Jurus TSMC di Tengah Perang Dagang yang Tak Berujung Antara China-AS

TSMC Taipe China

Selular.ID – Perang dagang antara AS dan China yang telah berlangsung sejak era Presiden Donald Trump, membuat banyak perusahaan teknologi terjebak dalam pusaran konflik. Salah satunya adalah TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company).

TSMC secara luas dianggap sebagai satu-satunya vendor semikonduktir terpenting di dunia, yang mampu memproduksi chip canggih. Industi strategis ini membutuhkan investasi besar dan peningkatan kecanggihan, karena semikonduktor menjadi lebih maju.

Pabrik utama perusahaan, termasuk beberapa yang paling maju, berbasis di Taiwan, pulau yang memiliki pemerintahan sendiri yang mempertahankan hubungan dekat dengan Washington, tetapi dianggap oleh Beijing sebagai provinsi yang membangkang.

Baca Juga: Gandeng TSMC, Apple Garap Chipset Terbaru?

TSMC telah mengakomodasi beberapa tuntutan Washington, seperti mengirimkan data produksi ke otoritas AS, mematuhi sanksi AS yang melarangnya memasok chip ke perusahaan tertentu.

Perusahaan yang bermarkas di Taipe itu itu, juga membangun pabrik fabrikasi 5 nanometer di Arizona. Pabrik di Arizona itu, bertujuan memasok prosesor dengan lebih baik kepada perusahaan-perusahaan teknologi di Amerika Serikat. Apple, yang merupakan pelanggan dari TSMC, diperkirakan akan menggunakan prosesor canggih untuk iPhone di generasi mendatang.

Kepatuhan TSMC terhadap sanksi AS, yang menolak akses Huawei Technologies ke chip canggih, telah memberikan pukulan bagi raksasa telekomunikasi China yang berbasis di Shenzhen itu, sekaligus mendorong China untuk bekerja menuju kemandirian teknologi.

Di sisi lain, perlindungan yang diperketat Taipei terhadap teknologi sensitif di tengah tuduhan pencurian oleh perusahaan-perusahaan China, Hong Kong dan Makau juga mempersulit bisnis Taiwan untuk mendirikan pabrik di sisi lain Selat Taiwan.

Pada Kamis (17/2/2022), Taipei meloloskan rancangan revisi undang-undang keamanan nasional pulau itu. Undang-undang baru itu juga memasukkan “kejahatan spionase ekonomi”.

Aturan itu dirancang untuk mengatasi potensi ancaman dari China untuk mencuri teknologi utama, sekaligus memburu profesional berkaliber tinggi. Pelanggar aturan ini akan menghadapi ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Menurut Sravan Kundojiala, analis senior di Strategy Analytics, TSMC sangat menyadari kesulitan yang dihadapinya, sebagaimana dibuktikan dengan dimasukkannya dalam semua laporan tahunannya tentang invasi militer China sebagai salah satu risiko bisnis.

“Dulu, [TSMC] memiliki masalah dengan investasi China, yang membutuhkan izin,” kata Kundojiala. “Saya yakin [mempekerjakan seorang analis politik] tidak jarang, tetapi semakin menjadi bagian penting dari cerita.”

TSMC memang tengah berupaya merekrut bakat dengan keahlian politik untuk membantu perusahaan dengan analisis bisnis dan pengambilan keputusan, sekaligus menavigasi persaingan AS-China yang semakin dalam.

Perusahaan raksasa Taiwan itu, pada Rabu (16/2/2022) memposting lowongan pekerjaan untuk seorang analis intelijen bisnis yang “tertarik untuk menerjemahkan perubahan geopolitik dan ekonomi untuk berdampak pada rantai pasokan industri [sirkuit terintegrasi]”.

Kandidat yang ideal harus memiliki gelar doktor dalam hubungan internasional atau ekonomi politik, mampu “menghubungkan titik-titik”, dan mengartikulasikan rekomendasi kepada perusahaan untuk perencanaan strategis, menurut iklan tersebut.

Baca Juga: Antisipasi Tahun Megatren, TSMC Terus Ekspansi Manufaktur Chip

Halaman berikutnya

Permintaan Chip Melonjak, Kinerja TSMC Terkerek Naik