perhatian masyarakat, adalah Polytron, Mito, Axioo, Asiafone, HiCore, SPC Mobile dan HiMax.

Sayangnya, memasuk era 4G, brand-brand lokal yang pernah menjadi raja di negeri sendiri, kini tak lagi kompetitif.

Minimnya penguasaan teknologi dan terbatasnya dukungan permodalan, membuat brand lokal kini tak lagi masuk hitungan.

Situasi bertambah buruk, karena pemerintah tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap keberlanjutan bisnis brand-brand lokal. Misalnya, dalam bentuk insentif pajak atau dukungan industri pendukung yang bisa mengurangi biaya.

Saat ini brand lokal yang masih bertahan, hanya menyisakan satu nama, yaitu Advan. Itu pun dengan sumber daya terbatas.

Sempat menjadi vendor nomor tiga di Indonesia, pada kuartal ketiga 2019, posisi Advan terus melorot. Imbas minimnya produk yang dilempar ke pasar.

Baca Juga: Fakta-fakta Ratusan Ribu Smartphone yang Bakal Diblokir Karena Gunakan IMEI Ilegal

Selain merek-merek lokal yang terpaksa keluar gelanggang, merek smartphone asal Taiwan juga tak lagi bergigi di Indonesia.

Padahal periode 2010 – 2015, sejumlah vendor Taiwan pernah menjadi pilihan masyarakat. Seperti Acer dan HTC. Sayang, karena kalah bersaing, keduanya benar-benar hilang dari peredaran.

Praktis, brand asal Taiwan kini hanya tersisa Asus. Namun, demi bertahan dari gempuran vendor-vendor China, Asus harus mengubah strategi.

Asus tidak lagi bermain di segmen entry level melainkan mid to high end yang menawarkan margin lebih tinggi. Selain itu, Asus juga memperkuat segmen gaming phone sebagai salah satu bagian dari diferensiasi.

Tak dapat dipungkiri, pasar ponsel dalam negeri kini telah dikuasai brand-brand asal China. Pemain-pemain seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, Infinix, Realme, Itel, Tecno dan lainnya telah menancapkan diri dan terus berupaya memperkokoh posisi.

Mereka terus menggoda pasar lewat produk yang inovatif, teknologi terkini, serta harga yang kompetitif. Beberapa brand bahkan menggunakan brand ambassador untuk meningkatkan ekuitas merek secara instan. Meski harus mengeluarkan budget pemasaran yang tak sedikit.

Agresifitas itu sekaligus menekan posisi Samsung sebagai market leader. Membuat peta pasar bisa berubah dengan cepat.

Menurut laporan lembaga riset Counterpoint, Top 5 vendor smartphone di Indonesia periode Januari-Maret 2023 dikuasai Oppo dengan raihan 23%.

Selanjutnya diikuti Samsung (18,3%), Vivo (17,4%), Xiaomi (12,5%), dan Realme (11,9%), serta ada Infinix (10,1%) yang membayangi Top 5 di posisi ke-6.

Meski pasar ponsel Indonesia kini telah dikuasai oleh merek-merek China, faktanya banyak juga brand asal Tiongkok yang tidak beruntung. Mereka terpaksa gulung tikar, meski sempat menjadi buah bibir.

Merek-merek tersebut diantaranya adalah Gionee, Coolpad, Meizu, OnePlus, Lenovo, Hisense, Nubia, Honor, ZUK, OnePlus, Hisense, Alcatel, Hair, dan Nubia.

Tumbangnya brand-brand asal China menunjukkan, Indonesia sejatinya bukan pasar yang mudah ditaklukkan. Meski brand-brand tersebut telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit demi mengatrol merek, memperluas jaringan pemasaran, dan layanan after sales.

Baca Juga: Pengiriman Smartphone di AS Turun 24%, Samsung Terjun Bebas

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU