spot_img
BerandaNewsFeatureTuntaskan Misi Huawei, Xiaomi Bisa Jadi Vendor Nomor Satu Dunia

Tuntaskan Misi Huawei, Xiaomi Bisa Jadi Vendor Nomor Satu Dunia

-

Jakarta, Selular.ID – Xiaomi untuk pertama kalinya mampu menempatkan diri sebagai vendor terbesar kedua di dunia berdasarkan pengiriman handset pada kuartal kedua 2021. Dengan pencapaian tersebut, Xiaomi kini telah melampaui Apple yang sebelumnya bertengger di posisi tersebut. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, mengingat vendor yang didirikan oleh Lei Jun dan Lin Bin itu, baru menapaki bisnis ponsel pada 2010.

Menurut laporan lembaga riset tekonolgi Canalys, Xiaomi yang berbasis di Beijing mampu menggaet 17% pangsa pasar global, hanya berbeda tipis dengan Samsung yang menguasai 19%. Apple sekarang berada di urutan ketiga dengan 14% pada kuartal tersebut.

Melengkapi lima besar terdapat dua vendor yang masih “bersaudara” Oppo dan Vivo. Duet pabrikan smartphone yang dimiliki oleh BBK Electronics yang berbasis di Dongguan itu, masing-masing menggamit 10% pangsa pasar.

Seperti dilansir dari laman South China Morning Post (SCMP), Canalys melaporkan, bahwa meroketnya kinerja Xiaomi tak lepas dari tingginya penjualan di sejumlah pasar strategis, seperti Amerika Latin, Afrika dan Eropa.

Kepastian Xiaomi bertengger di posisi kedua, membuat CEO Xiaomi Lei Jun “bersabda” ke situs microblogging Weibo untuk merayakan pencapaian tersebut pada Kamis (15/7/2021).

“Izinkan saya berbagi dengan Anda semua kabar baik yang luar biasa. Pengiriman ponsel Xiaomi melampaui Apple dan menjadi nomor 2 dunia untuk pertama kalinya”, tulis Lei Jun.

Meski belum mampu menaklukkan pasar strategis seperti Amerika Serikat, namun Xiaomi meraih pertumbuhan yang kuat di pasar negara berkembang. Tak tanggung-tanggung, Canalys mencatat Xiaomi tumbuh hingga 300% di Amerika Latin dan 150% di Afrika.

Tak hanya itu, vendor yang identik dengan harga terjangkau ini juga tumbuh 50% di Eropa barat. Padahal negara-negara Eropa saat ini bukan pasar yang mudah ditundukkan. Hal itu merupakan imbas kampanye hitam terhadap vendor China oleh Amerika Serikat, terutama Huawei dan ZTE, yang menggolongkan kedua perusahaan itu sebagai bagian dari mata-mata pemerintah China.

Pertumbuhan Xiaomi sejauh ini masih dikontribusi terutama dari perangkat ramah anggaran, meski perusaaan telah membuat kemajuan yang signifikan di pasar smartphone premium. Harga rata-rata handset Xiaomi sekitar 40% hingga 75% lebih murah dibandingkan harga ponsel Samsung atau Apple, tambah Canalys.

“Seiring tumbuh dan berkembang, sekarang Xiaomi sedang mengubah model bisnisnya dari penantang menjadi petahana ” kata Manajer Riset Canalys Ben Stanton dalam sebuah pernyataan.

Tak berbeda dengan Canalys, perusahaan riset Omdia juga mendaulat Xiaomi sebagai vendor terbesar kedua di dunia. Omdia mencatat. pengiriman smartphone global naik hampir 7% pada Q2 2021. Omdia menyebutkan bahwa pasar smartphone global mulai pulih sejak pandemi covid-19 merebak di seluruh dunia. Tercatat, permitaan tumbuh 6,9  tahun-ke-tahun menjadi 299,1 juta unit pada Q2 2021, dibandingkan dengan 279,7 juta pada Q2 2020.

Samsung memimpin dengan 57,3 juta, naik 5,6%. Omdia mengatakan “pertumbuhan ringan” raksasa Korea Selatan dalam pengiriman sebagian besar disebabkan oleh kendala pasokan untuk komponen utama dan pengurangan operasi di fasilitas produksi, terutama di India dan Vietnam yang terpukul keras oleh wabah Covid-19.

Xiaomi sekali lagi menonjol, mencapai peringkat kedua, mengirimkan 49,9 juta unit, naik 72,9%. Menurut Omdia, Xiaomi sebenarnya juga mengalami penurunan produksi, lagi-lagi karena efek pandemi di India, namun penurunannya “relatif kecil” dibandingkan Samsung. Beruntung, penurunan produksi itu, mampu diimbangi dengan peningkatan penjualan di luar kawasan Asia-Pasifik.

Apple tergeser ke peringkat ketiga, meski vendor asal AS itu mampu meningkatkan pengiriman sebesar 7,5% menjadi 42,9 juta karena pemulihan di pasar negara maju dan peningkatan permintaan untuk segmen premium. Vendor lainnya masing-masing Oppo, Vivo, Realme, dan Motorola melengkapi posisi delapan besar lainnya.

Era Baru Pasca Huawei

Meski meraih pertumbuhan yang luar biasa, terutama di pasar internasional, tak dapat dipungkiri meroketnya Xiaomi imbas dari amblasnya penjualan Huawei. Canalys mencatat, pada kuartal kedua 2021, Huawei telah terlempar dari posisi lima besar. Ini adalah kali pertama Huawei tidak masuk dalam posisi elit sepanjang tujuh tahun terakhir.

Vendor yang berbasis di Shenzhen telah tertatih-tatih akibat sanksi AS yang diberlakukan sejak 2019. Ini adalah pembalikan mencolok untuk merek yang sempat menduduki posisi puncak menggantikan Samsung pada kuartal kedua 2020 sebagai vendor smartphone terbesar di dunia.

