Selasa, 23 Juli 2024
Selular.ID -

Siapa Bisa Goyang Dominasi Sony di Pasar Sensor Kamera Smartphone?

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Di pasar smartphone, saat ini Sony bisa disebut sebagai pemain pinggiran. Raksasa elektronik asal Jepang itu, kalah bersaing dengan vendor-vendor lain, terutama pabrikan China yang kini menguasai pasar ponsel global.

Meski tak lagi bertaji di industri smartphone, namun posisi  Sony di pasar sensor kamera ponsel cerdas tak tergoyahkan.

Menurut laporan Strategy Analytics, Sony mampu mendulang pendapatan sebesar $6,4 miliar pada Q2-2022, dari bisnis sensor kamera smartphone.

Riset Strategy Analytics ini menemukan bahwa pasar untuk sensor gambar smartphone mengalami penurunan lebih dari 5 persen dari tahun ke tahun di Semester 1 2022. Pandemi Covid-19 yang merebak pada awal 2020, membuat produksi sensor gambar smartphone menurun drastis.

Di tengah pasokan komponen yang menurun, Sony SemiconductorSolutions merebut posisi teratas dengan pangsa pendapatan 44 persen diikuti oleh Samsung System LSI dan OmniVision pada periode tersebut .

Strategy Analytics melaporkan, hingga semester pertama 2022, tiga vendor terkemuka yaitu Sony, Samsung, dan OmniVision meraih hampir 83 persen pangsa pendapatan di pasar sensor gambar smartphone global.

Dalam hal aplikasi multi-kamera smartphone, sensor gambar untuk aplikasi kedalaman dan makro turun menjadi 26 persen, sedangkan untuk aplikasi ultrawide melonjak menjadi 20 persen.

Baca Juga: Meskipun Camera Smartphone Sudah Canggih, Sony Menanggapi Dengan Santai

Jeffrey Mathews, Senior Analyst Strategy Analytics mengatakan, mengatakan bahwa pasar untuk sensor gambar smartphone mengalami penurunan dalam adopsi multikamera karena menurunnya permintaan dan inventaris smartphone dalam rantai pasokan pelanggan selama periode tersebut.

“Sony mendorong pangsa pasarnya melalui kemitraan dengan OEM smartphone terkemuka untuk produk sensor gambar berukuran besar dan beresolusi tinggi”, kata Mathews.

Selain itu, tambah Mathews, Samsung terus memimpin permintaan resolusi tinggi dengan memasok produk CIS 200MP kepada pelanggan dan Omnivision mengalami kerugian pangsa karena gangguan pelanggan yang disebabkan oleh pandemi di China.

Stephen Entwistle, Vice President of the Strategic Technologies Practice di Strategy Analytics menambahkan, bahwa seiring dengan momentum permintaan yang terus menurun, OEM diharapkan dapat mendorong peluang dalam memposisikan smartphone dengan kemampuan pencitraan kelas atas dan premium.

“Pengenalan smartphone andalan yang menampilkan kamera beresolusi tinggi memberikan peningkatan jangka pendek untuk pasar sensor gambar smartphone”, ujar Entwistle.

Sony Bakal Bangun Pabrik Baru Sensor Kamera Smartphone

 

Untuk mempertahankan dominasi pasar, Sony diketahui sedang mempertimbangkan investasi sekitar 800 miliar yen ($5,83 miliar) untuk membangun pabrik sensor gambar smartphone di Jepang barat.

Media lokal, Nikkan Kogyo melaporkan bahwa pabrik tersebut akan berlokasi di prefektur Kumamoto, Jepang barat. Sony berencana produksi dapat terlaksana paling cepat pada 2025.

Harian bisnis terkemuka Jepang Nikkei, menyebutkan bahwa investasi pembangunan pabrik baru itu belum dapat diungkapkan.

Nikkei mengatakan konglomerat elektronik dan hiburan Jepang akan dengan hati-hati mempertimbangkan waktu pembangunan dan ukuran investasi mengingat kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global.

Ekonomi utama, termasuk Amerika Serikat dan Jepang, telah berjuang untuk meningkatkan produksi chip dalam negeri setelah pandemi COVID-19 mengganggu rantai pasokan global.

Reuters melaporkan bahwa, pembangunan pabrik tersebut akan melibatkan raksasa semikonduktor, Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC).

Sony dan pembuat suku cadang mobil Denso masing-masing mengambil saham minoritas dalam proyek senilai $8,6 miliar tersebut.

Meski menguasai pasar sensor kamera, Divisi ponsel pintar Sony saat ini masih jauh dari performa tinggi yang ditunjukkannya di akhir tahun 2000-an.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sony telah berjuang untuk mendapatkan pijakan yang kuat dan menguntungkan di pasar, tetapi tampaknya strategi dan fokusnya saat ini pada perangkat kelas atas dapat membuahkan hasil.

Menurut laporan pendapatan terbaru Sony, segmen komunikasi selular menikmati angka pendapatan yang lebih tinggi pada 2021 dibandingkan 2020.

Divisi selular perusahaan meraup 99,1 miliar yen Jepang ($871,6 juta) pada Q2 fiskal 2021 dibandingkan 79,1 miliar yen Jepang ($695,7 juta) pada periode yang sama 2020. Perusahaan juga mengonfirmasi peningkatan pendapatan ini sebagai hasil dari “peningkatan penjualan unit”.

Secara mengesankan, peningkatan ini terjadi di tengah kekurangan semikonduktor global, yang menyebabkan beberapa OEM memangkas jumlah pengiriman mereka.

Bagaimana kinerja ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya? Pada Q1 2021, divisi selular mengalami kerugian sebesar 12,8 miliar yen Jepang ($112,6 juta) dibandingkan dengan Q1 2020.

Bahkan bernasib lebih buruk pada Q2 2019 dibandingkan dengan Q2 2018, dengan penarikan 37,1 miliar yen Jepang ($2,4 miliar) tercatat selama periode ini.

Khususnya 2020 adalah tahun pertama sejak 2017 yang menghasilkan keuntungan, dan 2021 tampaknya melanjutkan tren itu.

Komunikasi selular mengalami peningkatan sebesar 7,1 miliar yen Jepang ($469 juta) pada semester pertama fiskal 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Meskipun masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai pemulihan total, tampaknya ada cahaya di ujung terowongan untuk divisi smartphone Sony.

Strategi Sony untuk memotong biaya sambil meningkatkan harga dasar produk, terbukti bekerja sangat baik dalam meningkatkan keuntungan.

Baca Juga: Wow! Harga Camera Sony Terbaru Seharga Motor

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU