Invasi Rusia: Beda Sikap Ericsson, Nokia dan Huawei

Invasi Rusia: Beda Sikap Ericsson, Nokia dan Huawei

Selular.ID – Ericsson akhirnya menghentikan operasi di Rusia karena berusaha untuk mematuhi sanksi internasional yang diberlakukan dalam beberapa minggu setelah invasi negara itu ke Ukraina.

Namun mundurnya Ericsson berdampak pada pendapatan. Vendor peralatan telekomunikasi asal Swedia itu, akan mencatat provisi SEK900 juta ($95,5 juta) dalam pendapatan Q1 untuk penurunan nilai aset dan biaya luar biasa lainnya.

Dalam sebuah pernyataan singkat, Ericsson menjelaskan bahwa “sekarang akan menangguhkan bisnisnya yang terpengaruh dengan pelanggan di Rusia tanpa batas waktu” sehubungan dengan peristiwa baru-baru ini dan sanksi yang diberlakukan oleh Uni Eropa.

Vendor yang bermarkas di Stockholm itu, menambahkan sedang dalam pembicaraan dengan pelanggan dan mitra, dan menempatkan karyawan di Rusia dengan cuti berbayar.

Ericsson telah bekerja dengan sejumlah operator selular Rusia selama bertahun-tahun. Baru-baru ini menjalin kemitraan strategis dengan MTS untuk mengembangkan jaringan private 5G, dan juga telah berkolaborasi dengan operator tersebut dalam pengujian dan penerapan teknologi generasi berikutnya.

Sebelumnya vendor pesaing Eropa lainnya, Nokia mengumumkan pada awal Maret lalu bahwa mereka telah menangguhkan pengirimannya ke Rusia untuk sementara waktu.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan, Nokia sepenuhnya menghentikan operasi di Rusia. Hal itu diungkapkan langsung CEO Nokia Pekka Lundmark dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Senin (11/4/2022).

Baca Juga: Dilarang Gunakan Android, Produsen Smartphone Rusia Pindah ke HarmonyOS

“Kami hanya tidak melihat kemungkinan untuk melanjutkan di negara ini dalam situasi saat ini,” kata Lundmark.

Dia menambahkan Nokia akan terus mendukung pelanggan, dan tidak mungkin untuk mengatakan pada tahap ini berapa lama penarikan akan dilakukan.

Sejatinya beberapa sektor, termasuk telekomunikasi, telah dibebaskan dari beberapa sanksi atas dasar kemanusiaan atau terkait. Namun Nokia mengatakan telah memutuskan bahwa keluar dari Rusia adalah satu-satunya pilihan.

Meski cabut dari Rusia, Nokia sedang mengajukan lisensi yang relevan untuk mendukung pelanggan sesuai dengan sanksi saat ini, tambah Lundmark.

Nokia tidak mengharapkan keputusan ini berdampak pada prospek 2022, tetapi mengatakan dapat mengarah pada provisi pada kuartal pertama sekitar 100 juta euro ($ 109 juta).

Dengan penghentian operasi, Lundmark menegaskan bhawa Nokia tidak akan mengimplementasikan rencana yang diumumkan pada November tahun lalu. Sebelumnya Nokia berencana mendirikan usaha patungan bersama YADRO Rusia, guna membangun stasiun pangkalan telekomunikasi 4G dan 5G.

Keputusan Nokia untuk meninggalkan Rusia akan mempengaruhi sekitar 2.000 pekerja, dan beberapa dari mereka mungkin ditawari pekerjaan di bagian lain dunia. Hingga kini Nokia memiliki sekitar 90.000 karyawan di seluruh dunia.

“Banyak yang harus diubah sebelum memungkinkan untuk mempertimbangkan kembali melakukan bisnis di negara ini,” kata Lundmark.

Selain dipicu sanksi UE, keputusan mundurnya Ericsson dan Nokia dari Rusia, juga tak lepas dari persoalan geopolitik dan regulasi lainnya.

Rusia diketahui berselisih dengan Finlandia dan Swedia, negara asal Nokia dan Ericsson, terkait minat mereka untuk bergabung dengan aliansi militer NATO.

Rusia juga telah mendorong perusahaan untuk mulai membangun jaringan hanya dengan menggunakan peralatan Rusia, berusaha membujuk Nokia dan Ericsson untuk mendirikan pabrik di negara tersebut.

Baik Nokia maupun Ericsson menghasilkan persentase penjualan satu digit yang rendah di Rusia, di mana perusahaan China seperti Huawei  dan ZTE memiliki pangsa yang lebih besar.

Baca Juga: Waduh! Kini Giliran Spotify Angkat Kaki dari Rusia

Halaman berikutnya

Huawei Bersikap “Wait and See”