spot_img
BerandaNewsSecuritySektor Keuangan Rentan Serangan Siber, GBG Jalin Kemitraan Dengan IST Perkuat Manajemen...

Sektor Keuangan Rentan Serangan Siber, GBG Jalin Kemitraan Dengan IST Perkuat Manajemen Internet Banking

-

Jakarta, Selular.ID – GBG perusahaan global dalam keamanan identitas digital, baru saja mengumumkan kemitraan dengan Infosys Solusi Terpadu (IST), penyedia solusi teknologi transformasi digital di Indonesia.

Dengan kemitraan ini, IST akan menjual, mengimplementasikan, dan memberikan dukungan teknis lokal untuk solusi manajemen kejahatan keuangan dari hulu ke hilir.

Bernardi Susatyo, General Manager, Asia, GBG mengatakan, saat ini Indonesia memiliki jumlah pengguna smartphone terbesar keempat secara global dengan tingkat penetrasi smartphone sebesar 59%.

“Untuk mengelola dan mencegah penipuan secara efektif di pasar yang sangat erat dengan teknologi seluler ini, kami telah mengembangkan ekosistem mitra lokal kami guna memperkaya kecerdasan data dan meningkatkan kesiapan tim penjualan di lapangan serta dukungan teknis,” terang Bernadi.

Lebih lanjut ia menjelaskan Indonesia merupakan salah satu pasar utama bagi GBG. “Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan pencegahan kejahatan keuangan dengan memperkokoh landasan lokal. Kemitraan dengan IST ini akan membantu kami memperkuat kemampuan go-to-market, integrasi sistem, dan pengiriman, dengan rangkaian solusi penipuan dan kepatuhan yang lebih komprehensif untuk lembaga keuangan yang memprioritaskan perbankan seluler dan Internet,” lanjutnya.

Sekedar informasi IST merupakan perusahaan penyedia solusi yang telah berkerjasama lebih dari 30 Bank dan LK Indonesia dan organisasi e-commerce termasuk BNI, BTN, BCA, CIMB Niaga, Bank Permata, Bank Syariah Indonesia, Commonwealth Bank, Bank Victoria, Bank Mayapada, Bank Aceh, Bank Jateng, Bank BJB, Bank NTB Syariah, Jasindo, Blibli dan lainnya.

Sehingga tentu langkah kemitraan ini menjadi penting pasalnya, Indonesia telah mengalami peningkatan yang dramatis dalam adopsi perbankan digital, seperti yang diungkap dalam laporan terbaru McKinsey berjudul Personal Financial Services Survey 2021.

Sekitar 78 persen nasabah Indonesia sekarang menggunakan perbankan digital secara aktif naik dari 57 persen pada tahun 2017. 55 persen responden mengatakan bahwa mereka menggunakan uang tunai kurang dari 30 persen transaksi per minggu, sementara 80 persen berencana meningkatkan transaksi perbankan digital mereka di masa depan.

Laporan inii juga sejalan dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang mencatat sektor keuangan akan terus menghadapi serangan siber. Jenisnya beragam, mulai dari ransomware, phishing, dan lainnya.

Sebagai catatan, perbankan diketahui telah alami kerugian riil sebesar Rp 246,5 miliar akibat serangan siber pada semester I 2020 – semester I 2021. Dan tak hanya perbankan, nasabah juga dirugikan. Pada periode yang sama, nasabah perbankan mengalami kerugian sebesar Rp 11,8 miliar, potensial kerugian Rp 4,5 miliar dengan nilai pemulihan Rp 8,2 miliar.

Sementara kerugian dari pihak lain menyentuh angka Rp 9,1 miliar, potensi kerugian Rp 3,8 miliar dan nilai pemulihan sebesar Rp 3,8 miliar. Artinya, porsi kerugian bank paling besar yakni 77% dari total kerugian. Menyusul nasabah dan pihak lain masing – masing sebesar 20% dan 3%.

Tak hanya kerugian, serangan siber juga menyebabkan kasus fraud di perbankan naik. Pada periode tersebut, terdapat 7.087 laporan kasus fraud.

Sebanyak 45% kejadian fraud tersebut terjadi pada semester II 2020. Dari jumlah tersebut, mayoritas kejadian fraud menggunakan siber sebesar 71,6% terjadi di bank umum milik pemerintah.

Artikel Terbaru