Keahlian Bidang Keamanan Siber Terus Menghadapi Banyak Tantangan

Keahlian Bidang Keamanan Siber Terus Menghadapi Banyak Tantangan
Keahlian Bidang Keamanan Siber Terus Menghadapi Banyak Tantangan

Selular.ID – Fortinet merilis 2022 Cybersecurity Skills Gap Report. Laporan global ini mengungkap bahwa kekurangan keahlian keamanan siber terus menerus menghadapi banyak tantangan.

Tantangan yang signifikan bagi perusahaan selama ini adalah menemukan dan mempertahankan pekerja yang tepat untuk mengisi posisi keamanan yang penting dari spesialis keamanan cloud hingga analis SOC.

Laporan menemukan bahwa 60% pimpinan mengakui bahwa perusahaan mereka berjuang keras melakukan perekrutan dan 52% mengalami kesulitan mempertahankan tenaga ahli.

Di antara tantangan-tantangan proses mencari tenaga kerja adalah perekrutan tenaga kerja perempuan, lulusan baru, dan warga minoritas.

Baca Juga: Fortinet Bangun Akademi Keamanan Jaringan di Seluruh Dunia

Secara global, 7 dari 10 pimpinan perusahaan melihat perekrutan tenaga kerja perempuan dan lulusan baru sebagai hambatan paling tinggi, dan 61% mengatakan mempekerjakan warga minoritas, selama ini, menemui tantangan.

Karena perusahaan ingin membangun time yang lebih mampu dan beragam, 89% perusahaan global memiliki tujuan keberagaman pekerja yang eksplisit sebagai bagian dari strategi perekrutan berdasarkan hasil laporan.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa 75% perusahaan memiliki struktur formal untuk merekrut secara khusus lebih banyal tenaga kerja perempuan, dan 59% perusahaan memiliki strategi untuk mempekerjakan warga minoritas. Selain itu, 51% perusahaan memiliki program untuk mempekerjakan para veteran.

Termasuk insiden pelanggaran keamanan, dan berlanjut pada kerugian finansial. Akibatnya, kesenjangan keahlian tetap menjadi perhatian utama bagi para eksekutif level-C dan semakin menjadi prioritas di level dewan.

Menurut laporan ISC2 dalam 2021 Cyber Workforce Report, tenaga kerja bidang keamanan siber global perlu bertambah sebesar 65% agar dapat dengan efektif menjaga asset penting organisasi.

Meskipun jumlah tenaga profesional yang dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan menurun dari 3,12 juta menjadi 2,72 juta setahun belakangan, angka ini masih jadi kekosongan yang signifikan yang membuat perusahaan- perusahaan menjadi rentan.

Baca Juga: Pencurian Data Kembali Marak, Vida beri Resep Jaga Keamanan Data

Laporan Fortinet menunjukkan banyaknya resiko akibat dari kesenjangan keahlian keamanan siber.

Paling nyata terlihat, dari 10 yang disurvei, 8 perusahaan mengalami pelanggaran data setidaknya satu kali yang mereka akui terkait dengan isu kurangnya keahlian atau kesadaran keamanan siber.

Survei juga menunjukkan bahwa secara global, sebanyak 64% perusahaan mengalami pelanggaran data yang berakibat pada kerugian pendapatan, biaya dan/atau denda pemulihan.

Dengan meningkatnya beban kerugian akibat pelanggaran data di segi keuntungan dan reputasi organisasi, keamanan siber menjadi prioritas di level dewan.

Secara global, 88% dari perusahaan yang memiliki dewan direksi melaporkan bahwa dewan menanyakan secara mendetail tentang keamanan siber. Dan 76% organisasi memiliki dewan direksi yang merekomendasikan kenaikan tenaga kerja di bidang IT dan keamanan siber.

Memajukan Keahlian Keamanan Siber
Laporan kesenjangan keahlian Fortinet menunjukkan bahwa pelatihan dan sertifikasi adalah solusi penting bagi organisasi yang ingin mengatasi lebih lanjut masalah kesenjangan keahlian.

Laporan ini mengungkapkan bahwa 95% pimpinan perusahaan percaya bahwa sertifikasi yang berfokus pada teknologi memberikan dampak positif pada peran dan tim mereka.

Sementara itu 81% pimpinan perusahaan lebih memilih mepekerjakan orang yang memiliki sertifikasi. Selain itu, 91% responden menyatakan bahwa mereka berniat membayar agar karyawan mendapatkan sertifikasi siber.

Baca Juga: ITSEC: Pengembangan IoT Harus Beriringan Dengan Peningkatan Infrastruktur dan Keamanan Siber

Survei ini dilakukan pada lebih dari 1,200 pembuat keputusan bidang IT dan keamanan siber dari 29 lokasi berbeda.

Responden berasal dari berbagai industri, termasuk teknologi (28%), manufaktur (12%), dan jasa keuangan (10%).