Lindungi Warga Ukraina, Google Maps Telah Nonaktifkan Data Lalu Lintas

Google Maps

Selular.ID – Memasuki hari kelima Konflik antara Ukraina-Rusia, memberikan dampak pada banyak prioritas. Seperti Google Maps telah nonaktifkan lalu lintas di Ukraina.

Tujuan Google Maps mengambil langkah tersebut untuk melindungi para warga Ukraina yang terkena dampak invasi Rusia.

Karena menurut Google, dengan kemampuan penunjuk jalan dari Maps dikhawatirkan dapat memberikan informasi yang tidak terduga.

Bahkan bisa sampai membahayakan militer hingga warga sipil Ukraina. Seperti, mengungkap markas militer atau pergerakan militer yang ada di Ukraina.

Reuters telah mengkonfirmasi dari pihak Google bahwa pengguna di seluruh dunia tidak akan lagi dapat melihat informasi langsung tentang kondisi lalu lintas dan kapasitas bisnis di Ukraina.

Baca Juga: Elon Musk Aktifkan Starlink di Ukraina Atasi Gangguan Internet

Tindakan ini diambil setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Ukraina dan beberapa sumber terpercaya.

Selain itu, dari pihak Ukraina juga sempat menemukan pergerakan pasukan Rusia melalui dengan menggunakan Google Maps.

Karena Konvoi tersebut ‘ditandai’ sebagai kemacetan lalu lintas oleh Google Maps dengan pemberian tanda merah.

Faktor tersebut kabarnya  karena personel militer Rusia lupa mematikan fitur lokasi di telepon genggamnya.

Keputusan itu dibuat setelah para ahli mencatat daerah-daerah tertentu dari kemacetan jalan di dekat perbatasan Ukraina yang berhubungan dengan pergerakan pasukan Rusia.

Baca Juga: Waduh! Meta Terkena Dampak Dari Invasi Rusia Terhadap Ukraina

Informasi lalu lintas langsung di Ukraina akan tetap tersedia untuk pengguna lokal dalam mode navigasi.

Tapi untuk pengguna global selama masa konflik antar kedua negara ini sudah dinonaktifkan

Sensor lalu lintas yang dinonaktifkan oleh Google Maps adalah pusat aktivitas sehari-hari dari kota Ukraina seperti: Kyiv, Kharkiv, dan Lviv. Sekarang telah menjadi teater pertempuran

Google juga mengambil langkah-langkah lain untuk membatasi penyebaran disinformasi dan mendorong pengguna untuk mengamankan akun mereka selama perang.

Baca Juga: META Mengancam Akan Menutup Facebook dan Instagram di Wilayah Eropa