spot_img
BerandaNewsPeran TKDN Dalam Pertumbuhan Handset 5G di Indonesia

Peran TKDN Dalam Pertumbuhan Handset 5G di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Perangkat 5G yang beredar di Indonesia harus melalui hasil uji dari TKDN. Dan mengalami nilai TKDN 5G minimal kenaikan sebesar 5% sama dengan TKDN 4G yakni sebesar 35 persen.

Tapi hanya berlaku 6 bulan lagi, jadi setiap pengujian memiliki masa tenggang, maka para vendor smartphone di harapkan segera menyesuaikan. Dengan Kewajiban yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Aturan TKDN 5G ini juga tertuang dalam Peraturan Menteri (permen) Kemenkominfo No.2 Tahun 2021 tentang Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Informatika Tahun 2020-2024.

Kominfo juga sedang meningkatkan jenis base tranceiver station (BTS) yang menggunakan teknologi Open RAN (radio access network), karena menggunakan BTS yang konvensional kominfo cukup mengalami kesulitan memfasilitasi komunikasi nirkabel antara perangkat komunikasi dan jaringan operator. Namun ini sifatnya masih melalui riset dengan lembaga akademisi Universitas Telkom bandung.

Hasil data yang dipaparkan oleh Mulyadi, di Indonesia 5G conference.Dampak dari penerapan TKDN di Indonesia, sejak era 4G sudah menghasilkan seperti, berapa merek yang dahulu di impor sudah bisa dihasilkan di tanah air, menekan aktivitas impor hanya berjalan untuk perangkat yang tidak memiliki teknologi 4G.

“Berdasarakan dampak TKDN sejak, sudah menghasilkan beberapa seperti pengurangan kegiatan impor, dan peningkatan produksi dalam negeri” Ujar Mulyadi dalam Indonesia 5G conference

Karena dengan TKDN terbukti efektif dalam mengurangi impor ponsel sekitar 30 persen. Untuk itu, Menkominfo mengatakan bahwa TKDN 5G nanti juga diharapkan bisa mendorong Indonesia untuk menjadi negara produsen.

Untuk menghasilkan perangkat Mulyadi menyampaikan draf tahun 2015 mengalami kenaikan 20% untuk untuk produk berbasisi 4G dan naik lagi pada tahun 2017 meningkat menjadi 30%. Dengan data tersebut Mulyadi menegaskan bahwa Indonesia bisa memproduksi perangkat lebih baik.

“ Maka dari itu diharapkan kedapannya Indonesia menunjukan potensinya, karena melihat dari berkas tersebut kita sudah ada kesempatannya” Ujar mulyadi.

Revisi akan fokus pada pembobotan nilai yang akan dibedakan menjadi kategori produk digital dan non-digital. Misalnya, produk digital akan dihitung dengan bobot 70 persen pada aspek manufaktur dan 30 persen pada aspek pengembangan.

Di Indonesia sendiri layanan 5G telah beroperasi secara komersial di sejumlah wilayah sejak Mei 2021. Pada tahap awal ini, layanan 5G tersedia di 9 wilayah di Indonesia, yaitu Jabodetabek, Solo, Medan, Balikpapan, Surabaya, Makassar, Bandung, Batam, dan Denpasar.

Artikel Terbaru