Kisah Mike Lazaridis: Pentolan Blackberry yang Nyaris Jadi Legenda Teknologi

Kisah Mike Lazaridis: Pentolan Blackberry yang Nyaris Jadi Legenda Teknologi

Kalah Bersaing dengan Apple dan Merek-Merek China

Sayangnya, transisi teknologi dari 3G ke 4G rupanya menjadi kuburan bagi Blackberry. Memasuki 2011, Blackberry mengalami kemunduran besar. Layanan push email dan BBM kerap terganggu pada 2011. Di saat bersamaan, RIM juga kehilangan pangsa pasar telepon pintar yang direbut para pesaingnya.

RIM yang pada masa jayanya pernah bernilai $77 milyar, mulai keteteran dengan dua seteru tradisionalnya, Samsung dan Apple.  Kondisi diperburuk dengan agresifnya merek-merek China.  Dimotori oleh beberapa merek utama, seperti Vivo, Oppo, Huawei, Realme dan Xiaomi, membuat Blackberry tak lagi dilirik oleh konsumen global.

Nilai pasar RIM turun drastis karena sahamnya anjlok sampai 75% sepanjang 2011. Penjualan perangkat andalannya, Blackberry juga amblas. Guna memangkas biaya, RIM pun melakukan PHK terhadap 2.000 pekerja.

Agar tidak semakin amblas, kalangan investor meminta RIM melakukan perubahan strategis di tengah kesulitan perusahaan dalam menghadapi persaingan dengan Apple dan Google.

Kondisi itu memaksa Mike dan Jim Balsillie untuk mengundurkan diri. Pada 23 Januari 2012, Mike lengser dari posisi CEO digantikan oleh Thorsten Heins yang sebelumnya menjabat sebagai Chief Operating Officer. Dalam perombakan itu, Mike “ditendang” ke posisi wakil chairman. Begitu pun dengan Balsillie yang masih duduk di kursi dewan direksi tetapi tidak memegang peran operasional.

Ketika berbicara usai pengumuman RIM, Lazaridis mengatakan dia menyadari ada hal-hal yang perlu diubah di perusahaan.

“Ada waktunya dalam perjalanan semua perusahaan yang sukses ketika para pendiri menyadari perlunya untuk menyerahkan estafet ke pemimpin baru,” katanya dalam jumpa pers di kantor pusat RIM di Waterloo, Kanada, Minggu (22/1/2012).

Baca Juga: Selamat Tinggal BlackBerry 

Halaman berikutnya

Penjualan Minim Berujung Tamatnya BlackBerry OS