spot_img
BerandaNewsSecurityKepala BSSN: Yang Harus Melindungi Data Itu Lembaga dan Kementerian Sendiri, Bukan...

Kepala BSSN: Yang Harus Melindungi Data Itu Lembaga dan Kementerian Sendiri, Bukan Swasta!

-

Jakarta, Selular.ID –  Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Hinsa Siburian menegaskan salah satu masalah yang cukup krusial pada kasus serangan siber maupun kebocoran data ada di sumber daya manusia (SDM) yang tidak memadai.

Dan ujung dari minimnya SDM yang memadai, banyak lembaga/kementerian yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan mengandalkan jasa pihak swasta untuk mengamankan data tersebut.

“Ini persoalan utama sebenarnya, padahal tiap-tiap lembaga/kementerian harus membangun SDM-nya masing-masin. Beberapa kasus, misal BPJS Kesehatan, yang seharusnya mengamankan data itu mereka sendiri,” kata Hinsa, Dalam acara Digital Leadership Academy (DLA) yang berlangsung secara virtual.

Sekedar informasi kebocoran data BPJS Kesehatan bocor terjadi begitu mengejutkan, ketika diketahui data peserta sebanyak 297 juta tersebar ke ruang digital, dan diperjual belikan oleh peretas Raid Forums pada 12 Mei 2021 lalu.

Oleh karena itu, Hinsa pun meminta kepada seluruh lembaga maupun kementerian negara untuk membangun SDM untuk mengamankan berbagai data penting yang dimiliki. “Yang seharusnya mengamankan datanya kan harus mereka sendiri toh, masa orang lain,” ujarnya.

Jika kita mengacu pada laporan The National Cyber Security Index yang dikembangkan oleh e-Governance Academy Foundation yang bermarkas di Estonia, menyebut Indonesia berada di bawah Nigeria dan Uganda dalam hal keamanan siber, sedangkan dilingkup Asia Tenggara Indonesia juga tertinggal jauh dari Singapura dan Malaysia.

Indonesia mendapatkan peringkat 77 dari 160 negara sementara negara-negara Afrika seperti Nigeria berada pada peringkat 51 dan Uganda peringkat 57. Pada penilaian ini Indonesia hanya mendapatkan skor 38,96, sedangkan Nigeria mendapatkan skor 54,55 dan Uganda mendapatkan skor 50,65.

Sedangkan berdasarkan laporan Indeks keamanan siber nasional (NCSI) sebuah indeks global yang mengukur kesiapan sebuah negara mengungkap skor Indonesia cukup kecil jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Seperti Singapura yang tercatat berada di posisi ke-16 dengan skor indeks sebesar 80,52 dan menjadi negara Asia Tenggara paling aman mengenai keamanan siber, bahkan lebih unggul dari Amerika Serikat yang ada di posisi 17.

Kemudian, Malaysia berada di posisi ke-22 dengan skor keamanan siber 72,73. Thailand di posisi 32 dengan skor 63,64 dan Thailand di peringkat 71 dengan perolehan skor indeks keamanan 42,86.

Meski begitu ada beberapa negara Asia tenggara lainnya yang masih berada di bawah peringkat keamanan siber Indonesia. Seperti Vietnam yang ada di peringkat 80, Brunei Darussalam peringkat 84, dan Myanmar peringkat 139.

spot_img

Artikel Terbaru