Berikut 3 Prediksi Serangan Siber yang Semakin ‘Kuat’ di 2022

Semakin Gahar, Serangan Siber Pada Sektor Industri Kian Meningkat

Jakarta,Selular.ID – 2022 diprediksi bakal membawa teknologi baru yang lebih maju dari tahun sebelumnya, dan begitu pun dengan serangan siber yang dimana menurut para pakar Kaspersky juga bakal lebih tajam.

Berikut adalah prediksi keamanan siber Kaspersky untuk sektor industri, sektor kesehatan, dan privasi untuk 2022, simak berikut ulasanya.

Machine ‘unlearning’ mengalami peningkatan

Pembelajaran mesin modern dapat menghafal banyak informasi tentang perilaku pribadi pengguna. Karena algoritme semacam itu akan semakin banyak digunakan untuk berbagai pembuatan keputusan, mulai dari menentukan apakah orang memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman atau tidak hingga iklan yang ditampilkan di layar pengguna.

Baca juga: Hambat Pembahasan RUU PDP, Sebenarnya Seberapa ‘Penting’ Polemik Badan Keamanan data Pribadi?

Cara canggih tersebut memang tergolong sempura secara administratif, kendati demikian, saat pemerintah mempertimbangkan kebijakan baru untuk melindungi privasi warga negara, apakah juga akan meluas ke data pribadi yang digunakan untuk melatih model machine learning (ML) Jika iya, maka perusahaan dan para peneliti kedepannya diharapkan untuk mulai mengembangkan teknologi baru, seperti machine unlearning, yang memungkinkan untuk menghapus data dari algoritme yang sudah terlatih.

Hal ini menjadi penting pasalnya kedepan masalah privasi kian tebal. Di tahun mendatang, masyarakat akan dihadapkan dengan lebih banyak lagi polemik dan kebijakan seputar sistem yang kian otomatis tersebut.

Serangan siber akan semakin sulit terditeksi

Serangan terhadap organisasi industri akan terus berlanjut dan mungkin menjadi lebih sulit untuk dideteksi dan dicegah secara otomatis. Diperkirakan serangan akan terus mengganggu dan kian membahayakan bisnis di tahun mendatang dan bahkan dengan cara yang lebih membahayakan.

Para pelaku kejahatan siber terpaksa menyerang secara lebih agresif seiring dengan tindakan pemerintah untuk berinvestasi dalam keamanan operasi default dan untuk mengurangi risiko keamanan, serangan yang menargetkan finansial mungkin muncul, dan para pengguna dan pemilik bisnis perlu mengadopsi taktik dan teknologi yang lebih efisien dalam menanggapi serangan terhadap kontrol keamanan mereka.

Dengan demikian, para pelaku kejahattan siber sekarang mulai memperpendek siklus hidup malware yang digunakan. Sampel berbahaya tertentu dapat digunakan terhadap kumpulan target yang sangat terbatas dan hanya aktif selama beberapa Minggu saat berada pada efektivitas puncaknya dan kemudian bentuk baru akan dirilis untuk melewati deteksi. Mereka juga membatasi penggunaan infrastruktur berbahaya agar tidak terlalu mencurigakan.

Baca juga: Perkuat Peran Pinjol legal, Asosiasi Singgung RUU PDP Hingga Izin Akses Biometrik Dukcapil

Penelitian terhadap beberapa aktivitas APT baru-baru ini menunjukkan bahwa beberapa server Komando dan Kontrol kampanye mungkin hanya aktif selama beberapa jam selama fase operasi yang relevan. Beberapa penyerang bahkan sama sekali menghindari menggunakan infrastruktur berbahaya di sumber serangan. Ini adalah beberapa tren yang akan berlanjut, dan kemungkinan besar, sebagai akibatnya kita akan menghadapi serangan siber dengan potensi ancaman dan bahaya yang lebih besar dan sulit dideteksi.

Ancaman di sektor Kesehatan kian massif

Tahun lalu, para peneliti Kaspersky memperkirakan bahwa, ketika pandemi berlangsung, sektor kesehatan akan mendapat perhatian besar dari para pelaku kejahatan siber.

Dan benar saja para penyerang berusaha meraup keuntungan dari vaksinasi dan ransomware yang menyerang rumah sakit hingga membahayakan nyawa pasien.

Di tahun mendatang, vektor serangan untuk sektor kesehatan masih akan terus berkembang, karena lebih banyak data pasien berpindah ke internet dan penyedia layanan kesehatan terus mengadopsi layanan perawatan digital, seperti telehealth. Tahun 2021 telah terjadi peningkatan pelanggaran data terhadap sektor kesehatan satu setengah kali lebih besar dibandingkan tahun 2019.

Baca juga: Pembahasan RUU PDP Mandek!

Diperkirakan penyerang akan mencari kerentanan yang dapat mereka eksploitasi di perangkat wearable baru dan aplikasi medis yang sedang dikembangkan.

Selain itu mereka juga dapat membuat aplikasi palsu yang mungkin diunduh secara keliru oleh pengguna.