Baca juga :  Rapor Vivo Q2-2021: Berjaya Di China, Kedodoran di Indonesia

Seperti halnya Canalys, Omdia mengklaim “era Huawei sebagai influencer smartphone utama telah berakhir”. Vendor yang memiliki logo seperti bunga merah menyala itu, mencatat penurunan hingga 74,6% dalam pengiriman menjadi hanya 9,8 juta, menempatkan perusahaan pada peringkat kedelapan.

Amblasnya kinerja Huawei terhitung sangat cepat. Pasalnya, pada 2018 Huawei masih menempati peringkat kedua dan berambisi menjadi pemain nomor satu dunia menggusur Samsung yang telah menjadi market leader sejak 2012.

“Bahkan tanpa pasar Amerika Serikat kita akan menjadi nomor satu di dunia,” sesumbar Richard Yu, Kepala Divisi Konsumen Huawei.

Baca juga :  Xiaomi 11T dan Xiaomi 11T Pro Bakal Didukung MediaTek Dimensity dan Qualcomm Snapdragon SoCs

“Saya percaya paling awal tahun ini, dan paling lambat tahun depan”, kata Yu, saat acara konferensi pers 5G menjelang gelaran MWC (Mobile World Congress) di Beijing (24/1/2019).

Sayangnya, optimisme yang sudah dibangun itu menjadi berantakan, pasca Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang Huawei dan ZTE, membeli teknologi vital dari AS tanpa persetujuan khusus pada Mei 2019.

Dengan aturan tersebut, raksasa teknologi seperti Google, Intel, Qualcomm, Broadcom dan lainnya dilarang berbisnis dengan Huawei. Tanpa layanan Google Mobile Service (GMS) yang menjadi jantung smartphone Android, Huawei pun kehilangan tajinya.

Alih-alih mampu mengkudeta Samsung, Huawei kini berada pada mode “bertahan hidup” di bisnis ini. Padahal, pada 2018 perusahaan mampu membukukan 208 juta pengiriman smartphone, menyumbang 48% dari total pendapatan perusahaan. Memberikan kontribusi lebih dari bisnis Huawei, selain sebagai penyedia jaringan telekomunikasi dan enterprise untuk pertama kalinya.

Meski target Huawei menjadi vendor ponsel nomor satu dunia telah pupus, namun dengan pencapaian gemilang yang dibukukan oleh Xiaomi, bukan tidak mungkin pada akhirnya perusahaan China mampu mengkudeta Samsung di posisi puncak.

Namun untuk menggapai posisi tersebut, sejatinya Xiaomi menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah potensi sanksi yang diberlakukan AS di masa depan. Mengingat AS saat ini semakin alergi dengan kemajuan yang diraih oleh perusahaan-perusahaan teknologi China.

Seperti diketahui, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, AS pernah memasukkan Xiaomi dalam daftar hitam pada akhir 2020. Seperti halnya Huawei dan ZTE, Trump menuduh Xiaomi sebagai perusahaan militer Komunis China. Daftar hitam itu, membuat individu dan perusahaan AS tidak bisa berinvestasi atau membeli saham Xiaomi.

Namun pada 25 Mei 2021, di bawah Presiden Joe Biden, AS mencabut keputusan tersebut. Keputusan tersebut disambut lega oleh Xiaomi. Vendor yang identik dengan warna jingga itu, menegaskan bahwa mereka adalah perusahaan yang transparan, diperdagangkan secara publik dan dikelola secara independen.

Selain persoalan geopopolitik, tantangan lain yang dihadapi Xiaomi adalah persoalan yang sama dihadapi oleh semua pabrikan gadget, yaitu  kekurangan chip di pasar global yang diprediksi masih akan bertahan hingga 2022 mendatang.

“Kenaikan harga semikonduktor merupakan tantangan bagi semua produsen,” kata presiden Xiaomi Wang Xiang dalam panggilan konferensi pada Maret 2021. Minimnya pasokan chip dapat berimbas pada kenaikan harga smartphone. Meski pasar dilanda kekurangan chip, Xiaomi tetap optimis dapat mengirimkan 200 juta unit smartphone pada akhir 2021.

Di sisi lain, pencapaian sebagai vendor nomor dua membuat Xiaomi tidak ingin terjebak pada euphoria berlebihan.  Namun Lei Jun, pendiri dan CEO, mengungkapkan bahwa pencapaian sebagai vendor nomor dua di dunia, menjadi tonggak penting dalam sejarah perusahaannya serta memastikan bisa mempertahankan posisinya saat ini.

“Meskipun perayaan sekarang, saya ingin memastikan kami bisa mempertahankan tempat kedua kami dengan mantap dan kokoh di masa depan,” ujarnya.

Lei Jun memang terlihat merendah, namun menurut Manajer riset Canalys, Ben Stanton, Xiaomi sejatinya telah mengincar target baru. Yakni menggeser Samsung dari puncak pimpinan.

“Semua vendor berjuang keras untuk mengamankan pasokan komponen di tengah kelangkaan global. Namun Xiaomi telah mengincar hadiah berikutnya: Menggantikan Samsung untuk jadi vendor terbesar di dunia,” kata Stanton dikutip dari CNNInternational, Jumat (23/7/2021).

Apakah Xiaomi dapat menuntaskan misi Huawei sebagai vendor ponsel nomor satu dunia? Ataukah Xiaomi justru akan bernasib sama dengan Huawei (karena kemungkinan pembatasan oleh AS yang tak ingin perusahaan China menguasai panggung dunia)? Waktu yang kelak membuktikan.

spot_img

Artikel Terbaru